Saat Gibran ”Napak Tilas” Jejak Jokowi ke Bagian Timur Indonesia

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Tanpa joki, Wakil Presiden Gibran Rakabuming memacu sendiri sepeda motor listrik menyusuri jalan beton di Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, Minggu (21/6/2026). Warga yang memadati sisi kanan dan kiri jalan bersorak-sorai menyapanya. Banyak dari mereka merekam momen itu dari kamera ponsel masing-masing sembari memancarkan wajah yang semringah.

Tak berselang lama, Gibran tiba di titik pertama dari rangkaian agenda kunjungan kerjanya, yakni Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat. Tarian tradisional nan rancak menyambut kedatangannya yang hari itu tampil mengenakan ikat kepala khas Asmat dan tas noken. Gibran lalu diantar sejumlah pastor dari Gereja Katedral Salib Suci Agats untuk berkeliling ke museum yang memamerkan warisan sejarah dan budaya Asmat dalam wujud ukiran hingga patung.

Namun, bukan cuma benda-benda berunsur budaya yang dipamerkan museum itu. Salah satu sudut museum turut memajang sebuah sepeda motor listrik berwarna merah dan putih bernomor polisi RI I. Di negara ini, nomor polisi itu hanya bisa digunakan seseorang yang menjabat presiden. Gibran pun digiring pemandu museum untuk menuju ke titik itu didampingi Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo dan pastor Gereja Katedral Salib Suci Agats, Yulius Hirnawan Christyanto OSC.

Rupanya, sepeda motor listrik itu pernah digunakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, atau Jokowi, yang juga ayah kandung Gibran, sewaktu berkunjung ke Asmat, pada 2018. Ketika itu, Jokowi datang bersama istrinya, Iriana, yang juga diboncengnya dengan sepeda motor listrik tersebut.

Dalam kunjungannya itu, Jokowi menjanjikan komitmen pemerintah untuk terus membangun infrastruktur di Papua guna mengatasi berbagai permasalahan, seperti gizi anak, pendidikan, transportasi, dan kesehatan.

Momen kedatangan Jokowi itu disaksikan Thomas yang kala itu masih menjabat Wakil Bupati Asmat. Ia menyatakan, komitmen pemerintah untuk mewujudkan pembangunan di wilayah-wilayah terpencil benar-benar dijalankan. Hanya berjarak setahun dari kunjungan Jokowi, sebagian besar jalan daerah yang semula berupa jembatan kayu dibangun menjadi jalan beton.

Baca JugaPresiden Jokowi Dinobatkan sebagai Panglima Perang Asmat

Sebagai bentuk timbal balik, masyarakat adat menobatkan Jokowi sebagai Panglima Perang Asmat. Penobatan itu ditandai dengan pemberian sebuah dayung Asmat sepanjang 3 meter yang menjadi simbol penerimaan gelar yang disebut Cesmaipit. Pemberian gelar merupakan bentuk pengharapan masyarakat Asmat kepada Jokowi, yang ketika itu memimpin negeri ini agar membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, sejahtera, bersatu, dan aman (Kompas, 12/4/2018).

BPMI SEKRETARIAT PRESIDEN/LAILY RACHEV

DOKUMENTASI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN

”Dampak kunjungan Bapak Presiden itu luar biasa. Itu sebabnya sampai sekarang ingatan warga Asmat terhadap Pak Jokowi luar biasa,” ujar Thomas kepada Gibran.

Baca JugaDi Balik Kunjungan Wapres Gibran, dari Pisau Pedagang yang Disita sampai Makan Siang Paling Enak

Thomas merasa tersanjung atas kunjungan sosok pejabat sebesar Jokowi ketika itu. Pasalnya, daerah tempat tinggalnya itu belum pernah didatangi pejabat negara sejak dimekarkan pada 2003. Jokowi adalah pejabat negara pertama yang melakukannya. Ternyata, enam tahun kemudian putra sulung Jokowi, Gibran, melanjutkannya menjadi wakil presiden pertama yang berkunjung ke daerah terpencil itu.

”Bapak Jokowi memang tidak ada duanya. Lalu, wakil presiden pertama yang menginjakkan kaki ke Asmat adalah Bapak Gibran. Yang lainnya belum. Terima kasih, Bapak Gibran,” kata Thomas.

Sehari sebelumnya, Sabtu (20/6/2026) malam, Gibran juga mereka ulang adegan lain yang menjadi kebiasaan sang ayah sewaktu menjabat presiden, yakni membagikan sepeda. Adegan itu terjadi sewaktu ia membuka Pesta Paduan Suara Gerejawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat.

Baca Juga”Sepeda Presiden”, Ikon Jokowi Saat Memimpin dalam Karya Sinematografi...

Di sela-sela sambutannya, Gibran memanggil sejumlah peserta acara untuk maju ke panggung. Ada lima orang, terdiri dari tiga anak-anak dan dua remaja, yang akhirnya memberanikan diri. 

Gibran lalu menanyai nama mereka masing-masing dan apa yang mereka lakukan dalam kejuaraan itu. Jawabannya bermacam-macam. Ada yang ikut beradu suara, bermain musik, menari, hingga sebatas meramaikan pawai. Lantas, sebagian saja yang diminta menampilkan bakatnya di hadapan Gibran. 

”Ini yang kecil-kecil (anak-anak) saya kasih sepeda, ya. Mau sepeda? Kamu bisa naik sepeda? Ini sepedanya besar-besar, lho,” kata Gibran kepada salah seorang anak.

Anak-anak itu mengangguk sembari tersipu. Gibran pun mempersilakan tiga orang anak itu memilih sepedanya masing-masing. Dengan semringah, anak-anak itu mengambil dan mendorong sepedanya turun dari panggung.

Dua orang remaja yang tersisa di panggung diberi masing-masing satu hadiah berbeda, yaitu kibor dan gitar. Ternyata, mereka kebetulan juga bisa memainkan alat musik itu. 

Lho, kok bisa pas banget, ya? Ini satu-satu, ya. Semoga menang, ya. Terima kasih, terima kasih,” ucap Gibran diiringi tepuk tangan hadirin lainnya.

Baca JugaKembangkan Ekonomi Kreatif, Gibran Sebut Ambon Bisa Mencontoh Surakarta

Asmat dan Manokwari termasuk bagian dari rangkaian kunjungan Gibran ke wilayah timur Indonesia yang berlangsung sejak Kamis (18/6/2026). Titik pertama yang didatangi tergolong jauh, yakni Ende di Nusa Tenggara Timur. Untuk menjangkau wilayah itu, Gibran harus berpindah ke pesawat yang lebih kecil.

Di Ende, Gibran meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, mengecek sekolah dasar yang dikabarkan sebagian bangunannya dihancurkan demi proyek Koperasi Desa Merah Putih, hingga revitalisasi pasar. Dari satu titik ke titik lain, Gibran selalu menyempatkan diri melayani kerumunan orang yang selalu muncul hampir di semua lokasi kunjungan.

Alih-alih menghindar, ia memilih untuk berinteraksi walaupun sekadar berjabat tangan dan meladeni swafoto. Barisan pengawalnya sering kali kewalahan menahan kerumunan orang yang berdesakan untuk mendekat, tetapi Gibran terus saja melayani permintaan warga sambil meninjau lapangan.

Selain mengamankan, sebagian pengawal lainnya berjalan mengikuti Gibran sambil membawa kardus karton berisi buku dan alat tulis. Sembari Gibran menyapa warga, para pengawal itu membagi-bagikan barang tersebut kepada anak-anak yang berada dalam kerumunan itu.

Untuk orang dewasa, ada juga pengawal yang membagi-bagikan kaus oblong. Sering kali aksi bagi-bagi buku hingga kaus oblong itu terjadi secara tiba-tiba gegara Gibran melihat kerumunan warga di tengah perjalanannya dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Baca JugaParade Ironi dari SD Wolomoni

Aksi berbagi juga dilakukan Gibran setibanya di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo, Jumat (19/6/2026). Menjelang tahun ajaran baru sekolah, ia mengajak sekitar 100 anak-anak dari panti asuhan di daerah itu untuk berbelanja barang-barang kebutuhan sekolah senilai Rp 500.000 untuk setiap anak. Agenda itu diadakan sehari sebelum undangan utamanya, yaitu pembukaan Pekan Nasional Petani Nelayan XVII, Sabtu.

”Jarang-jarang saya bisa belanja keperluan sekolah seperti ini. Sekalinya, ada kesempatan, bisa dibelikan Wapres. Jadi, saya sangat senang,” kata Silfana Putri Mamu (12), anak dari Panti Asuhan Safaz’Ain, Gorontalo.

Dihubungi terpisah, peneliti senior dari Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Lili Romli mengungkapkan, sederet aksi Gibran itu seakan mereplikasi apa yang selama ini dilakukan ayahnya, Jokowi. Itu menjadi bagian dari gaya politik populisme dan pencitraan. Dengan gaya itu, seorang politisi berharap akan mempunyai citra sebagai sosok yang baik dan peduli terhadap rakyat kecil.

Menurut Lili, gaya politik semacam itu masih cukup laris guna menarik simpati sebagian besar masyarakat. Namun, ia mengingatkan, politik populisme sering kali sekadar menjadi panggung pencitraan para elite.

Baca JugaKejutan Saat Presiden Jokowi Bertemu ”Joko Widodo” dan Kisah Soekarno-Soeharto Menyelinap...

Ada kecenderungan pendekatan politik serupa diteruskan oleh seorang politisi semata-mata demi mempertahankan kekuasaan. Seolah-olah rakyat dibuat lupa dengan kedekatan antara elite politik dan akar rumput, lalu melupakan berbagai masalah utama yang dihadapi warga sehari-hari.

”Gaya seperti itu dilakukan karena memang tujuannya untuk melanggengkan kekuasaan. Bukan genuine memiliki gaya tersebut. Jadi, sengaja dilakukan untuk menarik simpati dan dukungan publik,” kata Lili. 

Rangkaian perjalanan Gibran menuju wilayah timur Indonesia seolah menampilkan keberlanjutan warisan populisme politik dari Jokowi. Interaksi sederhana itu telah menyuguhkan kegembiraan bagi sebagian warga meski hanya sejenak. Sesudahnya, para warga kembali menghadapi realitas kehidupan yang serba berat sambil berharap para elite politiknya bekerja serius untuk mengentaskan mereka. 





Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Analis: Jokowi Berkepentingan agar PSI dan Gibran Tetap Signifikan Jelang 2029
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi Tangkap Pelaku Penganiayaan Caddy Golf di Tangerang
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Fakta yang Ditutupi Pentagon: Pangkalan AS Porak-poranda Dibombardir Iran Menurut Investigasi Media
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Mengupayakan titik seimbang demi menjaga kontribusi industri tembakau
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
MilkLife Soccer Challenge Tambah 3 Kota untuk Edisi 2026/27
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.