Toko percetakan Mau Print di kawasan Kalibaru, Senen, Jakarta Pusat, yang menjadi lokasi penyekapan tiga karyawan kini tampak tutup. Saat kumparan mendatangi lokasi pada Minggu (28/6), tak ada lagi spanduk maupun papan nama toko yang terpasang di bangunan tersebut.
Bangunan toko terlihat cukup besar dengan empat lantai dan berdiri di salah satu kawasan percetakan yang ramai di wilayah itu. Dari luar, aktivitas di lokasi sudah tak terlihat.
Kasus ini sebelumnya viral usai tiga karyawan percetakan diduga disekap selama tiga minggu. Mereka diduga dikurung setelah salah satu korban diduga mencuri barang milik perusahaan.
Seorang warga sekitar sekaligus pekerja percetakan di kawasan itu, Agung (bukan nama sebenarnya), mengatakan Mau Print dikenal sebagai salah satu percetakan besar di Kalibaru.
“Ini printing salah satu yang paling gede di sini,” kata Agung.
Menurut Agung, toko tersebut baru beroperasi sekitar tiga tahun. Meski tergolong baru, usahanya berkembang pesat dan ramai pelanggan.
“Baru 3 tahun,” ujarnya.
“Ini lagi top-topnya,” tambahnya.
Agung mengaku tak pernah mengetahui adanya penyekapan di dalam gedung tersebut. Sebab, area tempat korban diduga disekap berada di lantai atas yang tidak mudah diakses orang luar.
“Di atas (disekapnya), mana bisa ujug-ujug masuk ke tempat orang kan?” kata dia.
Ia menyebut warga sekitar juga tak menaruh curiga karena operasional toko berjalan normal seperti biasa. Bahkan pada hari polisi datang, toko disebut tetap buka sejak pagi.
“Buka dari pagi. Makanya, kayak enggak ada apa-apa aja gitu kan, orang buka biasa,” ujar Agung.
Polisi mendatangi percetakan tersebut pada Jumat (26/6). Menurut Agung saat itu warga ramai mencari tahu apa yang terjadi.
“Iya, jam 5-an. Jam 5 kurang, jam 5 lah lagi macet-macetnya polisi di sini. Jadi tontonan,” kata dia.
Sebelum polisi datang, Agung melihat ada rombongan yang diduga dari LBH lebih dulu mendatangi lokasi dengan mobil.
“LBH dulu nih, LBH dulu datangnya. Nanya nih ke orang-orang, ‘Mana Mau Print?’” ujarnya.
Tak lama setelah itu, polisi dari Polres datang ke lokasi dan situasi langsung ditutup.
“Enggak lama, datang polres, karyawan suruh bubar. ‘Ini ada apa nih?’ Terus ditutup pintu,” kata dia.
Agung mengatakan lokasi penyekapan diduga berada di lantai tiga atau empat, di area gudang.
“Lantai 4 atau 3 ini. Pokoknya di atas,” ujarnya.
Ia juga mengenal salah satu korban bernama Adit karena kerap berinteraksi di sekitar lokasi. Menurut dia, Adit dikenal sebagai sosok yang sopan.
“Sering ngobrol. Sopan anaknya, pada sopan semua,” kata Agung.
“Kan gue bilang, ini orang ke mana? Pindah apa pulang kampung,” tambahnya.
Polisi sudah mengamankan dua terduga pelaku penyekapan, yakni Arief Iswahyudi dan Sabarudin. Tiga korban yang disekap diketahui bernama Tegar Saputra, Muhamad Rafli Jaelani, dan Aditya Saputra.
Kapolsek Senen Kompol Widodo Saputro mengatakan, saat polisi datang ketiga korban masih dalam kondisi terborgol.
“Piket reskrim melakukan pengecekan TKP dan saat berada di TKP benar korban bernama Tegar Saputra dan Muhamad Rafli Jaelani terlihat diborgol bagian kakinya sambil diikat tali baja juga korban bernama Adit Saputra di borgol bagian kaki dan diikat menggunakan rantai besi,” kata Widodo.
Polisi menduga penyekapan bermula setelah Tegar ketahuan mencuri pelat. Setelah diinterogasi, ia disebut mengaku melakukan pencurian bersama dua korban lainnya.
Alih-alih melaporkan dugaan pencurian ke polisi, ketiganya justru disekap selama tiga minggu. Keluarga korban bahkan diminta uang tebusan Rp 50 juta per orang.
Menurut polisi, salah satu keluarga korban sudah menyerahkan uang Rp 50 juta. Namun korban tetap tidak dibebaskan.
Polisi belum menjelaskan status hukum dua orang yang diamankan tersebut.





