Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan Mayjen Ketut mengungkap kronologi sekaligus riwayat medis lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) yang meninggal dunia saat mengikuti pendidikan dasar.
Ketut mengatakan, setiap peserta memiliki kondisi kesehatan dan penyebab kematian yang berbeda-beda.
"Kelima peserta tersebut memiliki karakter dan kondisi medis yang berbeda-beda. Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan," kata Ketut dalam konferensi pers di Kemhan RI, Jakarta, Sabtu (27/6).
Ia menjelaskan, sebelum mengikuti pendidikan, seluruh peserta telah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.
"Dan seluruh peserta sebelumnya telah melalui pemeriksaan kesehatan seperti laboratorium darah, urine, tes kehamilan, rontgen toraks, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, dan kesehatan jiwa," ujarnya.
Peserta pertama meninggal akibat henti jantung
Ketut menjelaskan, peserta pertama yang meninggal adalah almarhum Yonanda Muhammad Taufik dari Satdik Pusdiklatpur Kodiklatad Baturaja.
Pada Rabu (17/6), sekitar pukul 16.00 WIB, almarhum mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan dengan berjalan kaki bersama peserta lainnya.
Sekitar pukul 17.17 WIB, pelatih menemukan almarhum mengalami penurunan kesadaran. Tim kesehatan segera melakukan evakuasi ke pos kesehatan satuan sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit dr. Noesmir Baturaja.
Meski telah mendapat penanganan intensif, almarhum dinyatakan meninggal dunia pukul 18.33 WIB.
"Berdasarkan diagnosis dokter, penyebab kematian adalah cardiac arrest atau henti jantung," ujar Ketut.
Peserta kedua mengalami heat stroke
Korban kedua adalah almarhumah Anisya Musyarofah dari Satdik Dodik Kejuruan Rindam VI/Mulawarman Balikpapan.
Pada Kamis (18/6), sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, almarhumah mengeluhkan sesak napas dan mual sehingga langsung dibawa ke Pos Kesehatan Dodikjur sebelum dirujuk ke Rumah Sakit dr. R. Hardjanto Balikpapan.
Meski mendapatkan perawatan, kondisi korban terus memburuk hingga dokter menyatakan meninggal dunia pukul 19.00 WITA.
"Berdasarkan keterangan medis, penyebab kematian adalah heat stroke," jelasnya.
Peserta ketiga didiagnosis infeksi paru
Korban ketiga yakni Novia Ramadani Sitorus dari Satdik Pusbahasa Kodiklat Angkatan Udara.
Pada Senin (22/6), korban datang ke unit kesehatan dengan keluhan batuk berdahak, sesak napas, dan demam. Setelah sempat menjalani terapi, keesokan harinya kondisinya memburuk dan dirujuk ke RSAU dr. Esnawan Antariksa.
Hasil pemeriksaan menunjukkan korban mengalami tuberkulosis paru aktif sehingga menjalani perawatan di ICU isolasi.
Meski telah dilakukan resusitasi jantung paru saat kondisinya menurun, korban dinyatakan meninggal dunia.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, almarhumah meninggal dunia akibat tuberkulosis," kata Ketut.
Namun, Tim Kesehatan (Puskes TNI) Letkol CKM Dr. Ikhsan menegaskan bahwa korban bukan mengidap penyakit TBC, melainkan Pneumonia atau infeksi paru.
Peserta keempat alami pneumonia disertai komplikasi
Korban keempat adalah Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yonparako 465 Halim Perdanakusuma.
Pada Kamis (25/6), Rifki datang ke ruang kesehatan dengan keluhan sesak napas dan lemas. Setelah sempat membaik usai mendapat terapi oksigen, keluhan kembali muncul pada sore hari sehingga langsung dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Esnawan Antariksa.
Di rumah sakit, Rifki menjalani berbagai pemeriksaan hingga mendapatkan perawatan di ICU. Namun kondisinya terus memburuk dan dinyatakan meninggal dunia pada Jumat dini hari.
"Berdasarkan resume medis dan laporan khusus, penyebab kematian berkaitan dengan pneumonia atau infeksi paru-paru yang disertai komplikasi medis," ujar Ketut.
Ia menambahkan, hasil evaluasi medis juga menemukan adanya riwayat hipertensi dan obesitas pada peserta tersebut.
"Dalam riwayat kesehatan juga terdapat informasi mengenai hipertensi dan obesitas yang menjadi bagian dari evaluasi medis," katanya.
Peserta kelima sempat alami sesak napas
Korban terakhir adalah Nola Dya Sari dari Satdik Dodik Bela Negara Kalimantan.
Ketut menjelaskan, pada Jumat (26/6), almarhumah masih mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas tanpa keluhan kesehatan.
Namun pada malam harinya, korban mengeluhkan sesak napas disertai badan terasa panas sehingga segera dirujuk ke rumah sakit.
Saat menjalani penanganan lanjutan di RSUD Abdul Aziz Singkawang, korban mengalami henti jantung. Tim medis sempat melakukan resusitasi jantung dan tindakan kardioversi, tetapi nyawanya tidak tertolong.
"Sebelum mengikuti pendidikan, yang bersangkutan telah melalui tahapan seleksi kesehatan, seluruhnya dinyatakan memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku, dengan catatan kelebihan berat badan. Saat ini, hasil evaluasi medis terus didalami untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi yang dialami," tutup Ketut.
Berikut 5 nama calon manajer kopdes yang wafat saat diklatsar:
1. Yonanda Muhammad Taufiq
2. Anisa Muyassaroh
3. Novia Rahmadhani Sihotang
4. Muhammad Rifki Renaldi Gunawan
5. Nola Dya Sari





