Jakarta, VIVA – Ketua Umum Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Tri Tito Karnavian menegaskan keluarga memiliki peran paling penting dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan terbaik bagi anak tidak hanya diperoleh di sekolah, tetapi justru dimulai dari lingkungan keluarga.
Pesan tersebut disampaikan Tri Tito Karnavian saat mengunjungi TK Dharma Wanita Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis, 25 Juni 2026.
Kunjungan yang digelar oleh Pokja II Bidang Pendidikan dan Peningkatan Ekonomi Keluarga TP PKK Pusat itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan anak usia dini sekaligus mendorong penguatan peran keluarga dalam membangun karakter generasi penerus.
Dalam kesempatan tersebut, Tri mengapresiasi para guru dan orang tua yang terus mendampingi tumbuh kembang anak sejak usia dini.
Ia menekankan bahwa pembentukan karakter seperti disiplin, tanggung jawab, kejujuran, hingga kepedulian tidak cukup hanya diajarkan di sekolah, tetapi harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di rumah.
"Pendidikan yang terbaik itu ada di rumah. Kita harus mendidik mereka, menciptakan suasana disiplin, karakter, bertanggung jawab, jujur, dan lain-lain itu ada di rumah," ujar Tri.
Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama yang akan membentuk kebiasaan dan kepribadian anak sebelum mereka mengenal dunia yang lebih luas.
Orang Tua Diminta Bijak Memberikan GawaiSelain menyoroti pentingnya pendidikan karakter, Tri juga mengingatkan para orang tua agar tidak terburu-buru memberikan telepon genggam kepada anak usia dini.
Ia menilai anak-anak pada usia tersebut belum membutuhkan gawai karena berpotensi terpapar berbagai informasi maupun konten yang belum sesuai dengan tahap perkembangan mereka.
Tri mengaku menerapkan prinsip yang sama dalam keluarganya dengan tidak memberikan telepon genggam kepada anak-anaknya hingga memasuki usia remaja.
Karena itu, ia mengimbau para orang tua tidak mudah mengikuti tren yang menjadikan anak-anak sebagai influencer ataupun pembuat konten di media sosial.
"Jangan menjadi trendsetter itu untuk anak-anak kita. Itu sebetulnya tidak mendidik," katanya.





