JAKARTA, KOMPAS — Partai-partai politik di parlemen tidak khawatir dengan safari politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo untuk mengonsolidasikan Partai Solidaritas Indonesia atau PSI. Dengan mengenakan atribut PSI dalam rangkaian kunjungannya, Jokowi dinilai semakin menegaskan perpindahan afiliasi politiknya dari PDI Perjuangan ke PSI.
Sebelumnya, Jokowi memulai safari politiknya di Lampung. Ia menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI di Kabupaten Mesuji dan bertemu ribuan kader partai tersebut. Selain Mesuji, Jokowi mengunjungi Tulang Bawang, Pesawaran, dan Lampung Timur. Dalam seluruh rangkaian kegiatan itu, Jokowi mengenakan pakaian dan topi berlogo PSI.
Kunjungan perdana ke Lampung menjadi momentum yang sarat makna politik. Keberhasilan ataupun kegagalan safari tersebut akan menjadi ukuran awal sejauh mana Jokowi masih memiliki pengaruh elektoral sekaligus mampu mendongkrak posisi PSI menjelang kontestasi politik 2029.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia saat dihubungi di Jakarta, Minggu (28/6/2026), mengatakan, Jokowi sebagai warga negara memiliki hak untuk menentukan pilihan politiknya, termasuk bergabung dengan partai tertentu.
"Sebagai warga negara Indonesia, tentu Pak Jokowi sama dengan warga negara lain yang memiliki hak politik. Meski beliau pernah menjadi Presiden, sebelum dan sesudahnya status beliau sama sebagai warga kebanyakan," ujar Doli.
Menurut Doli, tidak ada persoalan ketika Jokowi menegaskan identitas politiknya melalui PSI. Perpindahan afiliasi politik merupakan hal yang lazim dalam dinamika politik nasional.
"Oleh karena itu, tidak ada masalah bila beliau memiliki aspirasi politik dan menegaskan identitas politiknya ke partai politik tertentu. Dulu beliau adalah kader PDI-P, sekarang berpindah menjadi kader PSI, sesuatu yang biasa saja," ujar Doli.
Doli menilai, safari politik Jokowi merupakan bagian dari agenda internal PSI untuk konsolidasi organisasi. Hal serupa juga dilakukan oleh partai-partai lain, termasuk Golkar.
"Dan sebagai pimpinan partai, tentu beliau punya agenda bersama dengan seluruh pengurus dan jajaran PSI. Jadi, kami memaknai roadshow yang beliau lakukan itu adalah bagian dari rencana dan program partai. Sama dengan kami di Golkar yang juga memiliki agenda konsolidasi partai," kata Doli.
Meski demikian, Doli berharap Jokowi tetap dapat menempatkan diri sebagai tokoh bangsa yang mampu menjadi figur pemersatu. "Walaupun demikian, kami berharap beliau tetap bisa juga menempatkan diri sebagai bapak dan tokoh bangsa yang menjadi orang tua bagi kita semua," ujar Doli.
Senada, Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Viva Yoga Mauladi mengatakan, partainya tidak memandang safari politik Jokowi bersama PSI sebagai ancaman politik bagi PAN. "PAN santai saja. PSI bukan ancaman bagi PAN. PSI adalah kawan seperjuangan bagi PAN," tutur Viva.
Menurut Viva, langkah Jokowi membantu PSI merupakan sesuatu yang wajar. Partai-partai yang ingin lolos ambang batas parlemen memang harus aktif turun ke masyarakat dan melakukan konsolidasi sejak dini.
"Bagus. Sudah menjadi tuntutan politik jika partai ingin masuk di DPR dan lolos parliamentary threshold maka para kadernya harus turun ke bawah melakukan konsolidasi dan berjuang terus dari titik ke titik," ujar Viva.
Viva menegaskan PAN tidak merasa terganggu dan memilih menunggu apakah PSI mampu memenuhi ambang batas parlemen pada Pemilu 2029.
Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai dipilihnya Lampung sebagai titik awal safari politik Jokowi bukanlah keputusan yang kebetulan. Menurut dia, daerah tersebut memiliki nilai strategis karena selama dua pemilihan presiden terakhir menjadi salah satu basis dukungan kuat bagi Jokowi.
Jamiluddin menjelaskan, pada Pilpres 2014 Jokowi memperoleh 53,31 persen suara di Lampung. Angka itu meningkat menjadi 59,71 persen pada Pilpres 2019. Bahkan, dari 10 provinsi di Sumatera, hanya Lampung yang mencatat peningkatan dukungan terhadap Jokowi dibandingkan pemilu sebelumnya, sedangkan di sembilan provinsi lain perolehan suaranya justru menurun.
Oleh karena itu, menurut Jamiluddin, Jokowi diduga ingin memulai konsolidasi politik dari wilayah yang diyakini masih memiliki basis dukungan kuat. Sambutan masyarakat Lampung terhadap dirinya dengan membawa identitas PSI diharapkan dapat menjadi modal politik sekaligus menunjukkan bahwa pengaruh politiknya belum memudar.
"Secara politis, Jokowi ingin menunjukkan basis dukungan massa di Lampung sangat besar. Hal itu akan ditunjukkan melalui sambutan warga Lampung terhadap dirinya melalui panji-panji PSI," ujar Jamiluddin.
Jamiluddin menilai, dukungan tersebut penting sebagai sinyal kepada daerah lain bahwa Jokowi masih memiliki daya tarik politik. Efek psikologis dari sambutan meriah di Lampung diharapkan dapat memengaruhi persepsi publik di provinsi lain sekaligus mendongkrak elektabilitas PSI menjelang Pemilu 2029.
Sebaliknya, apabila safari politik itu tidak memperoleh sambutan sesuai harapan, menurut Jamiluddin, upaya memperkuat elektabilitas PSI akan menghadapi tantangan yang lebih berat. "Bila hal itu tidak terjadi, maka safarinya ke daerah lain akan sulit sukses, termasuk dalam mendongkrak elektoral PSI," kata Jamiluddin.
Oleh karena itu, menurut Jamiluddin, kunjungan perdana ke Lampung menjadi momentum yang sarat makna politik. Keberhasilan ataupun kegagalan safari tersebut akan menjadi ukuran awal sejauh mana Jokowi masih memiliki pengaruh elektoral sekaligus mampu mendongkrak posisi PSI menjelang kontestasi politik 2029.





