Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Serbia Aleksander Vucic bakal mengakhiri 12 tahun kepemimpinannya dalam beberapa minggu. Pengumuman ini menyusul demo anti pemerintah oleh mahasiswa yang dilakukan selama 18 bulan.
"Saya hanya akan menjabat sebagai presiden selama beberapa minggu lagi dan saya akan mengundurkan diri," kata Vucic, dikutip dari Reuters, Minggu (28/6/2026).
Vucic seharusnya baru turun dari masa jabatan keduanya pada pertengahan 2027 mendatang. Namun dia juga tak menyebutkan pasti kapan pengunduran diri dan pembubaran parlemen yang dipimpinnnya.
Setelah mundurnya Vucic, Serbia akan mengadakan pemilihan presiden dan parlemen lebih awal dari ketentuan pada 2027 mendatang. Vucic sendiri memastikan dirinya akan membantu partai miliknya Progresif Serbia (SNS) untuk memenangkan pemilihan nanti.
Mahasiswa memimpin protes anti-pemerintah, yang dipicu runtuhnya tenda di stasiun keretap api di kota Novi Sad pada November 2024. Kejadian itu menewaskan 16 orang.
Sejumlah pihak, dari pengunjuk rasa, oposisi, dan kelompok hak asasi manusia menuding kejadian itu sebagai tanda salah urus proyek kontruksi serta korupsi yang meluas.
Keputusan mundur Vucic tidak akan membuat dia meninggalkan panggung politik. Jika partainya menang maka jalan dia menjadi perdana menteri masih terbuka lebar.
"Ini sama sekali bukan akhir dari Vucic. Dia sudah punya rencana dan jelas bukan berarti dia akan pensiun dari dunia politik, justru sebaliknya," jelas analis Radivoje Grujic.
Namun Vucic punya penantang dari aktivis gerakan mahasiswa dan pihak oposisi untuk pemilihan kali ini. Kedua belah pihak menyatakan keinginan besar menantang Vucic dan SNS.
"Dengan mengundurkan diri dan pemilihan presiden serta parlemen dini, Vucic mencoba mencegah kejatuhan tak terhindarkan, karena protes dan gerakan mahasiswa, yang punya dukungan lebih besar dari dirinya," kata kepala gerakan oposisi mahasiswa Move-Change, Savo Manojlovic.
(pgr/pgr) Add as a preferred
source on Google




