Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berharap Selat Hormuz dapat kembali beroperasi seperti sebelum konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu ketegangan di kawasan.
Jalur pelayaran strategis tersebut dinilai memiliki peran vital bagi stabilitas perdagangan dan distribusi energi dunia.
Harapan itu disampaikan Stephane Dujarric selaku juru bicara Antonio Guterres Sekretaris Jenderal PBB dalam konferensi pers harian pada Jumat (26/6/2026).
Menanggapi pertanyaan mengenai kondisi Selat Hormuz pascakonflik, Dujarric mengatakan jalur pelayaran tersebut sebelumnya berfungsi secara normal sehingga PBB optimistis situasi serupa dapat kembali terwujud.
“Saya pikir kita harus tetap bertekad. Selat Hormuz, sebelum konflik ini pecah, sebenarnya berfungsi dengan baik, bukan? Jadi, kita tahu selat itu dapat berfungsi, dan kita harus kembali ke kondisi itu,” ujar Dujarric dilansir dari Antara.
PBB juga menyambut baik penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran yang turut memuat pembahasan mengenai Selat Hormuz.
Organisasi internasional itu berharap seluruh pihak mematuhi komitmen yang telah disepakati demi menjaga stabilitas kawasan.
“Kami sangat ingin melihat pembukaan kembali Selat Hormuz secara berkelanjutan, berdasarkan konsep kebebasan navigasi,” katanya.
Menurut Dujarric, kepentingan bersama seluruh negara harus ditempatkan di atas konflik yang sedang berlangsung. Stabilitas kawasan dan keamanan global, kata dia, merupakan tujuan yang harus dijaga oleh semua pihak.
“Penting bagi semua pihak yang terlibat untuk tetap berfokus pada kepentingan yang lebih besar, yakni kepentingan bersama berupa stabilitas regional, kepentingan bersama berupa stabilitas global,” ujarnya.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak mentah dan gas alam dari kawasan Teluk menuju berbagai negara.
Sebelum eskalasi konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, jalur tersebut beroperasi normal tanpa pembatasan maupun biaya tambahan bagi kapal yang melintas.
Namun, setelah serangan militer terhadap Iran yang disebut menewaskan puluhan pejabat tinggi negara itu, Teheran menutup Selat Hormuz dan memberlakukan pembatasan terhadap lalu lintas pelayaran.
Meskipun sempat dibuka kembali setelah penandatanganan MoU pada pertengahan Juni, jalur tersebut kembali ditutup setelah Israel melanjutkan operasi militernya di Lebanon selatan yang disebut melanggar kesepakatan tersebut. (ant/saf/faz)




