HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Membangun masyarakat sehat tidak cukup melalui pelayanan kesehatan semata, tetapi juga dengan memperkuat kesadaran sejak dini terhadap berbagai ancaman yang dapat merusak kualitas hidup generasi muda.
Semangat tersebut diwujudkan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Bosowa. Dikemas dalam Bakti Sosial BEM FK Unibos 2026 yang berlangsung di Desa Manimbahoi, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, akhir pekan ini.
Salah satu agenda utama kegiatan ini menghadirkan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa, dr Moh Akhtar Setia Ramadhan Eka Diningrat SKed MSi MKes yang memberikan edukasi kesehatan bertajuk “Cegah Sejak Dini: Bahaya Rokok dan Narkoba bagi Kesehatan Keluarga.”
Di hadapan masyarakat, orang tua, dan remaja Desa Manimbahoi, dr Akhtar mengawali materinya dengan sebuah analogi yang menggugah.
Ia mengibaratkan rokok dan narkoba sebagai “rayap di akar dan tanah yang tercemar.” Menurutnya, rayap tidak langsung merobohkan pohon, tetapi perlahan menggerogoti kekuatannya dari dalam.
Demikian pula rokok dan narkoba yang diam-diam merusak tubuh, keluarga, hingga masa depan generasi muda sebelum mereka memiliki kesempatan untuk berkembang.
Setiap anak terlahir membawa potensi untuk tumbuh dan mekar. Namun rokok dan narkoba dapat menjadi rayap yang menggerogoti kehidupan mereka secara perlahan.
“Jangan sampai generasi kita layu sebelum sempat mekar. Pencegahan selalu jauh lebih baik daripada penyesalan,” ungkap dr. Akhtar.
Pada sesi pertama, peserta diajak mengenali berbagai bentuk rokok, mulai dari rokok konvensional hingga rokok elektronik atau vape yang kini semakin banyak digunakan kalangan remaja. Ia meluruskan anggapan bahwa vape lebih aman dibandingkan rokok biasa.
Menurutnya, persepsi tersebut merupakan kesalahpahaman yang justru dapat membuka jalan menuju ketergantungan nikotin maupun penyalahgunaan zat adiktif lainnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sebagian besar pengguna narkoba berawal dari kebiasaan merokok yang dianggap lumrah di lingkungan pergaulan. Karena itu, mengenali bahaya rokok menjadi langkah awal untuk memutus mata rantai penyalahgunaan narkotika.
Memasuki sesi kesehatan, dr. Akhtar menguraikan dampak medis yang ditimbulkan oleh rokok terhadap tubuh manusia.
Ia menjelaskan bahwa satu batang rokok mengandung lebih dari 4.000 zat kimia, dengan sedikitnya 69 zat bersifat karsinogenik yang dapat memicu kanker.
Ia memaparkan bagaimana paparan zat-zat tersebut secara perlahan merusak paru-paru, meningkatkan risiko bronkitis kronis, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), kanker paru, penyakit jantung, hingga stroke.
Tidak hanya bagi perokok aktif, ancaman yang sama juga mengintai perokok pasif, terutama anak-anak yang rentan mengalami infeksi saluran pernapasan, asma, hingga gangguan tumbuh kembang.
“Rokok tidak hanya melukai orang yang menghisapnya. Anak-anak dan anggota keluarga yang berada di sekitarnya ikut menanggung risiko kesehatan yang sama. Karena itu, menjaga rumah bebas asap rokok adalah bentuk perlindungan paling sederhana sekaligus paling berarti bagi keluarga,” jelasnya.
Materi berlanjut pada bahaya narkoba yang digambarkan sebagai jerat yang semakin erat. dr Akhtar menjelaskan bahwa narkoba bekerja dengan mengubah fungsi otak sehingga memunculkan ketergantungan yang membuat seseorang sulit melepaskan diri tanpa bantuan.
Ia menguraikan dampak jangka pendek seperti halusinasi, hilangnya kontrol diri, perilaku berisiko, hingga overdosis yang dapat menyebabkan kematian.
Sementara dalam jangka panjang, penyalahgunaan narkoba dapat memicu kerusakan permanen pada otak, gangguan kejiwaan, kerusakan organ vital seperti hati, ginjal, dan jantung, serta menghancurkan produktivitas seseorang.
Selain aspek kesehatan, peserta juga diajak memahami dampak sosial dan ekonomi dari kebiasaan merokok maupun penyalahgunaan narkoba.
Melalui simulasi sederhana mengenai pengeluaran rumah tangga, masyarakat diajak membandingkan biaya membeli rokok dengan kebutuhan gizi keluarga, seperti susu dan makanan bergizi bagi anak.
Menurut dr. Akhtar, keputusan sederhana dalam mengelola pengeluaran keluarga dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas kesehatan dan masa depan anak-anak.
“Lebih baik membangun masa depan anak melalui pemenuhan gizi daripada menghabiskan penghasilan untuk sesuatu yang justru merusak kesehatan. Setiap rupiah yang digunakan untuk menjaga keluarga tetap sehat adalah investasi terbaik bagi masa depan mereka,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa rokok dan narkoba tidak hanya merusak tubuh, tetapi turut mengganggu keharmonisan keluarga, menurunkan prestasi belajar, meningkatkan konflik rumah tangga, hingga berujung pada persoalan hukum.
Menutup sesi edukasi, dr Akhtar menekankan pentingnya membangun keluarga sebagai benteng pertama dalam mencegah penyalahgunaan rokok dan narkoba.
Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, keteladanan dalam keluarga, pengawasan terhadap pergaulan, serta penciptaan lingkungan yang sehat menjadi fondasi utama dalam melindungi generasi muda.
Pencegahan dimulai dari rumah. Ketika keluarga mampu menjadi ruang yang aman, penuh perhatian, dan saling mengingatkan, maka peluang anak-anak terjerumus ke dalam rokok maupun narkoba akan jauh lebih kecil.
“Mari kita bangun lingkungan yang sehat agar generasi kita tumbuh, berkembang, dan benar-benar mekar menjadi kebanggaan keluarga dan bangsa,” pungkasnya.
Dari ruang kuliah menuju tengah masyarakat, Bakti Sosial BEM Fakultas Kedokteran Universitas Bosowa menjadi bukti bahwa ilmu kedokteran menemukan makna sesungguhnya ketika hadir untuk melayani.
Seluruh rangkaian kegiatan di Desa Manimbahoi memperlihatkan bagaimana kepedulian, kolaborasi, dan pengabdian mampu menjangkau masyarakat hingga ke pelosos desa.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama untuk membangun generasi yang lebih sehat sekaligus membentuk calon dokter yang tidak hanya cakap secara klinis, tetapi juga memiliki kepemimpinan, empati, dan keberpihakan terhadap persoalan kesehatan masyarakat.
Inilah wajah pengabdian Universitas Bosowa yang terus bergerak, bertumbuh, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. (nas)





