Belajar Menjaga Eksistensi Bahasa Indonesia dari Negeri Tirai Bambu

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Ade Aulia

Mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas: Ilmu Budaya Unhas

Bahasa tidak pernah berhenti menjalankan fungsi, bukan hanya sekadar alat komunikasi. Lebih dari itu, bahasa berperan dalam memajukan cara berpikir, mengarsip sejarah dan nilai-nilai kebudayaan serta sebagai identitas suatu negara. Di Indonesia sendiri, bahasa berkembang begitu cepat, bahkan nyaris tidak terkontrol. Masyarakat lebih merasa keren apabila menggunakan istilah-istilah asing. Hal ini menjadi renungan, apakah kita sudah memanfaatkan bahasa Indonesia sebagai warisan bangsa yang besar?

Bahasa itu tidak bersifat statis. Ia mengalir sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat. Hal itu wajar dalam dunia bahasa. Misalnya saja, bahasa Indonesia yang menyerap kosakata dari berbagai negara, mulai dari bahasa Inggris, Arab, Belanda dan bahasa lainnya. Dalam kajian linguistik, proses tersebut berlangsung melalui adopsi, adaptasi, penerjemahan, serta berbagai bentuk penyesuaian dalam kaidah bahasa Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bersifat terbuka terhadap dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun, keterbukaan bahasa Indonesia terhadap bahasa asing seharusnya tidak serta-merta menggeser kedudukan bahasa Indonesia itu sendiri. Realitas yang terjadi justru memperlihatkan kecenderungan sebagian masyarakat yang lebih memilih menggunakan istilah-istilah asing, meskipun telah tersedia padanannya dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah asing tersebut lebih banyak digunakan dalam ruang akademik, sosial-politik, media daring, hingga percakapan sehari-hari. Dalam praktik penulisan, tidak jarang penulis menggunakan istilah asing karena dianggap memberikan kesan lebih ilmiah dan berbobot dibandingkan penggunaan bahasa Indonesia yang dinilai lebih sederhana. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut dapat mencerminkan melemahnya kesadaran berbahasa Indonesia yang seharusnya tetap kaya dan berdaulat dalam penggunaannya.

Berkaitan dengan fenomena di atas, salah satu catatan pengalaman Ali Romdhoni dalam buku Kurma di Ladang Salju menceritakan bahwa masyarakat China memiliki kesadaran yang besar dalam menjaga eksistensi bahasanya dengan tidak serta-merta menyerap bahasa asing ke dalam bahasa Mandarin. Jika di tengah masyarakat Indonesia hadir sebuah teknologi baru, biasanya teknologi tersebut akan segera diberi sebutan yang tidak jauh dari nama aslinya. Namun, di China tidak demikian. Mereka memberi label baru atau lebih tepatnya mengalihbahasakan istilah tersebut ke dalam bahasa Mandarin dengan logat yang khas. Bahasa Mandarin memiliki panggilan tersendiri untuk menyebut negara lain, misalnya Indonesia dikenal dengan sebutan Yinni, Arab sebagai Alabuwo, dan Jepang sebagai Riben. Mereka berusaha menerjemahkan, menyesuaikan, dan memberikan nama baru sesuai dengan sistem bahasanya. 

Sikap tersebut menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap perkembangan dunia tidak harus mengorbankan identitas bahasa. Kemajuan suatu bangsa tidak dapat diukur dari seberapa banyak istilah asing yang digunakan, melainkan dari bagaimana bahasa mampu menyaring dan menyesuaikan berbagai pengaruh luar tanpa kehilangan ciri khasnya. 

Dalam perspektif linguistik, setiap bahasa merepresentasikan cara berpikir dan pengalaman budaya masyarakat penuturnya. Perlu diingat bahwa bahasa Indonesia berkembang melalui penyerapan berbagai unsur bahasa daerah yang memiliki latar budaya berbeda-beda. Banyak kosakata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari pengalaman dan pengetahuan budaya masyarakat tertentu. Oleh karena itu, ketika suatu bahasa kehilangan penutur dan fungsinya dalam berbagai bidang kehidupan, yang hilang bukan hanya kata-kata, melainkan juga cara pandang, nilai budaya, serta pengetahuan yang diwariskan oleh masyarakat penuturnya dari waktu ke waktu. 

Selain bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, Indonesia juga dikenal memiliki keanekaragaman bahasa daerah yang luar biasa banyak, dengan lebih dari 700 bahasa daerah. Dari kekayaan tersebut lahir berbagai kosakata, nilai-nilai kebudayaan, dan cara berpikir yang mencerminkan identitas masyarakat penuturnya. Hal ini merupakan kekayaan bangsa yang tidak banyak dimiliki oleh negara lain. Namun, dewasa ini perhatian terhadap bahasa sendiri sering kali kalah oleh hegemoni bahasa asing yang dianggap lebih modern dan bergengsi.

Namun, penguasaan bahasa asing bukanlah sesuatu yang keliru. Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa asing sering kali dibutuhkan, terutama dalam dunia kerja dan pergaulan global. Akan tetapi, penggunaan bahasa asing tidak seharusnya menggeser kedudukan bahasa Indonesia ataupun menimbulkan anggapan bahwa bahasa Indonesia terlalu lokal dan sederhana. Keduanya memiliki fungsi dan peran masing-masing yang saling melengkapi. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa asing perlu dilakukan secara seimbang dalam kehidupan sehari-hari.

Sudah waktunya bahasa Indonesia bersinar secara global. Namun, sebelum itu, bahasa Indonesia harus ditempatkan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, penelitian, dan teknologi. Lebih sederhana lagi, bahasa Indonesia harus hadir dalam ruang-ruang belajar, seperti sekolah dan perguruan tinggi, serta digunakan dalam berbagai fasilitas publik, termasuk penunjuk arah dan informasi umum. Tentunya, hal ini memerlukan kesadaran kolektif dan kerja sama berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, media massa, hingga generasi muda untuk memelihara kosakata yang sudah ada, memperkaya kosakata, dan menggunakan padanan kata yang telah ditetapkan. Dengan sikap bangga tersebut, bangsa Indonesia akan memiliki karakter yang kuat dan unggul untuk bersaing di tengah persaingan global.

Becermin dari masyarakat China, sebagaimana dicatat oleh Ali Romdhoni, menjaga bahasa bukan berarti menutup akses bahasa asing untuk masuk, melainkan menjaga kepercayaan diri terhadap bahasa sendiri. Ciri khas dan identitas yang dimiliki suatu bangsa akan menjadi kekuatan untuk menghadapi hegemoni bahasa asing. Sebab, pada akhirnya bangsa yang besar bukanlah bangsa yang meninggalkan bahasanya demi terlihat modern, melainkan bangsa yang mampu menjadi modern tanpa kehilangan identitas bahasanya. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Melemah Empat Beruntun Imbas Sikap Hawkish The Fed
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Tren Menurun, Kepuasan Publik Atas Kinerja Presiden Prabowo di Angka 64,8 Persen
• 2 menit laluokezone.com
thumb
Cegah Risiko Kesehatan, Kemhan Lakukan Mitigasi Agar Peserta Latsarmil Aman Saat Pendidikan
• 37 menit lalunarasi.tv
thumb
Jokowi Sebut PSI Punya Target Lebih Besar dari Sekadar Masuk Senayan
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Menaker: Aturan ILO Jadi Acuan Lindungi Ojol, Kurir, dan Pekerja Digital di Indonesia
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.