Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat ekosistem kebudayaan dan regenerasi Reog Ponorogo menyusul keberhasilan Tim Kesenian Kyai Lodra meraih Juara Umum Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI.
"Keberhasilan tim kesenian Kyai Lodra menjadi bukti nyata kesenian tradisi Jawa Timur tetap memiliki daya tarik, relevansi dan kualitas terbaiknya di tengah dinamika zaman. Tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus bertransformasi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi ruhnya," ujarnya di Surabaya, Sabtu.
Khofifah menegaskan, prestasi Tim Kesenian Kyai Lodra yang membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan Kabupaten Ponorogo, tetapi juga seluruh masyarakat Jawa Timur.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kesenian tradisional mampu terus berkembang, beradaptasi, dan tetap unggul di tengah perubahan zaman.
Ia mengatakan Reog Ponorogo bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan identitas budaya Jawa Timur yang sarat nilai keberanian, ketangguhan, gotong royong, kreativitas, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.
Baca juga: Festival Reog Ponorogo kembali masuk Kalender Event Nasional 2026
Karena itu, Khofifah menilai pelestarian Reog harus terus diperkuat melalui pembinaan, regenerasi, serta pemberian ruang kreativitas bagi para seniman, khususnya generasi muda, agar kesenian tradisional tetap hidup dan dicintai lintas generasi.
Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, budaya tradisional justru dinilai memiliki peran strategis sebagai penanda jati diri bangsa sekaligus sumber pembentukan karakter masyarakat.
"Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui upaya menjaga warisan yang telah ada. Kita juga harus membuka ruang yang luas bagi kreativitas, inovasi, dan regenerasi agar budaya tetap relevan, dicintai, dan mampu menjawab tantangan zaman," tegasnya.
Lebih lanjut, Khofifah mengajak pemerintah, seniman, akademisi, komunitas budaya, hingga masyarakat untuk terus memperkuat ekosistem kebudayaan.
Menurutnya, budaya bukan hanya aset warisan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak pembangunan daerah, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
"Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat ekosistem kebudayaan, memperluas ruang-ruang kreativitas bagi generasi muda serta menjadikan budaya sebagai kekuatan karakter sekaligus kekuatan pembangunan daerah," katanya.
Baca juga: Reog Sekolah Rakyat Ponorogo raih penghargaan Piala Presiden 2026
Khofifah berharap prestasi Tim Kyai Lodra dapat menjadi motivasi bagi seluruh pelaku seni budaya di Jawa Timur untuk terus berkarya, berkolaborasi, dan berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisi.
"Mari kita jaga, lestarikan, dan wariskan semangat Reog kepada generasi penerus. Karena di dalamnya tersimpan jati diri, karakter, serta kebanggaan Jawa Timur yang akan terus menguatkan Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kesenian Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemprov Jatim, khususnya Gubernur Khofifah dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, yang selama ini memberikan pembinaan dan fasilitasi kepada para pelaku seni.
Ia menjelaskan, selain meraih gelar Juara Umum Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI, Tim Kyai Lodra juga berhasil meraih penghargaan Penyaji Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan Penata Tari Terbaik.
"Alhamdulillah kami berhasil meraih juara umum sekaligus memperoleh penghargaan penyaji terbaik, penata musik terbaik, penata tari terbaik. Prestasi ini merupakan buah dari kerja keras seluruh tim peserta dan juga pastinya dukungan dari berbagai pihak," katanya.
Joko berharap Reog Ponorogo terus berkembang sebagai ruang pengabdian para seniman, budayawan, akademisi, dan generasi muda dalam menjaga, mengembangkan, serta memajukan seni budaya Indonesia sebagai warisan bernilai luhur dan mendunia.
Baca juga: Upaya perlindungan Reog Ponorogo perlu ditingkatkan
"Keberhasilan tim kesenian Kyai Lodra menjadi bukti nyata kesenian tradisi Jawa Timur tetap memiliki daya tarik, relevansi dan kualitas terbaiknya di tengah dinamika zaman. Tradisi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus bertransformasi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang menjadi ruhnya," ujarnya di Surabaya, Sabtu.
Khofifah menegaskan, prestasi Tim Kesenian Kyai Lodra yang membawa pulang Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia tidak hanya menjadi kebanggaan Kabupaten Ponorogo, tetapi juga seluruh masyarakat Jawa Timur.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan kesenian tradisional mampu terus berkembang, beradaptasi, dan tetap unggul di tengah perubahan zaman.
Ia mengatakan Reog Ponorogo bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan identitas budaya Jawa Timur yang sarat nilai keberanian, ketangguhan, gotong royong, kreativitas, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.
Baca juga: Festival Reog Ponorogo kembali masuk Kalender Event Nasional 2026
Karena itu, Khofifah menilai pelestarian Reog harus terus diperkuat melalui pembinaan, regenerasi, serta pemberian ruang kreativitas bagi para seniman, khususnya generasi muda, agar kesenian tradisional tetap hidup dan dicintai lintas generasi.
Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi, budaya tradisional justru dinilai memiliki peran strategis sebagai penanda jati diri bangsa sekaligus sumber pembentukan karakter masyarakat.
"Pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui upaya menjaga warisan yang telah ada. Kita juga harus membuka ruang yang luas bagi kreativitas, inovasi, dan regenerasi agar budaya tetap relevan, dicintai, dan mampu menjawab tantangan zaman," tegasnya.
Lebih lanjut, Khofifah mengajak pemerintah, seniman, akademisi, komunitas budaya, hingga masyarakat untuk terus memperkuat ekosistem kebudayaan.
Menurutnya, budaya bukan hanya aset warisan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai penggerak pembangunan daerah, pariwisata, dan ekonomi kreatif.
"Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat ekosistem kebudayaan, memperluas ruang-ruang kreativitas bagi generasi muda serta menjadikan budaya sebagai kekuatan karakter sekaligus kekuatan pembangunan daerah," katanya.
Baca juga: Reog Sekolah Rakyat Ponorogo raih penghargaan Piala Presiden 2026
Khofifah berharap prestasi Tim Kyai Lodra dapat menjadi motivasi bagi seluruh pelaku seni budaya di Jawa Timur untuk terus berkarya, berkolaborasi, dan berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisi.
"Mari kita jaga, lestarikan, dan wariskan semangat Reog kepada generasi penerus. Karena di dalamnya tersimpan jati diri, karakter, serta kebanggaan Jawa Timur yang akan terus menguatkan Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kesenian Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemprov Jatim, khususnya Gubernur Khofifah dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, yang selama ini memberikan pembinaan dan fasilitasi kepada para pelaku seni.
Ia menjelaskan, selain meraih gelar Juara Umum Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI, Tim Kyai Lodra juga berhasil meraih penghargaan Penyaji Terbaik, Penata Musik Terbaik, dan Penata Tari Terbaik.
"Alhamdulillah kami berhasil meraih juara umum sekaligus memperoleh penghargaan penyaji terbaik, penata musik terbaik, penata tari terbaik. Prestasi ini merupakan buah dari kerja keras seluruh tim peserta dan juga pastinya dukungan dari berbagai pihak," katanya.
Joko berharap Reog Ponorogo terus berkembang sebagai ruang pengabdian para seniman, budayawan, akademisi, dan generasi muda dalam menjaga, mengembangkan, serta memajukan seni budaya Indonesia sebagai warisan bernilai luhur dan mendunia.
Baca juga: Upaya perlindungan Reog Ponorogo perlu ditingkatkan





