VIVA – CEO Manchester United (MU), Omar Berrada, akhirnya angkat bicara soal penyebab pemecatan Ruben Amorim. Ternyata, keputusan tersebut bukan diambil pada kemampuan melatih ataupun kualitas taktik yang dimilikinya.
Berrada menilai pelatih asal Portugal itu justru terlalu kaku dalam mempertahankan filosofi bermainnya. Sikap tersebut dianggap menjadi faktor yang membuat Amorim kesulitan mengangkat performa MU selama menangani tim.
Amorim datang ke Old Trafford pada pertengahan musim setelah manajemen memutuskan mengakhiri kerja sama dengan Erik ten Hag pada Oktober 2024. Saat itu, MU bahkan harus membayar kompensasi sekitar 10 juta poundsterling kepada Sporting Lisbon demi memboyong pelatih berusia 41 tahun tersebut.
Selama membesut Sporting Lisbon, Amorim dikenal sukses berkat penerapan formasi 3-4-3 yang menjadi ciri khasnya. Namun ketika menangani Man United, ia tetap mempertahankan sistem tersebut meski skuad yang dimiliki dinilai belum ideal untuk menjalankannya secara maksimal.
- REUTERS/Phil Noble
Bahkan di tengah kritik yang terus berdatangan, Amorim tetap bergeming. Ia sebelumnya sempat menegaskan lebih memilih mempertahankan keyakinannya dibanding mengubah identitas permainan yang telah membawanya meraih kesuksesan di Portugal.
Setan Merah sebenarnya memberikan dukungan penuh kepada Amorim pada bursa transfer musim panas. Klub menggelontorkan dana lebih dari 200 juta poundsterling untuk mendatangkan sejumlah pemain baru sesuai kebutuhan sang pelatih.
Namun investasi besar tersebut gagal membuahkan hasil yang diharapkan. Masa kepelatihan Amorim berakhir pada Januari setelah MU hanya bermain imbang 1-1 melawan Leeds United.
Usai pertandingan tersebut, Amorim juga sempat melontarkan kritik terhadap struktur kerja di dalam klub. Ia menilai kewenangan yang dimiliki sebagai pelatih tidak sepenuhnya mendukung proses pembangunan tim.
- REUTERS/Phil Noble
Dalam sebuah acara Financial Times Weekend Festival di New York, Omar Berrada akhirnya buka suara mengenai penyebab kegagalan Amorim. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan berasal dari kemampuan melatih sang pelatih asal Portugal.
"Bukan taktik atau bakat. Pelatih datang di tengah musim tanpa persiapan pramusim, dan di bawah pengawasan ketat, dia terlalu berpegang teguh pada idenya tepat pada saat adaptasi sangat penting.+," kata Berrada dikutip dari Mirror.




