Gempa M 5,6 di Pacitan, Kereta Sempat Berhenti Luar Biasa

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

MALANG, KOMPAS — Gempa berkekuatan magnitudo 5,6 (update M 5,3) berpusat di tenggara Pacitan, Jawa Timur, Sabtu (27/6/2026) pukul 14.47 WIB. Sejumlah kereta di Daerah Operasional 7 Madiun sempat berhenti serentak sebagai tanda darurat.

Gempa itu terjadi pukul 14.47 WIB, berpusat di Samudera Indonesia dengan jarak 96 kilometer pada kedalaman 53 km. Gempa tidak berpotensi tsunami.

“Sampai saat ini belum ada dampak kerusakan,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Satrio Nurseno, Sabtu malam.

Dihubungi terpisah, Kepala BPBD Trenggalek Stefanus Triadi Atmono juga mengatakan serupa. Wilayah Kabupaten Trenggalek sendiri berbatasan langsung dengan Pacitan. “Aman,” ujarnya.

Dihubungi secara terpisah, Manajer Humas PT KAI Daop 7, Tohari menjelaskan begitu getaran gempa terdeteksi di wilayah Blitar dan Tulungagung, Pusat Pengendali Operasi Kereta langsung mengambil tindakan preventif dengan menginstruksikan penghentian serentak melalui kendali radio lokomotif terpusat.

“Sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan, operasional seluruh perjalanan kereta api di wilayah terdampak kini telah kembali normal penuh setelah sempat diberhentikan luar biasa (BLB) guna pemeriksaan visual maupun teknis,” ujar Tohari.

Baca JugaGempa M 6,4 di Pacitan Tewaskan Seorang Warga dan Rusak Puluhan Rumah di Tiga Provinsi

PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daop) 7 Madiun, memastikan, seluruh jalur aman dan operasional kereta kembali normal setelah gempa terjadi.

Petugas dari Unit Jalan dan Jembatan segera diterjunkan ke lapangan untuk menyisir kondisi rel, jembatan, dan terowongan. Berdasarkan laporan dari jajaran Resort Jalan dan Jembatan di lapangan, seluruh struktur dinyatakan dalam kondisi laik operasi.

Namun demikian, ada dampak berupa keterlambatan perjalanan kereta akibat penghentian darurat atau berhenti luar biasa (BLB). Ada tujuh rangkaian kereta yang mengalami keterlambatan dengan total waktu 39 menit.

Adapun lokasi pemberhentian kereta, di antaranya Kereta Jayakarta berhenti di Stasiun Sembung dengan terlambatan 9 Menit; Commuter Line Penataran berhenti di Stasiun Kediri, 7 menit; Malioboro berhenti di Stasiun Tulungagung, 8 Menit; dan Commuter Line Dhoho behenti di Stasiun Kertosono, 15 menit.

Setelah seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis Jalan dan Jembatan memastikan tidak ada pergeseran struktur tanah maupun kerusakan pada konstruksi prasarana, operasional perjalanan kereta normal kembali.

“Kami memohon maaf atas keterlambatan yang dialami para pelanggan. Langkah BLB ini wajib kami lakukan demi menjamin keselamatan jiwa penumpang dan keamanan perjalanan kereta. Saat ini seluruh perjalanan kereta di Daop 7 Madiun sudah kembali berjalan normal sesuai Grafik Perjalanan Kereta (Gapeka) yang berlaku,” kata Tohari.

Baca JugaGempa M 7,7 di Mindanao, Berpotensi Tsunami di Sulawesi

Gempa sendiri dirasakan di sejumlah daerah. Berdasarkan keterangan tertulis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) guncangan gempa dirasakan oleh warga yang tinggal di Pacitan, Wonogiri, Tulungagung, dan Blitar. Mereka merasakan guncangan gempa III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu).

Sedangkan wilayah lain, seperti Kulon Progo, Bantul, Sleman, dan Yogyakarta II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Daerah lain di Jatim, seperti Trenggalek, Malang, Nganjuk, Magetan, Ponorogo, dan Jember juga merasakan II MMI.

“Saya tidak merasakan tetapi orang-orang di sekitar saya merasakan guncangan. Mereka tidak sampai panik, sih, hanya keluar dari rumah dan warung,” ujar Eny Susilowati, salah satu warga Wonoanti, Kecamatan Tulakan, Pacitan, yang tengah berada di Ngempak, Kabupaten Tulungagung, saat gempa terjadi. Saat gempa, Eny tengah berada di warung untuk membeli makanan.

Sementara itu, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto, dalam pers rilis tertulis, mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi di Pacitan merupakan jenis gempa bumi dangkal.

Gempa terjadi akibat aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lowongan Kerja BPKH 2026 Dibuka, Perkuat SDM untuk Optimalkan Pengelolaan Dana Haji
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
JPO Stasiun Bogor Dibongkar, Pelican Crossing Bakal Dibangun
• 3 jam laludetik.com
thumb
Gubernur Jabar Serahkan Hadiah Sayembara Rp250 Juta untuk Masa Depan Korban Penyekapan
• 21 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kemenhut Gandeng Emergent, Siap Amankan Investasi Hijau untuk Mengurangi Emisi
• 10 jam lalujpnn.com
thumb
Pesawat Tabrak Gedung Tertinggi di Beijing, Pilot Tewas-13 Orang Luka
• 7 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.