Industri "Pengiriman Paket" ke Luar Angkasa Kian Berkembang

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Perusahaan antariksa terkemuka SpaceX tengah mengembangkan Starfall, wahana kargo khusus untuk mengirimkan barang dari Bumi ke luar angkasa dan sebaliknya. Berbeda dengan wahana kargo sebelumnya Dragon yang juga bisa digunakan untuk mengirimkan antariksawan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), Starfall didesain hanya untuk pengantaran barang secara rutin, cepat, dan terjangkau.

Pasar manufaktur komersial luar angkasa semakin berkembang. Secara sederhana, manufaktur di luar angkasa mengacu kepada segala proses pembuatan barang yang dilakukan di luar angkasa dan selanjutnya barang tersebut dapat digunakan di Bumi maupun di luar angkasa kembali. Proses ini memanfaatkan kondisi lingkungan luar angkasa yang memiliki gravitasi mikro, hampa udara atau vakum, dan energi Matahari yang melimpah yang sulit dilakukan di permukaan Bumi.

Peluang itu, diam-diam dilirik SpaceX dengan mengembangkan kapsul atau wahana kargo khusus Starfall. Dibanding wahana kargo Dragon, Starfall bisa lebih praktis, lebih cepat, dan tentu lebih murah dalam pengiriman barang antartitik yang melalui luar angkasa karena ukurannya yang jauh lebih kecil dan lebih simpel. Bukan hanya kargo, Starfall juga dikembangkan menjadi pabrik mini di luar angkasa dengan memanfaatkan lingungan unik luar angkasa.

Uji penerbangan Starfall itu dilakukan SpaceX pada Selasa (23/6/2026). Wahana itu diluncurkan menggunakan roket Falcon 9 dari Space Launch Complex 40 (SLC-40), Pangkalan Angkatan Antariksa Amerika Serikat Cape Canaveral di Florida, AS. Demo terbang itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa wahana tersebut bisa terbang secara terkontrol dan mampu bertahan dalam perjalanan kembali ke Bumi mengingat wahana pasti akan terbakar hebat saat menembus atmosfer Bumi.

Penerbangan demonstrasi itu, seperti dilaporkan Space.com, mengejutkan sejumlah penggemar antariksa karena SpaceX hanya sedikit mengungkapkan informasi tentang Starfall. Bahkan dalam siaran peluncuraannya, SpaceX hanya menayangkan acara tersebut di webnya sekitar 10 menit setelah lepas landas. Model siaran seperti ini biasanya dilakukan pada peluncuran yang memiliki kaitan erat dengan keamanan nasional.

Informasi detail tentang Starfall memang terbatas. Sumber informasi yang diperoleh pun umumnya dari sumber sekunder seperti laporan Badan Administrasi Penerbangan Federal (FAA) AS pada bulan Mei lalu yang menganalisis potensi dampak lingkungan dari dua uji masuk kembalinya Starfall ke atmosfer Bumi. Namun, tidak ada kejelasan dua uji masuk kembali ke atmosfer Bumi itu berlangsung kapan saja mengingat uji pada Selasa lalu juga tidak ada informasi jelas mengenai berapa unit Starfall yang diluncurkan dan masuk kembali ke atmosfer Bumi.

Baca JugaMenuju Era Pusat Data di Luar Angkasa

Berdasarkan dokumen FAA, Starfall adalah wahana luar angkasa yang berbentuk mirip cakram dengan tinggi 0,75 meter (m) dan diameter 3,1 m. Beratnya hanya 2.100 kilogram (kg) dan mampu membawa muatan hingga 1.000 kg. Wahana ini dapat diluncurkan menggunakan dua roket andalan SpaceX, yaitu Falcon 9 dan roket baru Starship yang disiapkan untuk membawa manusia ke Bulan dan Mars.

Material penyusun Starfall terdiri atas dua bagian, yaitu pelat bagian atas yang terbuat dari alumunium dengan berat 1.400 kg dan perisai panas dari serat karbon yang bisa dilepas. Ruang kargo dilindungi pelat atas memiliki ruang dengan volume 2,5 m x 1,5 m x 0,5 m. Ukuran ruang yang kecil ini membuat Starfall tidak bisa membawa manusia, hanya untuk mengirimkan barang.

Luar angkasa telah lama dilirik sebagai tempat produksi chip dan serat optik generasi berikutnya karena lebih efisien dibandingkan jika produksi dilakukan di Bumi.

Sebelumnya, SpaceX telah memiliki wahana luar angkasa yang melayani pengiriman orang dan barang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) secara rutin, yaitu Dragon. Wahana ini memiliki tinggi 4,5 m dan diameter 4 m. Dragon dapat membawa muatan ke orbit rendah Bumi hingga 6.000 kg dan pulang kembali ke Bumi dengan muatan sebesar 3.000 kg.

Selain itu, pembeda lainnya adalah Starfall tidak memiliki sistem propulsi atau mesin jet pendorong seperti wahana luar angkasa pada umumnya. Wahana ini hanya memiliki sistem kontrol yang memungkinkan Starfall untuk melakukan manuver kontrol kecil, seperti mengarahkan pelindung panas wahana ke arah yang tepat sehingga wahana bisa memasuki kembali atmosfer Bumi dengan aman.

Karena tidak memiliki sistem propulsi, Starfall tidak memiliki kemampuan untuk keluar dari orbit sendiri dan hanya dapat mengontrol orientasinya. Kapsul ini akan memasuki kembali atmosfer Bumi pada lintasan yang telah direncanakan sebelumnya dan mendarat di permukaan laut dengan bantuan parasut. Dari data FAA, uji Starfall pertama ini akan mendarat di Samudra Pasifik sekitar 1.300 km di lepas pantai barat AS. Setelah itu, Starfall dan muatannya akan diambil oleh kapal penyelamat.

Manufaktur

Pembuatan Starfall oleh SpaceX itu, lanjut laporan FAA, setidaknya memiliki dua tujuan, yaitu untuk pengiriman kargo penting dari satu titik ke titik lain secara cepat dengan melintasi luar angkasa. Selain itu, Starfall hadir untuk menciptakan pasar manufaktur komersial di luar angkasa yang mandiri dengan menawarkan akses ke lingkungan dengan gravitasi mikro dan hampa udara. Dengan proses manufaktur itu, maka muatan kargo akan diluncurkan dari Bumi, berdiam di orbit untuk beberapa waktu, dan kembali ke Bumi dengan aman.

Baca JugaDari Ekonomi Luar Angkasa ke Ekonomi Bulan

Luar angkasa makin dilirik untuk proses manufaktur karena memiliki banyak keunggulan yang sulit didapatkan selama proses tersebut dilakukan di Bumi. Luar angkasa telah lama dilirik sebagai tempat produksi chip dan serat optik generasi berikutnya karena lebih efisien dibandingkan jika produksi dilakukan di Bumi.

Dalam manufaktur semikonduktor di Bumi, seperti dikutip dari Wired.com, 6 Mei 2025, salah satu proses penting yang harus dilakukan adalah menumbuhkan kristal. Di Bumi, teknisi akan mengambil kristal benih silikon dengan kemurnian tinggi yang berukuran kecil dan mencelupkannya ke dalam silikon cair untuk mendapatkan kristal silikon berkualitas tinggi berukuran lebih besar. Kristal silikon besar itu bisa diiris hingga disusun membentuk wafer yang digunakan dalam komponen elektronik.

Proses penumbuhan kristal itu di Bumi bisa memunculkan pengotor sebagai konsekuensi dari keberadaan gaya gravitasi Bumi. Akibatnya, seperti disampaikan pimpinan eksekutif tertinggi Space Forge, perusahaan antariksa asal Inggris, Joshua Western, sulit untuk mendapatkan kristal benih silikon yang murni. Manufaktur proses ini di luar angkasa akan menghasilkan wafer yang jauh lebih murni.

Selain itu, perusahaan China saat ini juga tengah mengambangkan paduan logam (alloy) niobium untuk mendukung penerbangan hipersonik. Proses uji dilakukan di Stasiun Luar Angkasa China Tiangong. Dikutip dari South China Morning Post, 9 Januari 2025, bilah mesin turbofan yang terbuat dari paduan niobium-silikon mampu bertahan pada suhu lebih dari 1.700 derajat celsius. Paduan niobium-silikon itu juga lebih ringan dari pada paduan nikel atau titanium yang digunakan saat ini. Mesin pesawat yang terbuat dari material baru ini diyakini mampu mencapai kecepatan dan efisiensi yang jauh lebih tinggi dibanding mesin yang ada sekarang.

Selain produksi material maju, manufaktur di luar angkasa juga bisa dimanfaatkan untuk memproduksi produksi farmasi dengan formulasi canggih yang lebih murni dan stabil. Lingkungan dengan gravitasi mikro juga bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkan organ tertentu guna mendukung program transplantasi organ yang makin dibutuhkan ke depan.

Persaingan

Sejatinya, SpaceX bukanlah satu-satunya perusahaan yang tengah mengincar pasar manufaktur luar angkasa ini. Sejumlah perusahaan luar angkasa lain, seperti Varda Space Industries dan Outpost Technologies Corporation, juga tengah mengembangkan wahana serupa, bahkan sebagian telah melayani manufaktur luar angkasa.

Baca JugaIndustri Wisata Luar Angkasa Dimulai

Perusahaan luar angkasa Varda Space Industries yang berpusat di El Segundo, California AS telah meluncurkan dan mendaratkan sejumlah wahana luar angkasa ‘seri W’ yang dirancang untuk menjadi pabrik mini yang mengorbit Bumi, sekaligus wahana yang membawa pulang produk tersebut ke Bumi. Wahana ‘seri W’ itu memiliki berat 300 kg.

Mei lalu, Varda Space Industries baru menyelesaikan pemrosesan manufaktur farmasi di orbit dan kembali ke Bumi dengan selamat. Kapsul W-6 yang digunakan berhasil masuk kembali ke atmosfer Bumi dengan kecepatan hipersonik dan mendarat dengan selamat di wilayah Koonibba Test Range, Australia Selatan. Ini adalah proses masuk kembali ke atmosfer Bumi kedua yang dilakukan perusahaan itu sepanjang tahun 2026.

Perusahaan lain yang juga mengembangkan wahana dengan tujuan sama adalah Outpost Technologies Corporation yang juga bermarkas di California, AS. Perusahaan ini tengah mengembangkan serangkaian wahana ‘CarryAll’ yang mampu membawa muatan ke Bumi. Wahana ini ditargetkan dapat jatuh di mana pun di permukaan Bumi dengan ketepatan jarak jatuh mencapai 25 m saja.

Wahana terbesar mereka CarryAll Block 3 mampu menurunkan muatan yang sangat besar dari luar angkasa hingga 10.000 kg dan dimensi 33 meter kubik. Muatan CarryAll Block 3 itu dua kali lebih besar dari muatan wahana seri sebelumnya CarryAll Block 2 dan 50 kali lebih banyak dibanding muatan yang mampu dibawa oleh CarryAll Block 1.

Pengelola Outpost Space di situs webnya menegaskan bahwa salah satu seri wahana CarryAll Block 3 akan menjadi wahana unggulan untuk manufaktur dan pergudangan luar angkasa, pengembalian ke Bumi, ketahanan militer, hingga bantuan kemanusiaan.

Dalam ceruk pasar ini, SpaceX mungkin pendatang baru dalam industri pengangkutan dan manufaktur luar angkasa. Kehadiran Starfall juga tidak menciptakan terobosan baru. Namun dengan berbagai keunggulan yang dimiliki, SpaceX bisa menjadi pemain utama dalam industri pengiriman barang pergi pulang dari Bumi ke orbit rendah Bumi.

Baca JugaIndustri Satelit, Industri Masa Depan

Modal dan sumber daya SpaceX cukup melimpah mengingat saat ini, SpaceX manjadi pemain utama peluncuran berbagai wahana ke orbit rendah Bumi. Sepanjang 2025, Falcon telah meluncur ke luar angkasa sebanyak 165 kali atau rata-rata dua hari sekali ada peluncuran ke luar angkasa. Sedangkan roket raksasa Starship ditargetkan bisa meluncur ke luar angkasa ribuan kali dalam setahun saat kendaraan tersebut beroperasi penuh.

Karena itu, SpaceX semestinya tidak banyak kesulitan untuk mengirimkan ratusan wahana Starfall ke luar angkasa dan kembali ke Bumi untuk mengirimkan obat-obatan dan barang-barang bernilai tinggi lainnya kepada para pelanggan di seluruh dunia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ramalan Cinta 12 Zodiak Besok 28 Juni 2026: Libra Makin Romantis, Pisces Hubungan Harmonis
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo Sebut Tahu Dalang Aksi Demonstrasi, Pengamat Beri Tanggapan | KOMPAS PAGI
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Gerindra Belum Bahas Dua Periode Prabowo-Gibran, Prasetyo Hadi: Masih Banyak Pekerjaan
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Besar di Bali, Kakak Beradik Lahir di Australia Mengadu ke Menkum Ingin Jadi WNI
• 21 jam lalukumparan.com
thumb
Siksa Yuvita Bertahun-tahun, Taufik Hidayat Dicecar Habis di Depan Polisi: Kenapa Tega Banget?
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.