Studio indie film ternama Hollywood, A24, tengah berada di momen dilematis. Baru-baru ini, A24 resmi menjalin kesepakatan dengan Google untuk mengeksplorasi penggunaan AI bagi para sineas.
Namun, langkah korporat ini justru berbenturan dengan prinsip Kane Parsons, sutradara muda berbakat yang menggarap film The Backrooms di bawah naungan A24. Parsons tegas menyatakan penolakannya terhadap tren AI tersebut.
Dalam wawancaranya dengan The Australian, sutradara berusia 20 tahun itu ngaku berada di barisan yang sama dengan orang-orang yang enggan melihat teknologi mengambil alih Hollywood.
"Jika saya bisa menjentikkan jari dan membuat AI menghilang selamanya, saya mungkin akan melakukannya," ujar Parsons dilansir Variety.
Baginya, menggunakan alat tersebut dalam proses kreatif sama sekali tidak memberikan kepuasan.
"Secara kreatif, saya tidak puas dengan alat itu. AI merusak tujuan utama saya berkarya," tambah Parsons.
Parsons menyebut fenomena gambar hasil AI yang mulai membanjiri ruang publik sebagai sesuatu yang buruk.
"Bagi saya, AI generatif kurang terasa seperti inovasi, melainkan gejala dari pembusukan budaya dan ekonomi yang lebih luas," tegas Parsons.
Bakal Buat Film Bertema AIMeski menolak AI sebagai alat pembuat film, Parsons justru tertarik mengangkat tema AI sebagai kritik dalam karyanya di masa depan. Ia ingin membedah ikonografi AI dari sudut pandang artistik,
"Saya tertarik mengangkat AI dalam seni itu sendiri, jadi memeriksa apa yang dimilikinya," jelas Parsons tentang proyek masa depannya.
Scorsese Gabung ke Perusahaan AIKontradiksi ini menjadi semakin menarik karena di saat Parsons menolak, legenda film Martin Scorsese justru mengambil langkah sebaliknya. Sutradara The Irishman ini bergabung dengan perusahaan AI, Black Forest Labs, sebagai penasihat.
Scorsese berpendapat bahwa teknologi adalah bagian dari evolusi sinema yang baru berusia sekitar 125 tahun.
"Kita harus terbuka pada bagaimana sinema dapat berkembang," ujar Scorsese dalam pernyataan resminya.
Scorsese memandang AI sebagai alat bantu yang efisien bagi tim kreatifnya, mulai dari desain produksi hingga sinematografi.
"Dengan alat ini, saya dapat membagikan apa yang saya visualisasikan secara lebih jelas dan efisien kepada tim kreatif saya, agar mereka dapat membangunnya untuk memperkaya kecerdasan sinematik," ungkap Scorsese.
Perbedaan pandangan antara visi korporat A24 dan idealisme sutradaranya seperti Kane Parsons menunjukkan betapa terbelahnya Hollywood saat ini.
Di satu sisi, ada kebutuhan untuk efisiensi dan kemajuan teknologi yang didorong oleh raksasa Google. Di sisi lain, ada ketakutan para kreator bahwa AI akan menghilangkan kepuasan dalam proses menciptakan karya seni.
Sementara, dilansir Variety juga, Google resmi menyuntikkan investasi sekitar 75 juta dolar AS atau setara Rp 1,3 triliun ke A24.
Melalui kesepakatan ini, A24 mendapat akses ke infrastruktur dan riset DeepMind, sementara para peneliti DeepMind akan bekerja sama dengan studio untuk membangun alur kerja (workflow) baru dalam produksi film.





