Seminggu setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani perjanjian damai sementara, pasar energi global mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Harga minyak mentah internasional telah kembali ke tingkat sebelum pecahnya konflik. Namun, para analis menilai bahwa perang AS-Iran telah beralih dari konflik militer ke fase pemantauan gencatan senjata. Perubahan paling penting adalah dibukanya kembali pelayaran di Selat Hormuz. Meski harga minyak mulai turun, konflik AS-Iran belum benar-benar berakhir dan risiko di Selat Hormuz juga belum sepenuhnya hilang.
EtIndonesia.com Data menunjukkan bahwa sejak AS dan Iran mencapai kesepakatan dan Selat Hormuz dibuka kembali, lebih dari 20 kapal tanker minyak telah berhasil melintasi selat tersebut, dengan total ekspor sekitar 35 juta barel minyak mentah.
Akibat perkembangan ini, pada Rabu (24 Juni), harga minyak mentah internasional turun sekitar 4%. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat bahkan untuk pertama kalinya sejak awal Maret turun di bawah 70 dolar AS per barel, hampir kembali ke tingkat sebelum pecahnya konflik AS-Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap laju penurunan harga bensin yang dianggapnya masih terlalu lambat. Ia juga menuduh perusahaan-perusahaan minyak besar memanfaatkan situasi untuk menaikkan harga dan meraup keuntungan berlebihan.
Namun, perhatian utama pasar saat ini adalah apakah pemulihan sektor energi dan penurunan harga minyak tersebut dapat bertahan.
“Sebelumnya, kekhawatiran terbesar pasar adalah kemungkinan Iran menutup jalur pelayaran sehingga minyak Timur Tengah tidak dapat diekspor dan memicu lonjakan harga minyak dunia,” kata Chen Wenjia, penasihat khusus sebuah lembaga pemikir strategi Indo-Pasifik.
“Kini kapal-kapal tanker kembali melintas dan minyak yang sempat tertahan mulai mengalir ke rantai pasokan, sehingga tekanan berkurang secara signifikan. Itulah sebabnya harga minyak turun kembali ke tingkat sebelum perang,” katanya.
“Ini menunjukkan bahwa penurunan harga bukan karena Timur Tengah benar-benar damai, melainkan karena pasar mulai menghapus premi risiko perang yang sebelumnya diperhitungkan,” lanjutnya.
Saat ini, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai perjanjian damai permanen masih berlangsung dan diperkirakan membutuhkan beberapa minggu lagi sebelum situasinya menjadi lebih jelas.
Chen Wenjia menambahkan: “Ke depan, hubungan AS-Iran akan memasuki tahap di mana negosiasi berjalan bersamaan dengan tekanan politik. Iran juga perlu memulihkan ekspor energinya untuk mengurangi tekanan ekonomi dan fiskal di dalam negeri.”
“Oleh karena itu, dalam jangka pendek kemungkinan pecahnya perang besar kembali memang menurun, tetapi kondisi gencatan senjata masih sangat rapuh. Tantangan sesungguhnya justru ada di depan, termasuk persoalan pelonggaran sanksi terhadap program nuklir Iran, kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, dan apakah Iran akan berupaya menetapkan syarat-syarat tertentu bagi kapal yang melintas.”
Para analis memperkirakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak akan berjalan sepenuhnya mulus. Angkatan Laut Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis mengeluarkan peringatan bahwa kapal-kapal harus melewati rute yang telah ditentukan, jika tidak maka tindakan akan diambil.
Lebih lanjut, para analis berpendapat bahwa perang antara Amerika Serikat dan Iran belum benar-benar berakhir, melainkan hanya bergeser dari konflik bersenjata menjadi persaingan politik dan energi melalui meja perundingan.
“Pada akhirnya, semuanya bergantung pada apakah AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan. Jika negosiasi gagal, masih menjadi tanda tanya apakah Iran akan mengambil langkah-langkah tertentu dan apakah militer AS akan kembali melakukan tindakan pembatasan terhadap Iran. Semua itu masih merupakan variabel yang belum pasti,” ujar pengamat politik Li Linyi.
Selain faktor geopolitik, prospek permintaan minyak dunia juga menjadi perhatian. Khususnya di Tiongkok, salah satu pengimpor minyak mentah terbesar di dunia, pertumbuhan ekonomi yang melambat dalam beberapa tahun terakhir menyebabkan laju pertumbuhan konsumsi minyak ikut menurun. Karena itu, sekalipun pasokan dari Timur Tengah pulih sepenuhnya, kondisi tersebut dapat terus membatasi kenaikan harga minyak internasional.
Laporan ini berdasarkan wawancara dan liputan reporter New Tang Dynasty Television, Chen Yue dan Chang Chun.





