NASA menangkap citra gelombang air hangat raksasa yang tengah bergerak melintasi Samudra Pasifik seiring fenomena El Niño yang kini semakin kuat. Citra satelit menunjukkan fenomena ini berpotensi menjadi salah satu peristiwa El Niño terkuat yang pernah tercatat.
Fenomena tersebut dikenal sebagai gelombang Kelvin (Kelvin wave), yakni gelombang di permukaan laut dengan ketinggian di atas rata-rata yang membentang ratusan kilometer di sepanjang garis khatulistiwa. Anomali ini dipicu oleh massa air yang lebih hangat dari biasanya, kondisi yang identik dengan El Niño, fase hangat dari siklus iklim alami yang memengaruhi pola cuaca global.
Satelit Sentinel-6 Michael Freilich menangkap perubahan tinggi permukaan laut tersebut pada 8 Juni. Dalam visual satelit, area berwarna merah menunjukkan permukaan laut yang lebih tinggi dari normal, sedangkan area biru menandakan permukaan laut yang lebih rendah.
Satelit Sentinel-6 Michael Freilich sendiri dikembangkan dan diluncurkan pada 2020 oleh NASA bersama Badan Antariksa Eropa (ESA), serta dioperasikan oleh Organisasi Eropa untuk Eksploitasi Satelit Meteorologi (EUMETSAT). Sentinel-6 mampu mengukur perubahan ketinggian permukaan laut hingga pecahan inci setiap 10 hari.
Data tersebut melengkapi pengamatan suhu permukaan laut yang dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan perairan Pasifik menghangat dengan laju yang belum pernah terjadi sebelumnya. Temuan itu menjadi salah satu dasar ilmuwan menetapkan dimulainya El Niño baru pada 11 Juni.
Ketika air laut menghangat, volumenya ikut mengembang dan membutuhkan ruang lebih besar. Dampaknya, permukaan laut naik relatif terhadap posisi satelit dan pusat Bumi, perubahan yang kemudian dideteksi instrumen sensitif di Sentinel-6. Di beberapa titik sepanjang garis khatulistiwa, permukaan laut kini tercatat lebih tinggi lebih dari 15 sentimeter dibanding kondisi normal.
Apa Itu Gelombang Kelvin?Gelombang Kelvin seperti ini terbentuk ketika angin di Pasifik barat dekat khatulistiwa melemah dan sementara berbalik arah, bertiup dari barat ke timur, bukan sebaliknya.
Perubahan arah angin memungkinkan air hangat menumpuk secara perlahan di bagian timur Pasifik. Akibatnya, lapisan air hangat di permukaan menjadi semakin tebal dan menghambat naiknya air dingin dari lapisan bawah laut.
Saat ini, gelombang tersebut dilaporkan sudah mencapai pesisir barat Amerika Selatan. Sebelumnya, NASA juga sempat mendeteksi beberapa gelombang Kelvin lain sepanjang tahun ini, yang menjadi sinyal awal kemunculan El Niño.
Pada Januari, Sentinel-6 menemukan gelombang Kelvin di sekitar Mikronesia yang kemudian melemah pada pertengahan Februari. Gelombang berikutnya muncul pada Maret dan menyebabkan kenaikan muka laut di wilayah Peru pada pertengahan Mei.
Perubahan suhu maupun ketinggian permukaan laut dapat mengubah pola sirkulasi atmosfer dan berdampak langsung pada cuaca global. Secara umum, El Niño cenderung meningkatkan curah hujan di wilayah barat daya Amerika Serikat, Kolombia, Peru, dan Ekuador. Sebaliknya, wilayah Pasifik barat biasanya mengalami penurunan curah hujan.
El Niño sebelumnya yang berlangsung dari Juni 2023 hingga April 2024 turut mendorong kenaikan suhu rata-rata global, menjadikan 2024 sebagai tahun terpanas dalam catatan sejarah dan tahun pertama yang melampaui ambang pemanasan 1,5 derajat Celsius, batas yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris untuk mencegah dampak perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Menurut pernyataan NASA, kondisi Pasifik barat pada 8 Juni tahun ini memiliki kemiripan dengan situasi pada 1997, ketika terjadi salah satu El Niño terkuat dalam sejarah. Meski jumlah gelombang Kelvin yang muncul tahun ini masih lebih sedikit dibanding 1997, para peneliti menilai El Niño saat ini masih terus berkembang.
“Untuk saat ini, tampaknya ini akan menjadi El Niño yang besar, bahkan lebih besar dari perkiraan saya minggu lalu. Namun kami masih membutuhkan lebih banyak pengamatan untuk mengetahui bagaimana perkembangan akhirnya,” kata Severine Fournier, peneliti muka laut dari Jet Propulsion Laboratory NASA.





