Denting dawai sape tidak lagi sekadar menjadi napas tradisi yang sunyi. Dia justru berbaur dengan ketukan dinamis musik kontemporer, menciptakan harmoni baru yang menjembatani masa lalu dan masa depan. Pertemuan antara dua zaman itu melebur di panggung di Rainforest World Music Festival (RWMF) 2026, yang membuktikan bahwa akar budaya mampu beradaptasi dengan arus modernitas yang bergerak cepat.
Petikan sape mengalun syahdu saat matahari perlahan tenggelam di Sarawak Cultural Village, Negara Bagian Serawak, Malaysia, yang menjadi lokasi perhelatan RWMF, Jumat (26/6/2026). Alat musik tradisional suku Dayak itu melahirkan magis di antara rimbun pepohonan hutan hujan yang berada di tepian Laut China Selatan.
Suara sape itu merayap keluar dari balik dinding kayu rumah-rumah adat, memecah ketenteraman hutan. Iramanya bertalun di antara kaki Gunung Santubong yang berdiri gagah sebagai latar belakang lokasi acara.
Dari kejauhan, alunan sape perlahan bersahut-sahutan dengan dentuman instrumen elektronik yang bergema dari arah panggung pertunjukan. Nyaring bunyi instrumen modern itu berasal dari grup-grup musik kontemporer yang datang dari berbagai negara.
Meski kontras, pertemuan dua frekuensi nada itu memberi kesan dramatis di tengah acara yang mulai bergeliat. Begitulah suasana pembukaan RWMF 2026. Ajang yang berlangsung selama 26-28 Juni 2026 itu bukan sekadar acara pertunjukan musik tahunan, melainkan sudah menjadi semacam ritual untuk merayakan akar budaya.
Sejak pertama kali dihelat pada 1998, RWMF konsisten memosisikan diri sebagai titik temu antara seni atau musik tradisional dan kontemporer. Para penjaga seni warisan leluhur dari beragam negara, terutama dari Pulau Kalimantan disandingkan sejajar dengan grup-grup musik kontemporer.
Di sana, pengunjung bisa melihat dan menikmati alunan khas instrumen tradisional, seperti sape dan seruling Dayak, serta angklung, gamelan, dan gendang Sunda, melengking di antara gema suara gitar elektronik, drum, hingga pengatur suara modern. Semuanya berpadu memberikan nuansa yang menusuk kalbu.
RWMF ingin membuktikan, musik tradisional tidak perlu menyerah menjadi artefak yang hanya menjadi pajangan di museum. Melalui wadah kolaborasi lintas genre yang diberikan, kesenian lokal ternyata mampu memperpanjang napas agar tidak ditelan zaman.
”Suara musik tradisional membuat kita kembali meresapi jati diri dan identitas asal kehidupan, sedangkan musik kontemporer memberikan energi baru. Saat keduanya bertemu, ada ledakan emosi seimbang yang menyentuh jiwa,” ujar Irwan (38), pemengaruh media sosial (influencer) asal Gresik, Jawa Timur yang menyaksikan RWMF, Sabtu (27/6/2026).
RWMF 2026 diikuti oleh sekitar 200 penampil dari belasan negara, antara lain dari wilayah ASEAN dan sejumlah negara dari regional lain. Sebagian penampil yang diundang adalah para musisi tradisional. Mereka datang dengan membawa instrumen eksotis dari negara masing-masing sehingga memberikan pertunjukan yang berbeda satu sama lain.
Walau berbeda-beda, para musisi tradisional lintas batas geografi itu menunjukkan muara tujuan yang sama. Semuanya ingin menjadi oasis di tengah hegemoni tuntutan industri musik yang menghamba kepada arus popularitas kekinian.
Komitmen itu salah satunya dimiliki oleh grup Benin International Musical (BIM) yang pentas di hari pertama RWMF 2026. Gitaris BIM Yaovi Emmanuel Atcho mengatakan, sejak terbentuk delapan tahun lalu, grup yang beranggotakan musisi dari Kota Cotonou, Benin itu telah melanglang buana. Mereka pun pernah tampil di panggung bergengsi Carnegie Hall di New York, Amerika Serikat pada tahun pertama mereka terbentuk.
Kesuksesan BIM di panggung global dinilai karena teguh pada prinsip menjaga kemurnian akar tradisi. ”Genre kami adalah musik akar (roots music). Kami coba memurnikan kembali musik tradisional kami untuk memunculkan kembali orisinalitas sisi emosional yang bermakna. Tujuan kami ingin menjaga dan memperkenalkan musik tradisional kami kepada dunia,” kata Atcho saat konferensi pers.
Atcho tidak menafikan bahwa musik tradisional menghadapi tantangan dari industri musik global yang sering kali menuntut keseragaman. Namun, itu bukan alasan untuk BIM takut mempertahankan musik tradisionalnya yang mengakar dari budaya Vodun atau Voodoo yang berasal dari wilayah Afrika Barat, meliputi Benin, Togo, Nigeria, dan Ghana.
Hanya, untuk merebut hati penikmat musik global, musik tradisional pun harus berbesar hati melakukan fusi dengan genre musik lain atau kontemporer, sperti rock atau rap, tanpa mengorbankan ruh tradisi. ”Meski kami bepergian, berinteraksi, dan belajar dari budaya lain, kami tetap menempatkan diri sebagai penjaga budaya Benin,” tutur Atcho.
Sebagaimana pernyataan Atcho, musik tradisional sejatinya memiliki potensi besar menembus blantika musik global. Akan tetapi, musik tradisional butuh pemantik yang mendorongnya untuk kembali bangkit.
Musisi legendaris Malaysia M Nasir dalam dialog sebelum menjadi pementas utama hari pertama RWMF 2026, menuturkan, musik tradisional butuh panggung yang memberikan kesempatan luas untuk memperkenalkan diri kepada khalayak. ”Panggung seperti RWMF adalah elemen vital yang bisa memastikan musik tradisional tidak hanya bertahan, tetapi tetap relevan di tengah gempuran tren yang serba instan,” ujarnya.
Nasir menyoroti bagaimana industri musik modern saat ini sangat bergantung pada viralisme dan selera pasar sesaat. Musisi yang telah berkarir selama kurang lebih lima dekade itu pun mengaku jengah dengan musik hasil kecerdasan buatan (AI) yang terdengar seragam, mekanis, dan hambar.
”Musik tradisi itu sentiasa ada. Namun, dalam bentuk komersial yang masif, musik tradisi sulit menyaingi arus utama. Sebab, dunia sekarang memerlukan sesuatu yang baru dan menarik secara instan,” kata Nasir.
Maka itu, menurut Nasir, kunci keberlangsungan musik tradisional adalah peleburan (fusion). Akan tetapi, dia menekankan, keberhasilan fusi itu sangat bergantung pada ”personaliti” sang pembawa musik. ”Jika seseorang memiliki kecintaan mendalam dan karakter kuat dalam membawa musik tradisi ke dalam dunia modern, ia bisa menjadi besar dan beresonansi universal,” jelasnya.
Karya-karya Nasir sendiri adalah bukti nyata bahwa identitas tradisional yang dibalut sentuhan modern mampu bertahan lintas generasi. Untuk itu, dia pun menasihati para musisi muda untuk tidak sekadar mengejar tren sesaat, melainkan lebih dalam mengenal ”hati budi” dan akar kemanusiaan melalui karya mereka. ”Saya percaya karya harus lahir dari kedalaman hati agar bermakna,” ujarnya dengan nada tegas.
Menteri Pariwisata, Industri Kreatif, dan Seni Pertunjukan Sarawak YB Dato Sri Abdul Karim Rahman Hamzah mengatakan, keberlanjutan RWMF adalah cerminan dari komitmen Serawak dalam menghargai dan melestarikan musik tradisional. Terbukti, festival musik itu terus dilaksanakan secara konsisten di tengah tantangan yang dihadapi.
Tak pelak, dari hanya dikunjungi 300-an penonton saat pertama kali digelar, kini, RWMF dikunjungi hingga puluhan ribu penonton setiap tahunnya. Itu membuktikan, kampanye budaya yang diusung ajang yang berada di peringkat kedelapan dalam kategori ”10 Festival Terbaik Dunia” oleh Transglobal World Music Chart itu telah diterima publik secara luas.
”Sarawak adalah tempat peleburan etnisitas, mulai dari Dayak, Orang Ulu, Melayu, hingga Tionghoa. Semua suku itu membawa kekayaan musik ataupun tradisi masing-masing yang membentuk identitas Serawak di mata dunia internasional. Karena itu, kami bangga dan terus melestarikan beragam musik dan tradisi tersebut,” tutur Hamzah yang turut menjabat Menteri Pemuda, Olahraga dan Kewirausahaan Sarawak.
Hamzah menyebutkan, kampanye budaya RWMF diharapkan bisa menular ke negara-negara lain, terutama di kawasan ASEAN yang kaya dengan seni dan tradisi lokal. Sebab, sejatinya, musik tradisional ataupun tradisi lokal adalah fondasi pembentuk peradaban suatu bangsa.
”Pada dasarnya, kita tidak ada hari ini tanpa akar budaya yang ditanam oleh nenek moyang kita terdahulu. Dari RWMF pun terlihat bahwa musik tradisional masih memiliki asa untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Tinggal kita sebagai masyarakat pendukungnya, memberi kepedulian terhadap warisan nenek moyang kita,” ujar Hamzah.
RWMF kembali membuktikan bahwa batas antara tradisi dan modernitas sebenarnya tidak kaku. Di kaki Gunung Santubong di antara rimbun pepohonan hutan hujan, gema instrumen modern justru menemukan nyawanya saat bersanding dengan alunan sape yang begitu memikat.





