Menelusuri Arsip dan Jejak Karya Oesman Effendi

kompas.id
10 jam lalu
Cover Berita

Memeriahkan Ulang Tahun Ke-499 Jakarta, Museum dan Cagar Budaya Unit Galeri Nasional Indonesia berkolaborasi dengan OE Foundation menghadirkan sosok yang berkontribusi besar dalam menghidupkan atmosfer kesenian di Jakarta, Oesman Effendi, atau yang lebih dikenal sebagai OE, dalam Pameran Oesman Effendi (1919-1985) Arsip dan Karya di Gedung B Galeri Nasional.

Pameran ini menyajikan karya-karya seni lukis abstrak, sketsa, arsip, dan latar kehidupan OE dari koleksi keluarga serta pengakuan berbagai pihak atas pencapaian OE di bidang seni.

Menurut para kurator pameran, Aminudin TH Siregar, Citra Smara Dewi, dan Karamina Puspitasari, di tengah polarisasi seni rupa Indonesia antara realisme sosial Yogyakarta dan akademisme formalis Bandung pada dekade 1950-1970-an, Jakarta muncul sebagai ruang liminal yang memungkinkan pencarian bentuk-bentuk artistik yang lebih terbuka. Dalam konteks inilah OE menempati posisi penting dalam merintis seni lukis abstrak di Jakarta.

Bagi OE, abstraksi bukanlah semata-mata mengadopsi modernisme Barat, melainkan upaya untuk menciptakan bahasa visual yang berakar pada pengalaman batin. Gagasan ini termanifestasi dalam konsep ”Kesan Dalam”, yakni proses ketika pengalaman, ingatan, dan persepsi sensoris diregistrasi oleh kesadaran seniman sebelum dihadirkan kembali sebagai ekspresi visual. Dengan demikian, lukisan bukan sekadar tiruan realitas, melainkan rekonstruksi pengalaman yang telah diolah secara intuitif dan personal.

Pameran ini berupaya menempatkan kembali OE dalam historiografi seni rupa modern Indonesia: bukan hanya sebagai pelukis abstrak, melainkan juga sebagai pemikir yang menjembatani modernisme internasional dengan pengalaman artistik budaya Nusantara. Melalui pembacaan ulang atas konsep ”Kesan Dalam”, satu di antara yang utama selain menampilkan arsip, lukisan batik kontemporer dan sejumlah karya cukilan kayu, pameran ini membuka ruang untuk memahami kontribusi intelektual OE yang selama ini belum sepenuhnya memperoleh perhatian yang layak.

Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Estiyanti Nurjadin menegaskan, ”Penting untuk kembali menghadirkan sosok OE yang berperan besar dalam membentuk lanskap kebudayaan dan kesenian Indonesia. Pameran ini menjadi bagian dari upaya pelestarian memori kebudayaan bangsa, sekaligus membuka ruang apresiasi dan pembacaan kritis terhadap warisan pemikiran serta praktik artistik OE. Pameran ini dapat menjadi media bagi publik untuk lebih mengenal OE serta menginspirasi generasi masa kini untuk terus merawat semangat kreativitas.”

Melalui karya-karyanya, OE merumuskan gagasan tentang ”Wajah Keindonesiaan” yang tidak bertumpu pada simbol-simbol tradisional atau citra eksotis, tetapi pada transformasi nilai-nilai budaya lokal ke dalam bahasa visual modern. Sejalan dengan falsafah Minangkabau, alam takambang jadi guru, identitas visual Indonesia dipahami sebagai pertemuan dinamis antara tradisi dan modernitas, serta pengalaman kolektif dan kebebasan individu.

Pameran ini menampilkan beberapa seri, seperti potret dengan pastel. Pastel tergolong medium seni yang jarang digunakan dan dihindari oleh seniman karena jika kualitasnya kurang baik dari bahan kapur akan rontok dan karyanya hilang. Saat itu pastel oil based impor yang berkualitas bagus masih jarang.

Karya lain adalah seri lanskap Nusantara hasil OE merasakan kesan dalam dalam setiap lukisannya. Seri lanskap ini menampilkan distorsi-distorsi dari obyek seperti perahu. Warna-warna komplementer yang haram untuk dikontraskan justru dipilih OE untuk ditabrakkan. Pakem-pakem warna barat tidak terlalu dipedulikan OE, bukan sekadar sikap resistensi, tetapi karena ingin keluar dari bayang-bayang pedoman seni dari barat tersebut.

Seri lainnya dalam pameran tersebut juga menampilkan hasil studi OE tentang Candi Borobudur. OE mempelajari gestur dari relief Candi Borobudur yang membawa pesan tentang bagaimana orang masa lalu membangun kesenirupaan. Relief-tersebut menjadi petunjuk dari garis-garis, irama, gerak. Studi tentang Borobudur ini kemudian turut memengaruhi kelenturan OE menarik garis dalam lukisannya.

Ruang batik menyajikan karya yang belum pernah dipamerkan sebelumnya. Batik menjadi medium bagi seniman seperti OE untuk bereksperimen melalui khazanah warisan budaya bangsa. Eksperimen seniman zaman OE dalam batik ini untuk menguji apakah batik yang dilukis di kanvas pada masa itu akan menjadi modern atau tradisi dan ia ingin merasakan ambiguitas tersebut. Eksperimen batik OE ini menjadi bagian dari proposal yang coba ditawarkan kepada generasi pada masa itu untuk mencari keindonesiaan.

Arsip-arsip yang ditampilkan antara lain sketsa-sketsa, surat-surat, sertifikat pengakuan dari Italia, kartu pos, album foto, dan lukisan karya Wakidi, teman karibnya sesama pelukis. Arsip-arsip yang ditampilkan ini menunjukkan bagaimana OE menghargai masa lalunya.

Arsip sertifikat desainer dari Akademi Seniman di Firenze, Italia.

Arsip kartu anggota Dewan Kesenian Jakarta Oesman Effendi

Arsip foto-foto Oesman Effendi.

Koleksi lain yang ditampilkan adalah hasil desain uang OE yang dibuat di Belanda. OE mendapatkan mandat untuk merancang Oeang Republik Indonesia (ORI) atau uang kertas pecahan Rp 100 dan Rp 50 pada tahun 1951. Perjalanan OE ke Belanda dengan menumpang pesawat KLM untuk memenuhi mandat pada waktu itu telah menjadi pemberitaan besar koran-koran masa nasional.

Perjalanan artistik OE memperlihatkan bahwa perubahan bentuk bukan sekadar persoalan gaya, melainkan juga persoalan pemikiran. Pada karya-karya awal, alam, manusia, dan hewan masih hadir sebagai obyek yang dapat dikenali.

Namun, pada 1950-1960-an, OE mulai mempertanyakan fungsi representasi itu sendiri: misalnya, apakah lukisan harus menjelaskan dunia, atau justru membuka kemungkinan cara lain untuk mengalaminya? Dalam proses tersebut, OE secara sadar menanggalkan rincian yang dianggap tidak esensial.

Baginya, penyederhanaan bentuk bukanlah pengurangan. la ingin menemukan struktur terdalam dari pengalaman visual sehingga alam, manusia, hewan, dan tumbuhan tidak lagi tampil sebagai citra yang utuh. Semua itu dia nilai sebagai ritme garis, hubungan bidang, dan energi warna.

OE tidak mencari kemiripan dengan obyek. Lebih jauh, ia ingin memasuki intensitas pengalaman yang melampaui obyek itu sendiri. Sikap ini berlangsung seiring dengan upaya seni rupa Indonesia pascakemerdekaan untuk menemukan bahasanya sendiri.

Karena itu, pencarian bentuk dalam karya-karyanya dapat dibaca sebagai pencarian Indonesia: sebuah identitas yang tidak pernah selesai, terus bergerak, dan selalu terbuka untuk dirumuskan kembali.

Karya-karya seni grafis Oesman Effendi (OE) lahir dari perenungan tentang relasi antara manusia, alam, dan kehidupan sehari-hari. Berangkat dari penghayatan terhadap lingkungan kosmis dan realitas masyarakat lokal, OE mengembangkan bahasa visual yang mencerminkan pencarian eksistensial, kesunyian, dan kebebasan batin. Di tengah polarisasi seni dan politik Indonesıa pada dekade 1960-an, karya-karyanya menunjukkan keteguhan sikap dalam mempertahankan otonomi kreativitas serta kemerdekaan nurani seniman.

Pilihan OE terhadap medium seni grafis, khususnya lino cut di atas kertas, merupakan bagian dari sikap estetik tersebut. Teknik cukil manual menghadirkan tekstur kasar, permukaan berpori, dan ritme timbul-tenggelam yang menegaskan jejak tubuh serta kerja tangan seniman.

Bagi OE, kualitas material ini menjadi pernyataan tentang spontanitas, proses, dan keotentikan ekspresi manusia. Di tengah dominasi seni lukis dan patung, seni grafis menjadi ruang alternatif untuk merayakan vitalitas kerja tangan dan pengalaman material secara langsung.

Pameran Oesman Effendi (1919-1985) Arsip dan Karya dapat dikunjungi publik mulai 27 Juni hingga 6 September 2026 di Gedung B lantai 1 Galeri Nasional Indonesia.

Baca JugaMenelaah Ekologi Kekaryaan Zaini dengan Menyibak Kabut
Baca Juga”Wall of Jakarta”: Media Ekspresi, Kolaborasi, dan Silaturahmi Seniman Urban



Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Peralihan ke Energi Baru dan Terbarukan Dinilai Jadi Keharusan Strategis untuk Kurangi Ketergantungan Impor Energi
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Kronologi Pria Gelantungan di Truk Dipukul Palu hingga Jatuh, Bermula Senggolan di Cibubur
• 56 menit lalukompas.com
thumb
Ciri Kepribadian Si Morning Person
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Tiba-tiba Menhub Dudy Minta Warga Green Line Sabar, Kenapa?
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
BSI Surabaya Catat Pertumbuhan Bisnis Emas Capai 92 Persen
• 8 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.