Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Washington melancarkan serangan militer ke sejumlah target di Iran setelah sebuah kapal tanker minyak komersial diserang drone saat melintas di Selat Hormuz.
Insiden tersebut menjadi babak baru eskalasi konflik kedua negara, meskipun AS dan Iran saat ini masih berada dalam periode gencatan senjata sementara yang disepakati untuk membuka jalan menuju perundingan damai.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas serangan drone yang menghantam kapal tanker M/T Kiku berbendera Panama. Kapal tersebut dilaporkan mengangkut lebih dari 2 juta barel minyak mentah ketika diserang di sekitar Selat Hormuz pada Sabtu pagi waktu setempat.
Dalam pernyataan yang dirilis Sabtu malam, CENTCOM menyebut serangan AS menyasar sejumlah fasilitas strategis Iran, mulai dari infrastruktur pengawasan militer, sistem komunikasi, pos pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone hingga kemampuan penebar ranjau.
"Iran telah diberi kesempatan untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata, namun memilih untuk tidak melakukannya ketika pasukannya meluncurkan drone serang satu arah yang menghantam M/T Kiku pagi ini pukul 04.30 ET," tulis CENTCOM, dikutip dari CNBC International, Minggu (28/6/2026).
Meski konflik kembali meningkat, CENTCOM menegaskan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka dan lalu lintas kapal komersial masih berjalan normal.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memicu gejolak pasar energi global karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur itu.
Gencatan Senjata Terancam
Serangan terbaru terjadi di tengah masa gencatan senjata 60 hari antara AS dan Iran yang seharusnya menjadi landasan bagi pembicaraan untuk mengakhiri konflik kedua negara. Namun, Washington dan Teheran saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menuding Iran melakukan "pelanggaran bodoh" terhadap gencatan senjata setelah serangkaian serangan drone terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan Hormuz.
CENTCOM menyebut pesawat tempur AS telah menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, termasuk sejumlah pos radar di wilayah pesisir.
Melalui unggahan di platform X, CENTCOM juga mengungkap bahwa pada Kamis lalu Iran diduga melancarkan serangan drone terhadap kapal kargo berbendera Singapura, Ever Lovely, di perairan dekat Oman.
Meski terkena serangan, kapal tersebut tetap melanjutkan pelayarannya melewati Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Iran Balas Tuduhan AS
Eskalasi terbaru ini terjadi lebih dari sepekan setelah Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman untuk membuka jalan menuju perjanjian damai permanen.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah merespons serangan AS dengan menyerang posisi militer Amerika di kawasan tersebut.
Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menilai aksi Washington membuktikan bahwa AS tidak memiliki komitmen terhadap proses diplomasi.
"Presiden AS yang gagal itu telah menunjukkan bahwa ia tidak memiliki komitmen terhadap prinsip-prinsip negosiasi atau gencatan senjata," kata Azizi.
Ia juga memperingatkan bahwa tindakan AS akan berujung pada konsekuensi yang merugikan bagi Washington.
"Pelanggaran gencatan senjata yang ceroboh ini, seperti biasa, akan berujung pada mundurnya mereka dan penyesalan di pihak mereka. Saling menyalahkan tidak lagi efektif," tegasnya.
Konflik terbaru AS-Iran ini kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama jika ketegangan di Selat Hormuz terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
(rob/haa) Add as a preferred
source on Google




