Bisnis.com, SOLO - Tengah viral isu bahwa hubungan Prabowo Subianto dan Joko Widodo sedang tidak baik-baik saja, bahkan disebut pecah kongsi.
Namun, pengamat politik Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto, menilai hingga kini belum ada tanda-tanda konflik terbuka yang mengarah pada dugaan pecah kongsi di antara keduanya.
"Saya melihat arah ke konflik itu [pecah kongsi] belum begitu tampak sebenarnya. Belum ada konflik terbuka yang menyangkut ini," tutur Agus saat dimintai tanggapan Espos mengenai isu pecah kongsi elite politik, khususnya Prabowo dan Jokowi, Jumat (26/6/2026).
Menurut pengamat politik Agus, perbedaan kepentingan menjelang Pemilu 2029 berpotensi memicu ketegangan di kalangan elite politik.
Salah satu isu yang dinilai paling mungkin menjadi sumber perbedaan adalah penentuan calon wakil presiden yang akan mendampingi Prabowo Subianto pada pemilihan mendatang.
Agus menilai Presiden ke-7 RI Joko Widodo kemungkinan masih menginginkan putranya, Gibran Rakabuming Raka, kembali maju sebagai calon wakil presiden. Sementara itu, Prabowo bisa saja memiliki pilihan politik yang berbeda.
Baca Juga
- Roy Suryo dan Tifa Segera Diadili, Jokowi Siap Hadir dan Tunjukkan Ijazah Disidang
- Kabinet Prabowo Pikul PR Integrasi Jaringan Irigasi Jokowi
- Respons Gibran soal Roy Suryo Ditahan Polisi di Kasus Ijazah Jokowi
"Kan itu yang dipersoalkan sebenarnya. Ujung dari potensi konflik ya itu. Kalau memang berbeda ya besar kemungkinan akan ada konflik itu," ujar dia.
Meski demikian, Agus menegaskan safari politik Jokowi yang diawali dari Lampung belum bisa dijadikan indikator adanya keretakan hubungan dengan Prabowo.
Menurutnya, kegiatan tersebut justru menunjukkan adanya ruang yang diberikan Prabowo kepada Jokowi untuk memperkuat basis dukungan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang kini dipimpin Kaesang Pangarep.
"Saya kira itu wajar. Justru sebenarnya Pak Prabowo memberi kesempatan Pak Jokowi untuk membesarkan partai putranya, PSI, untuk bertemu dengan konstituen politiknya. Buat saya ini bukan konflik, tapi memperkuat kesempatan PSI menjadi bagian dari kekuasaan 2029. Pecah kongsi saya tidak begitu melihat ke arah sana," kata dia.
Agus juga menilai posisi Gibran dapat menjadi indikator sederhana untuk melihat apakah hubungan Jokowi dan Prabowo benar-benar bermasalah. Selama Gibran tetap menjalankan tugas sebagai wakil presiden tanpa hambatan, ia meyakini isu keretakan hanya sebatas spekulasi politik.
"Ciri sederhananya adalah kalau sampai hari ini Gibran masih baik-baik saja, duduk manis. Itu artinya tidak ada apa-apa. Itu semua itu hanya gimik politik sebenarnya. Kecuali kalau Gibran diusik-usik, apakah kegiatannya dipersoalkan, programnya dimasalahkan, dan lain-lain. Sampai hari ini baik-baik saja itu. Artinya semua baik-baik saja," papar dia.





