Seratus pelajar dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Surabaya mengikuti Suara Surabaya Academy (SSA) bertajuk “Ngomong Terus” yang digelar dalam rangkaian peringatan 43 Tahun Suara Surabaya Media di SS Center, Surabaya, Sabtu (27/6/2026).
Widya Safitri Bagian Kurikulum SSA mengatakan bahwa dalam kegiatan tersebut menghadirkan dua sesi, yakni sesi pertama membahas public speaking yang dibawakan oleh tim SSA, sementara sesi kedua mengangkat materi personal branding yang diisi oleh tim dari UK Petra.
Ia menjelaskan, materi personal branding sengaja dipadukan dengan public speaking karena keduanya memiliki keterkaitan erat. Menurutnya, kemampuan berbicara di depan publik saja tidak cukup tanpa identitas atau karakter yang kuat.
“Kalau bicara public speaking, kita tampil di depan publik. Tapi sekarang ada kebutuhan untuk mengenali karakter diri dan karakter seperti apa yang ingin dimunculkan sebagai seorang public speaker,” kata Widya yang juga pemateri sesi public speaking kepada suarasurabaya.net.
Peserta Suara Surabaya Academy (SSA) bertajuk “Ngomong Terus” yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-43 SS Media di SS Center, Surabaya, pada Sabtu (27/6/2026). Foto: Risky suarasurabaya.netIa menilai seorang pembicara yang baik tidak hanya dituntut piawai menyampaikan gagasan, tetapi juga harus memiliki ciri khas yang membuatnya mudah dikenali.
Widya juga menyoroti perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang kini semakin memengaruhi berbagai bidang, termasuk komunikasi.
Menurutnya, AI dapat menjadi alat bantu yang mempermudah proses persiapan seorang public speaker maupun penyusunan strategi personal branding. Meski demikian, ia menegaskan AI tidak bisa menggantikan kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang.
“AI bisa membantu dalam merumuskan strategi, tapi ilmunya tetap harus kita punya. Skill menjadi good public speaker dan bagaimana membangun personal branding tetap harus dikuasai,” ucapnya.
Sementara itu, Felicia Goenawan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya menekankan pentingnya personal branding. Menurutnya, personal branding bukan sekadar meniru citra orang lain, melainkan mengenali dan menonjolkan karakter unik yang dimiliki masing-masing individu.
Felicia menilai, di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI, personal branding menjadi semakin penting, karena AI mampu membantu banyak pekerjaan, namun tidak dapat menggantikan karakter dan keunikan seseorang.
Felicia Goenawan Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya saat mengisi materi personal branding dalam kegiatan “Ngomong Terus” yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-43 SS Media di SS Center, Surabaya, pada Sabtu (27/6/2026). Foto: Risky suarasurabaya.netIa menjelaskan, seseorang yang tidak memiliki identitas atau ciri khas yang kuat akan lebih mudah dilupakan. Sebaliknya, karakter personal yang autentik dapat menjadi nilai tambah yang tidak bisa digantikan teknologi.
“Karakter atau personal seseorang itu tidak bisa digantikan AI. Tetapi AI bisa digunakan sebagai alat bantu untuk memperkuat personal branding,” ujarnya.
Bagi pelajar usia SMP hingga SMA, proses membangun personal branding menurutnya masih sangat dinamis. Pada fase tersebut, mereka berada dalam tahap mencari karakter, lingkungan yang sesuai, serta potensi diri yang paling kuat.
Menurutnya, masa sekolah menjadi periode eksplorasi untuk menemukan identitas yang paling cocok dengan komunitas yang dijalani. Sementara saat memasuki dunia perkuliahan dan kerja, personal branding seseorang akan mulai terbentuk lebih kuat dan konsisten.
Program “Ngomong Terus”, kata dia, berupaya membantu generasi muda mengenali dan menampilkan versi terbaik dari dirinya.
Kunci utama menjaga konsistensi personal branding, lanjutnya, adalah kejujuran terhadap diri sendiri. Ia menyarankan agar seseorang tidak membangun citra yang dibuat-buat, karena hal itu justru sulit dipertahankan dalam jangka panjang.
“Dalam kegiatan ini, kita membantu mereka untuk bisa konsisten. Caranya bagaimana? Just be you. Be you-nya itu kita pilih gitu ya. Teman-teman itu pilih mana yang paling mereka itu bisa menjalani dengan sesuatu yang paling mereka suka. Jadi, bukan berpura-pura di depan,” ucapnya.
Secara psikologis, personal branding yang dibangun dengan kepura-puraan menurutnya akan terlihat tidak konsisten atau plin-plan. Sebaliknya, ketika seseorang menampilkan hal yang benar-benar disukai dan sesuai dengan dirinya, konsistensi akan lebih mudah dijaga, baik di kehidupan nyata maupun di media sosial.
“Harapannya, semoga teman-teman dari generasi muda ini bisa menjadi generasi penerus bangsa yang bukan hanya sekadar ikut aliran air saja, tapi bisa speak out dan jadi seseorang yang bisa menjadi berkat buat orang-orang lain gitu,” pungkasnya.(ris/bil)




