REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Eko Saputra, Direktur Eksekutif Halal Center SI
Penghargaan internasional yang diraih Provinsi Jawa Barat sebagai ”Most Promising Muslim-Friendly Region of The Year" pada ajang Halal In Travel Global Summit 2026 di Singapura bukan sekadar prestasi simbolik di sektor pariwisata. Lebih dari itu, penghargaan ini merupakan sinyal kuat bahwa Jawa Barat telah memasuki peta strategis industri halal global dan memiliki peluang besar menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi syariah Indonesia.
Baca Juga
Sejarah! Kongo Lolos ke Babak 32 Besar Piala Dunia 2026, Korsel Tersisih
Tangis Ibrahimovic Kala Bosnia dan Herzegovina Lolos Fase Grup Piala Dunia
Mulai 1 Juli 2026, Jamaah Umrah dan Haji Khusus Wajib Lewat Terminal 2F Soekarno-Hatta
Penghargaan yang diberikan oleh Mastercard-CrescentRating tersebut didasarkan pada penilaian komprehensif melalui Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, sebuah indeks yang selama lebih dari satu dekade menjadi rujukan internasional dalam mengukur kesiapan destinasi wisata ramah Muslim.
Penilaian mencakup aspek aksesibilitas, komunikasi, lingkungan yang mendukung, kualitas layanan, kesiapan digital, inovasi, hingga keberlanjutan ekosistem wisata halal. indeks ini juga yang saya gunakan ketika melakukan riset terkait pariwisata halal di kabupaten Raja Ampat, Papua Barat di tahun 2022 silam.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Keberhasilan Jawa Barat menjadi semakin bermakna karena terjadi di tengah meningkatnya potensi pasar wisata Muslim dunia. Laporan GMTI 2026 mencatat bahwa jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional diperkirakan mencapai 186 juta perjalanan pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 245 juta perjalanan pada 2030, menjadikan segmen ini sebagai salah satu pasar pariwisata dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Dalam perspektif ekonomi syariah, wisata halal tidak boleh dipahami secara sempit sebagai wisata religi. Wisata halal merupakan ekosistem ekonomi yang mengintegrasikan layanan transportasi, akomodasi, kuliner halal, industri kreatif, fesyen muslim, produk UMKM, keuangan syariah, hingga ekonomi digital. Setiap kunjungan wisatawan Muslim sesungguhnya menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang menggerakkan berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.
Karena itu, penghargaan ini semestinya dibaca sebagai peluang investasi, bukan sekadar pengakuan internasional. Jawa Barat memiliki modal yang sangat kuat berupa populasi terbesar di Indonesia, kekayaan budaya Sunda, destinasi alam yang beragam, jaringan pesantren yang luas, serta ribuan pelaku UMKM halal yang siap menjadi bagian dari rantai nilai industri pariwisata syariah.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.