Ujian Politik Kemahasiswaan

kompas.com
8 jam lalu
Cover Berita

SEBUAH pengakuan yang terucap gugup di halaman kampus, di hadapan Patung Bung Karno, mungkin akan dikenang sebagai salah satu momen paling jujur—dan paling pahit—dalam sejarah gerakan mahasiswa kontemporer. 

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno beserta sejumlah jajarannya mengakui menerima sejumlah uang yang diduga bertujuan mengalihkan titik aksi demonstrasi mahasiswa dari kawasan Istana Negara ke Gedung DPR. 

Pengakuan itu disampaikan bukan di ruang tertutup, melainkan di forum terbuka, disaksikan ratusan mahasiswa yang marah dan kecewa.

Di permukaan, ini adalah skandal kampus biasa: dugaan suap, sidang etik, pemecatan jabatan.

Tetapi bila dibaca dengan kacamata sosiologi politik, peristiwa ini membuka tabir yang jauh lebih dalam tentang bagaimana kekuasaan—baik negara maupun aktor-aktor di sekitarnya—senantiasa mencari jalan untuk menjinakkan energi politik mahasiswa.

Demoralisasi Gerakan Mahasiswa

Yang terjadi di UBK bukanlah kegagalan moral individu semata.

Dalam kacamata sosiologi gerakan sosial, ini adalah bentuk *demoralisasi* yang bekerja secara struktural: ketika simbol perlawanan—pemimpin mahasiswa yang vokal mengkritik kebijakan negara—berhasil dibuat goyah integritasnya, efek yang ditimbulkan jauh melampaui kerugian satu organisasi.

Kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa secara keseluruhan tergerus. 

Baca juga: Terbukanya Pagar DPR dan Kabar Kemenangan Mahasiswa

Narasi "mahasiswa bayaran" menyebar lebih cepat ketimbang substansi tuntutan yang mereka bawa.

Demoralisasi semacam ini efektif justru karena ia tidak memerlukan represi fisik.

Cukup satu rekaman video, satu pengakuan yang tersebar di media sosial, dan seluruh modal sosial gerakan—yang dibangun lewat aksi, diskusi, dan konsolidasi panjang—bisa runtuh dalam semalam. 

Inilah karakter kekuasaan kontemporer: ia tidak lagi membutuhkan tank dan represi terbuka untuk melumpuhkan oposisi, ia hanya perlu menabur keraguan tentang kemurnian niat para penggeraknya.

Kasus ini juga menyingkapkan persoalan struktural yang lebih lama: rapuhnya konsolidasi mahasiswa di tingkat nasional.

Berbeda dengan generasi 1966,1978,1998, atau 2012--angkatan mahasiswa pasca reformasi yang berhasil menggagalkan secara sempurna rencana kenaikaan BBM pada masa pemerintahan SBY-JK—meski dengan keterbatasannya masing-masing—mampu merumuskan isu perjuangan bersama yang melampaui sekat kampus dan fakultas, gerakan mahasiswa hari ini cenderung terfragmentasi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

BEM bergerak sendiri-sendiri, aliansi bersifat ad hoc, dan koordinasi antar-kampus sering berhenti pada level simbolik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa M 5,6 di Pacitan, Kereta Sempat Berhenti Luar Biasa
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Tutup Sarasehan Kebangsaan, Presiden Prabowo Terima Usulan Akademisi
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Denny Goestaf Harus Izin Suami Baru Clara Shinta untuk Temui Anak, Akui Dilarang Masuk Pagar Rumah
• 3 jam lalugrid.id
thumb
Kapan Tanda Tangan Lansia Pikun Batal Secara Hukum?
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Saatnya Muktamar NU Hadirkan Kepemimpinan yang Tak Lagi Wariskan Pertengkaran Berkepanjangan
• 23 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.