Dokter di NTT Bunuh Diri, Diduga Depresi akibat Intimidasi 3 Anggota DPRD

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS — Seorang dokter berusia 28 tahun sempat mengalami depresi selama beberapa hari kemudian memutuskan bunuh diri. Depresi berat dialaminya akibat terintimidasi oleh rombongan anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.

Intimidasi di rumah sakit RS Leona Kefamenanu itu terjadi ketika korban berusaha menyelamatkan pasien gigitan ular. Karena tertekan mendapatkan intimidasi, dokter tersebut akhirnya mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Sang dokter ditemukan tewas di rumahnya sendiri di Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, pada Jumat (26/6/2026) petang. Informasi yang dihimpun dari internal kepolisian menyebutkan peristiwa tersebut murni bunuh diri.

Jenazah korban sempat dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Tidak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Pihak keluarga menolak dilakukan otopsi. Jenazah korban saat ini disemayamkan di rumah korban.

Pihak keluarga pun menginformasi perihal tersebut seraya menegaskan dugaan mengenai penyebab kematian korban. "Tekanan bersama tiga orang sekaligus dengan dengungkan jabatan mereka sebagai anggota DPRD," kata Viktor Manbait, keluarga korban lewat pesan singkat pada Sabtu (27/6/2026) pagi.

Saat ini keluarga masih berduka dan belum mengambil sikap selanjutnya pascakematian korban. Namun, pihak keluarga sudah mengadukan dugaan intimidasi tersebut kepada pimpinan dan dewan kehormatan di DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara.

Lalu, bagaimana sebenarnya peristiwa intimidasi itu terjadi?

Menurut Viktor, intimasi itu terjadi pada 13 Juni 2026 sekitar pukul 17.00 Wita. Kala itu, seorang pasien laki-laki berusia 20 tahun dengan riwayat gigitan ular datang ke IGD RS Leona dengan membawa surat rujukan dari RSUD Kefamenanu.

Korban melakukan pemeriksaan medis, konsultasi dengan dokter spesialis, dan dokter terkait, serta mempertimbangkan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan sebelumnya di RSUD Kefamenanu. Pasien itu didiagnosis sebagai kasus gigitan ular fase lokal.

Berdasarkan pertimbangan medis yang berlaku, pasien direkomendasikan menjalani observasi dan terapi suportif tanpa pemberian antibisa ular. Tidak ditemukan indikasi medis yang mengharuskan pemberian antibisa.

Serial Artikel

DPRD NTT Terima Tunjangan Rumah dan Mobil Rp 41,4 Miliar Per Tahun

Untuk tunjangan rumah, anggaran naik hampir 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi di tengah efisiensi anggaran.

Baca Artikel

Seluruh hasil pemeriksaan, hasil konsultasi, kondisi pasien, dan dasar pertimbangan medis telah dijelaskan dokter kepada pasien dan keluarganya secara terbuka dan profesional.

Namun, bebera orang yang menjenguk pasien di rumah sakit menyampaikan protes dengan nada tinggi. Mereka memaksa sang dokter memberikan obat antibisa kepada pasien. Dokter berkukuh bahwa sesuai prosedur medis, tidak perlu antibisa karena gigitan ular masih dalam fase lokal.

Karena tidak terima atas penjelasan sang dokter, ketiga anggota dewan tersebut marah-marah. Mereka pun mengancaamnya. "Panggil wartawan, panggil wartawan," teriak salah satu anggota DPRD.

Anggota yang lain menimpali, "Ingat ya wajah saya. Saya anggota DPRD Komisi III yang membawahi dinas kesehatan".

Tiga anggota dewan tersebut adalah Veronika Lake, Trenz Lazakar, dan Robert Tubani yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara. Dengan nada ancaman, mereka menekan korban.

Akibatnya, korban mengalami tekanan psikologis berat. Ia merasa terintimidasi, tertekan secara verbal, dan merasa profesionalitas serta kehormatannya sebagai tenaga kesehatan direndahkan. Dan itu terjadi di hadapan rekan kerja, pasien lain, dan masyarakat yang berada di lokasi kejadian.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia Kabupaten Timor Tengah Utara Sondang Herikson Panjaitan mengatakan, prosedur yang dilakukan oleh korban sudah tepat sebagaimana penelusuran yang dilakukan IDI. Sondang juga memuji keteguhan korban dengan tidak mengikuti paksaan para anggota DPRD dimaksud.

Korban berhasil menangani pasien dengan baik. "Dan terbukti, pasien tersebut dalam kondisi sehat sampai hari ini. Kami sangat menyayangkan apa yang sudah dilakukan olah para anggota dewan yang terhormat itu," kata Sondang.

Setelah kejadian itu, korban mengalami depresiasi hingga jatuh sakit dan menjalani perawatan di RS Leona Kefamenanu selama satu pekan. Korban kemudian memilih berisitirahat di rumahnya di Kabupaten Kupang yang berjarak sekitar 250 kilometer dari Kefamenanu. Di rumahnya, korban pun mengakhiri hidupnya.

Kompas mencoba menghubungi nomor kontak ketiga anggota anggota DPRD yang diduga melakukan intimidasi itu. Namun hingga kini belum tersambung.

Kompas lalu menghubungi Ketua DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara Kristoforus Efi. Ia menyampaikan duka yang mendalam atas kematian sang dokter. Ia mengaku sempat menemui korban sehari setelah kejadian di rumah sakit.

Serial Artikel

Dokter di 3T: Kompetensi, Kebutuhan, dan Kebersamaan demi Indonesia Sehat

Kritik dan kekhawatiran adalah bagian penting dari peningkatan mutu. Namun, jangan biarkan kekhawatiran itu menghalangi solusi yang dibutuhkan masyarakat.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terduga Penganiaya Caddy Golf di Modern Golf Tangerang yang Viral Ditangkap!
• 18 jam laludetik.com
thumb
USGS Prediksi Gempa Susulan M6,0 Kembali Terjadi di Venezuela Sepekan ke Depan
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Lima Korban SPPI dan Momentum Membenahi Program Bela Negara bagi Sipil
• 51 menit lalurctiplus.com
thumb
Gilas Norwegia, Prancis Kunci Juara Grup I
• 11 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Bupati Gowa Tolak Pansus Hak Angket Bahas Ranah Privasi
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.