Keluarga Ungkap Pesan Terakhir dan Kondisi Dokter Icha sebelum Meninggal

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Catatan Redaksi: Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan atau klik www.healing119.id.

Kematian dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. Di tengah penyelidikan polisi terkait penyebab kematiannya, pihak keluarga mengungkap pesan terakhir yang dikirim dr. Icha sebelum meninggal.

Keluarga berencana akan menempuh jalur hukum atas dugaan intimidasi yang dialami dr. Icha saat bertugas menangani pasien di RS Leona Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur.

Paman dr. Icha, Fabi Banase, mengatakan keponakannya sempat mengirimkan pesan singkat yang menggambarkan kondisi psikologisnya setelah insiden dugaan intimidasi tersebut.

Pesan Terakhir Dokter Icha

Menurut Fabi, dalam pesan itu dr. Icha mengaku mengalami tekanan batin yang berat hingga muncul keinginan untuk mengakhiri hidup.

"Dia (korban) bilang punya niat meninggal dunia untuk menghindari trauma. Bapa, saya stres. Kalau saya pulang ke sana (Kefamenanu), saya takut. Biar saya mati saja supaya jangan ada korban nakes yang lain," ujar Fabi menirukan isi pesan dr. Icha.

Fabi menduga kondisi tersebut dipicu dugaan intimidasi yang dialami dr. Icha saat menangani pasien anak korban gigitan ular hijau di RS Leona Kefamenanu.

Ia menyebut, tiga anggota DPRD TTU yang diduga terlibat dalam peristiwa itu yakni Veronika Lake dari PDI Perjuangan, Therensius Lazakar dari Partai Golkar, dan Norbertus Tubani dari PKB.

Menurut Fabi, saat mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona, dua dari tiga anggota DPRD tersebut diduga berada dalam pengaruh minuman keras.

"Mereka dalam keadaan mabuk saat masuk ke ruang UGD," ungkapnya.

Fabi mengatakan, kondisi psikologis dr. Icha terus memburuk setelah kejadian tersebut. Berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan yang diterima keluarga, dr. Icha didiagnosis mengalami episode depresi berat tanpa gejala psikotik dan sebelumnya sempat melakukan percobaan bunuh diri.

"Pada Rabu (23/6/2026), setelah pulang dari Kefamenanu, hasil pemeriksaan di Klinik Utama Dewantara menunjukkan almarhum mengalami depresi berat hingga sempat mencoba mengakhiri hidup," jelasnya.

Keluarga juga menyebut, dr. Icha sempat menjalani perawatan di RS Leona akibat tekanan psikologis yang dialaminya.

"Salah satu di antara mereka berucap dengan nada tinggi, 'Kau akan bertemu saya di Komisi III'," tambah Fabi.

Keluarga Akan Lapor ke Polda NTT

Fabi memastikan keluarga akan melaporkan tiga anggota DPRD TTU ke Polda Nusa Tenggara Timur atas dugaan intimidasi terhadap dr. Icha.

Menurut dia, langkah hukum tersebut akan berjalan bersamaan dengan proses etik yang saat ini ditangani Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU.

"Yang pasti kita ke Polda NTT, laporkan tiga orang anggota DPRD TTU ini ke Polda NTT," tegas Fabi.

Ia mengatakan keluarga tetap menghormati proses etik di DPRD TTU. Namun, proses pidana dinilai perlu segera berjalan.

Fabi menjelaskan sebelumnya keluarga telah berkomunikasi dengan Ketua DPRD TTU. Saat itu, BK DPRD disebut memberikan waktu tujuh hari untuk membuka ruang penyelesaian.

"Kalau dalam tujuh hari tidak ada titik temu, baru mereka bentuk proses laporan itu. Tapi karena secara internal mereka katanya belum selesai, kita tunggu. Yang pasti kami akan kawal," ujarnya.

Ia menegaskan keluarga bersama sejumlah elemen masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan organisasi mahasiswa akan mengawal proses tersebut.

"Bila perlu kita duduki DPR kalau prosesnya tidak berjalan sebagaimana mestinya," tutupnya.

Rekan Kerja: Dr. Icha Berkali-kali Minta Tolong

Kasus ini turut menjadi perhatian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTT.

Rekan kerja sekaligus dokter konsultan dr. Icha, dr. Trimaharani, mengaku menjadi dokter yang dihubungi langsung oleh almarhumah saat menghadapi dugaan intimidasi tersebut.

Menurut dr. Tri, pada malam kejadian dr. Icha berkali-kali menelepon dan mengirim pesan WhatsApp untuk meminta bantuan menjelaskan kondisi medis pasien kepada keluarga pasien maupun anggota DPRD yang berada di rumah sakit.

"Karena malam itu saat kejadian dibentak dan dimarahi, saya yang menjadi tempat konsultasi dr. Icha. Dia berkali-kali menelepon saya meminta tolong agar saya menjelaskan kepada keluarga dan DPR. Sampai sekarang saya masih menyimpan WhatsApp dr. Icha malam itu," ungkapnya.

Ia mengatakan dari komunikasi tersebut terlihat jelas bahwa dr. Icha berada dalam tekanan psikologis.

"Waktu telepon dan WhatsApp kepada saya, dia takut sekali," katanya.

Menurut dr. Tri, seluruh tindakan medis yang dilakukan dr. Icha telah sesuai dengan ilmu kedokteran dan arahan konsultasi yang diberikannya.

Ia menegaskan dr. Icha tidak melakukan kesalahan dalam penanganan pasien tersebut.

Sebelumnya, kasus meninggalnya dr. Icha menjadi perhatian publik setelah keluarga menduga almarhumah mengalami tekanan psikologis akibat dugaan intimidasi saat bertugas menangani pasien di IGD RS Leona Kefamenanu. Polisi saat ini masih menyelidiki penyebab kematian dr. Icha sekaligus mendalami dugaan intimidasi tersebut.

Sementara anggota DPRD TTU yang namanya disebut keluarga telah memberikan klarifikasi. Mereka membantah melakukan intimidasi terhadap dr. Icha dan menyatakan siap memberikan keterangan apabila diminta oleh penyidik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemendikdasmen panggil 60 ribu guru ikuti PPG Guru Tertentu tahap 2 
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Amerikanisasi Piala Dunia 2026
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Anak Bukan Sekadar Dilahirkan, tetapi Juga Dipersiapkan
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Pekan Depan Masih Rawan Terkoreksi, Cermati Analisa Saham-Saham Berikut
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Potongan Aplikasi Ojol 8 Persen Tidak Berlaku untuk Angkutan Roda 4, Ini Penjelasannya
• 11 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.