"Khawatir Aset Dicatat, Nanti Pajaknya Naik" Saat Petugas Sensus Ekonomi Data Warga

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com – Pagi itu, suasana Cluster Roseville di Kota Deltamas, Kelurahan Pasirranji, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, tampak tenang.

Deretan rumah modern berdiri rapi di balik sistem one gate system, sementara jalan lingkungan terlihat lengang karena sebagian besar penghuninya telah berangkat bekerja.

Di tengah suasana tersebut, Kompas.com berkesempatan mengikuti pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 (SE26) pada Jumat (26/6/2026), mendampingi dua petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bekasi, Garnis dan Fery Virgiawan.

Hari itu, mereka datang bukan untuk menarik pajak ataupun menawarkan program bantuan pemerintah, melainkan menjalankan Sensus Ekonomi 2026 (SE26) yang berlangsung sejak 15 Juni hingga 31 Agustus 2026.

Baca juga: Gak Boleh, Privasi! Petugas Sensus Ekonomi 2026 Dimarahi Warga saat Tanya Gaji

Pendataan tersebut diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memotret kondisi perekonomian masyarakat Indonesia dan menjadi dasar penyusunan berbagai kebijakan pemerintah.

Dengan mengenakan rompi hitam berlis oranye bertuliskan Sensus Ekonomi 2026, kartu identitas resmi di dada, serta membawa map berisi surat tugas, alat tulis, dan stiker sensus, memulai pekerjaan mereka.

Namun, sebelum bisa bertemu warga, mereka lebih dulu harus melewati proses panjang.

Mereka harus berkoordinasi dengan ketua RT, pengurus lingkungan, hingga membuat janji dengan penghuni rumah yang akan didata.

Setiap rumah yang didatangi diawali dengan cara yang sama.

Mulai dari petugas mengetuk pintu, memperkenalkan diri, menunjukkan kartu identitas serta surat tugas resmi dari BPS, kemudian menjelaskan tujuan kedatangannya.

Setelah warga bersedia, barulah proses pendataan dimulai.

Satu per satu pertanyaan diajukan, mulai dari identitas dasar anggota keluarga, kondisi pekerjaan, kepemilikan usaha, pendapatan, aset, pengeluaran rumah tangga, hingga penggunaan teknologi dalam kegiatan ekonomi.

Baca juga: Sensus Ekonomi 2026 Kerap Ditolak, BPS Tegaskan Data Bukan untuk Pajak

Sesekali warga berhenti sejenak untuk mengingat besaran pengeluaran listrik, jumlah aset, ataupun penghasilan usaha mereka.

Petugas pun tidak terburu-buru. Mereka sabar menjelaskan setiap pertanyaan, memastikan jawaban dipahami responden, lalu kembali mencocokkannya dengan data yang telah tersimpan dalam aplikasi sensus.

Usai seluruh data selesai diisi, petugas memeriksa kembali setiap isian agar tidak ada informasi yang terlewat.

Setelah itu, barulah sebuah stiker bertuliskan Sensus Ekonomi 2026 ditempel di rumah sebagai penanda bahwa pendataan telah selesai dilakukan.

Fery, petugas sensus yang bergabung sejak 2022 itu mengatakan tantangan di kawasan elite berbeda dengan wilayah perkampungan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Kalau di perumahan, tantangannya lebih kepada kekhawatiran warga terhadap pajak," ujar Fery saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
CEO MU Akhirnya Angkat Bicara Soal Pemecatan Ruben Amorim, Ternyata Bukan Urusan Taktik
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Tender 300 Bus Listrik TransJakarta Berpotensi Dongkrak Kinerja VKTR
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Messi Tak Jadi Starter di Argentina vs Yordania, Scaloni Ungkap Alasannya
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Jangan Anggap Sepele, Kesepian Bisa Bahayakan Otak Seperti Halnya Merokok
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
FIFA Sebut Jumlah Penonton Piala Dunia 2026 Tembus 3,6 Juta, Jadi Rekor Sepanjang Sejarah
• 14 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.