Bisnis.com, JAKARTA — Produsen otomotif mewah, Mercedes-Benz, memicu ketegangan dengan serikat pekerja di Jerman setelah muncul laporan mengenai rencana penundaan pembayaran bonus tahunan serta usulan perpanjangan jam kerja tanpa adanya kompensasi upah tambahan bagi puluhan ribu karyawannya.
Langkah efisiensi ekstrem ini diambil oleh manajemen guna mendongkrak kembali daya saing perusahaan di tengah merosotnya performa bisnis global secara drastis.
Dikutip dari Carscoops, Sabtu (27/6/2026) Mercedes memutuskan untuk menangguhkan bonus bulanan yang sejatinya merupakan komponen resmi dari kesepakatan gaji bersama. Nilai insentif yang dipotong tersebut tidak main-main, yakni mencapai 18% dari total upah bulanan pekerja.
Dana insentif yang semula dijadwalkan cair pada Juli tahun ini dilaporkan bakal tertunda hingga tahun depan. Kebijakan sepihak ini berdampak langsung pada sekitar 90.000 karyawan di Jerman, di mana manajemen disebut mengambil keputusan tersebut tanpa melalui proses konsultasi terlebih dahulu dengan perwakilan serikat pekerja korporasi.
Kondisi kerja kian memberatkan lantaran perusahaan juga tengah menimbang opsi untuk mengubah skema waktu kerja dari 35 jam menjadi 40 jam per minggu.
Ironisnya, penambahan jam kerja tersebut direncanakan berjalan tanpa adanya bayaran tambahan. Skema ini secara akumulatif memaksa para buruh pabrik bekerja ekstra sekitar 260 jam per tahun secara cuma-cuma demi menekan beban operasional manufaktur.
Baca Juga
- Mercedes-AMG Segarkan GLE 63 S dan GLS 63, Tetap Andalkan Mesin V8
- Penjualan Mercedes-Benz Bus Melonjak 36,9% Terkerek Permintaan Armada Premium
- Logo Bintang Merah Penghormatan Mercedes untuk Legenda F1 Niki Lauda
Rencana pemangkasan hak ini langsung mendapat penolakan keras dari internal organisasi pekerja.
Ketua Dewan Pekerja Mercedes, Ergun Lümali, menilai strategi tersebut keliru dan tidak akan menyelesaikan akar permasalahan yang sedang dihadapi oleh korporasi.
“Ini bukanlah konsep yang meyakinkan untuk masa depan,” ujar Ergun saat mengkritik keras gagasan bahwa perusahaan dapat meningkatkan daya saing pasar hanya dengan memaksa karyawan bekerja lebih lama tanpa dibayar.
Menurutnya, Mercedes saat ini jauh lebih membutuhkan inovasi, lini produk yang atraktif, serta tenaga kerja yang terampil daripada sekadar memeras keringat karyawannya.
Sama seperti produsen otomotif global lainnya, Mercedes sedang berjuang menghadapi tantangan pasar yang bertubi-tubi, mulai dari pengenaan tarif dagang, melambatnya permintaan mobil listrik (EV), hingga lesunya penjualan di pasar utama seperti China.
Tekanan pasar ini tercermin langsung dalam laporan keuangan perusahaan. Pada tahun 2025, laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) yang disesuaikan pada lini Mercedes-Benz Cars anjlok dari 8,7 miliar euro menjadi 4,8 miliar euro. Sementara itu, pendapatan operasional bersih secara keseluruhan untuk skala grup juga merosot tajam dari 13,7 miliar euro menjadi 8,2 miliar euro.




