Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan domestik dan global pada pekan depan akan memasuki fase krusial seiring dengan rilis rentetan data makroekonomi utama.
Para pelaku pasar memusatkan perhatian pada serangkaian indikator ekonomi yang akan memberikan gambaran komprehensif terkait arah kebijakan moneter, dinamika inflasi, serta ketahanan sektor ketenagakerjaan di berbagai negara.
Dari dalam negeri, rilis inflasi dan neraca perdagangan menjadi tolok ukur fundamental ekonomi nasional.
Sementara itu, dari bursa global, data ketenagakerjaan Amerika Serikat, inflasi kawasan Euro, dan pandangan pejabat bank sentral akan menjadi faktor penentu arus modal lintas batas. Berikut adalah rincian sentimen data ekonomi pekan depan.
Data Lowongan Pekerjaan JOLTs Amerika Serikat
Mengawali pekan, Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat akan merilis laporan pembukaan lapangan kerja atau Job Openings and Labor Turnover Survey untuk bulan Mei 2026 pada hari Selasa.
Pada bulan April 2026, lowongan pekerjaan di AS secara mengejutkan melonjak sebesar 731.000 menjadi 7,618 juta lowongan. Angka tersebut melampaui estimasi pasar di 6,88 juta dan mencetak rekor tertinggi sejak November 2024.
Peningkatan ini menyoroti ketahanan pasar tenaga kerja AS di tengah tekanan kenaikan biaya energi. Secara sektoral, pembukaan lapangan kerja didorong oleh layanan profesional dan bisnis, sementara peningkatan regional terbesar terjadi di wilayah Barat dan Selatan AS.
Tingkat pemutusan hubungan kerja terpantau stabil. Untuk rilis bulan Mei, konsensus memperkirakan lowongan pekerjaan berada di kisaran 7,28 juta hingga 7,4 juta.
Data RatingDog China Manufacturing PMIPada hari Rabu, S&P Global dijadwalkan merilis data RatingDog China Manufacturing PMI. Sebagai rujukan, pada bulan Mei 2026, aktivitas manufaktur Tiongkok mencatatkan moderasi dengan indeks melandai ke level 51,8 dari rekor tertinggi lima tahun di posisi 52,2 pada bulan April.
Meski melandai, pencapaian ini masih berada di atas proyeksi pasar sebesar 51,4. Pertumbuhan pesanan baru dan output termoderasi namun tetap solid, ditopang secara masif oleh permintaan domestik.
Sementara itu, tingkat serapan tenaga kerja sedikit terkontraksi dan waktu pengiriman dari pemasok kembali memanjang.
Tekanan inflasi pada sektor ini mulai mereda dengan perlambatan kenaikan harga input dan output untuk pertama kalinya dalam satu semester terakhir, meskipun biaya produksi tetap tinggi. Tingkat kepercayaan bisnis secara agregat tetap positif didorong oleh ekspektasi pemulihan permintaan.
Inflasi Indonesia Bulan Juni 2026
Pada hari Rabu, Badan Pusat Statistik akan mempublikasikan data inflasi Indonesia periode Juni 2026. Pada Mei 2026, inflasi tahunan Indonesia terakselerasi menjadi 3,08%, naik dari 2,42% pada bulan sebelumnya dan melampaui ekspektasi 2,97%.
Kenaikan ini utamanya didorong oleh sektor makanan yang melonjak 4,94% akibat tingginya harga bahan pokok dan biaya distribusi di berbagai daerah. Selain itu, tekanan harga juga terlihat pada sektor perumahan, transportasi, hingga perawatan kesehatan.
Secara bulanan, indeks harga konsumen meningkat 0,28%. Untuk rilis bulan Juni, konsensus memproyeksikan inflasi akan memiliki kecenderungan naik tipis ke level 3,1%
Angka ini masih tergolong terkendali dan berada di dalam rentang target Bank Indonesia yang ditetapkan sebesar 1,5% hingga 3,5%.
Neraca Perdagangan Indonesia Bulan Mei 2026
Di hari yang sama, Badan Pusat Statistik juga dijadwalkan merilis data neraca perdagangan Indonesia untuk bulan Mei 2026. Kinerja neraca perdagangan nasional sebelumnya menjadi sorotan setelah surplus pada April 2026 menyusut tajam menjadi US$ 0,09 miliar, jauh di bawah ekspektasi US$ 1,5 miliar, dan menjadi surplus terkecil sejak April 2020.
Penyusutan ini didorong oleh lonjakan impor sebesar 22,49% secara tahunan yang dipimpin oleh sektor minyak dan gas. Di sisi lain, ekspor berhasil mencatat pertumbuhan impresif sebesar 21,98% berkat peningkatan ekspor non-migas ke negara mitra dagang utama seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.
Memasuki periode rilis data bulan Mei, pelaku pasar memproyeksikan surplus neraca perdagangan akan kembali membesar ke level US$ 4,0 miliar.
Inflasi Eropa Bulan Juni 2026Bergeser ke kawasan Eropa, Eurostat akan merilis estimasi awal inflasi kawasan Euro untuk bulan Juni 2026. Pada bulan Mei lalu, tingkat inflasi konsumen Zona Euro tertahan di level 3,2%, yang merupakan level tertinggi sejak September 2023 dan di atas target 2,0% dari Bank Sentral Eropa.
Lonjakan inflasi tersebut secara dominan dipimpin oleh biaya energi yang meroket 10,8% akibat kendala pasokan yang dipicu oleh konflik di kawasan Timur Tengah.
Inflasi inti yang tidak memasukkan komponen energi dan makanan juga naik menjadi 2,6%, mengindikasikan bahwa tekanan harga mulai meluas ke sektor jasa dan barang industri. Dari sisi konsensus pasar, proyeksi mengantisipasi rilis inflasi bulan Juni akan melandai tipis ke posisi 3,1%.
Pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh
Agenda krusial lainnya yang sangat dinantikan pada hari Rabu adalah pidato dari Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh. Mengingat dinamika data makroekonomi Amerika Serikat yang berkembang belakangan ini, pandangannya akan menjadi instrumen penting bagi pelaku pasar global untuk mengukur arah kebijakan moneter bank sentral.
Pelaku pasar akan menganalisis dengan cermat setiap detail retorikanya guna mencari indikasi spesifik mengenai apakah The Fed akan mempertahankan rezim suku bunga pada level yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama, atau mulai mempertimbangkan pelonggaran kebijakan. Pernyataan ini akan berdampak langsung pada volatilitas imbal hasil obligasi dan pasar valuta asing.
Memasuki hari Kamis, rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat akan berlanjut dengan publikasi laporan Non-Farm Payrolls periode Juni 2026. Laporan pada bulan Mei menunjukkan bahwa perekonomian AS berhasil menciptakan 172.000 pekerjaan baru, angka yang secara signifikan mengungguli ekspektasi penambahan 85.000 pekerjaan.
Penambahan tenaga kerja terbanyak dicatatkan pada sektor rekreasi, perhotelan, dan pemerintah daerah, meskipun sektor aktivitas keuangan mengalami penyusutan.
Kekuatan fundamental pasar tenaga kerja AS juga dikonfirmasi oleh revisi ke atas pada data historis bulan Maret dan April. Untuk rilis bulan Juni, konsensus pasar memproyeksikan penambahan pekerjaan akan kembali pada laju yang lebih moderat di kisaran 110.000 hingga 114.000 pekerjaan.
Tingkat Pengangguran Amerika SerikatSebagai penutup rangkaian data pada pekan depan, Biro Statistik Tenaga Kerja AS akan mempublikasikan data tingkat pengangguran bulan Juni 2026 pada hari Kamis. Pada bulan Mei 2026, tingkat pengangguran AS berada di level 4,3%, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Jumlah penduduk yang menganggur mengalami penurunan sejalan dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Tingkat partisipasi angkatan kerja tertahan pada 61,8%, yang merupakan angka terendah sejak akhir 2021.
Lebih lanjut, indikator pengangguran U-6 yang mencakup pekerja paruh waktu mengalami penurunan menjadi 8,1%. Pasar memproyeksikan tingkat pengangguran pada bulan Juni akan tetap stabil di level 4,3%, mengkonfirmasi stabilitas tenaga kerja secara menyeluruh.
Sehingga dengan konsistensi ini membuat The Fed terpaksa untuk menghilangkan opsi kenaikan suku bunga pada beberapa pertemuan mendatang akibat pilihan inflasi yang terus merangkak naik nampaknya lebih perlu menjadi fokus utama Fed.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls) Add as a preferredsource on Google




