JAKARTA, KOMPAS.TV - Direktur Kebijakan Publik Celios, Media Wahyudi Askar, menyoroti insiden 5 peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) calon pengelola atau manajer Koperasi Desa (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih yang meninggal saat latihan dasar militer (latsarmil).
Dia pun membandingkannya dengan jumlah peserta wajib militer (wamil) yang meninggal di Korea Selatan (Korsel).
"Selama 10 tahun terakhir, 4 orang meninggal dalam pelatihan wajib militer di Korea Selatan, 10 tahun ya, dan itu jumlahnya 2 juta orang. Indonesia, hanya dalam 2 minggu, 5 orang meninggal untuk pelatihan militer. Hanya pesertanya 32.000 orang," katanya dalam Kompas Petang KompasTV, Sabtu (27/6/2026).
Dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) itu juga menyorot tujuan pelatihan militer, di mana di Korsel ditujukan untuk perang, sementara di Indonesia untuk calon manajer koperasi.
Baca Juga: 5 Orang Meninggal, Pengamat: Mengapa Calon Pengelola Kopdes-Kampung Nelayan Harus Ikuti Latsarmil?
Menurutnya, apa yang terjadi di Indonesia ini aneh dan tidak bisa diterima dengan akal sehat. Bahkan, ia menganggap cara berpikir pengambil kebijakan di Indonesia kembali lagi ke tahun 1970-an.
"Menurut saya, saya sepakat agar ini dihentikan saja. Anggaran mungkin bisa hilang, tapi nyawa itu tidak bisa dikembalikan," tuturnya.
Media menilai tidak ada urgensi peran militer dalam melakukan pelatihan terhadap calon manajer Kopdes atau Kampung Nelayan Merah Putih.
Menurutnya, jika memang pemerintah ingin mempersiapkan pengelola koperasi, lebih baik mengirim mereka ke inkubasi koperasi atau lembaga pelatihan untuk meningkatkan kompetensi mereka.
Baca Juga: Kemhan Pastikan Materi Latihan Militer Calon Manajer Kopdes Sudah Disesuaikan untuk Sipil
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- celios
- media wajyudi askar
- latsarmil
- kopdes
- manajer kopdes
- kampung nelayan





