Pengusaha Tahan Ekspansi, Akui Tekanan Kuartal II/2026 Lebih Berat

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai meningkatnya ketidakpastian ekonomi, baik akibat tekanan global maupun tantangan domestik, mendorong pelaku usaha memilih menahan ekspansi bisnis. Kondisi tersebut berpotensi menekan penciptaan lapangan kerja dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan dunia usaha saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang lebih berat dibandingkan kuartal I/2026. Menurutnya, eskalasi ketegangan geopolitik telah memberikan dampak nyata terhadap pasar keuangan maupun kinerja sektor riil di Indonesia.

“Pelaku usaha prihatin dengan tekanan dan tantangan ekonomi yang ada saat ini, baik di tingkat nasional maupun internasional,” kata Shinta kepada Bisnis, Minggu (28/6/2026).

Selain itu, Shinta menilai pemerintah masih menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas makroekonomi, khususnya nilai tukar yang berdampak terhadap meningkatnya beban usaha.

Di sisi lain, proyeksi inflasi biaya hidup yang masih berada di kisaran batas atas target pemerintah turut membebani daya beli masyarakat.

Apindo juga menyoroti masih terbatasnya kepastian dan prediktabilitas kebijakan pemerintah, mulai dari tata kelola fiskal hingga berbagai kebijakan yang memengaruhi iklim usaha dan investasi. Alhasil, kondisi ini turut meningkatkan tekanan di pasar keuangan dan menambah beban dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Baca Juga

  • Pengusaha Truk di Jateng Keluhkan Sulitnya Mendapat Solar
  • Manfaat Punya Kemampuan Public Speaking untuk Pengusaha
  • Harga BBM Naik, Pengusaha Hotel Teriak Biaya Operasional Bengkak
Dunia Usaha Defensif

Menurutnya, secara keseluruhan kondisi saat ini belum mencerminkan iklim usaha dan investasi yang ideal bagi pelaku usaha maupun calon investor untuk melakukan ekspansi secara agresif, setidaknya dalam jangka pendek hingga menengah.

Shinta menilai dengan prospek pertumbuhan ekonomi sektor riil yang cenderung melambat, dunia usaha akan semakin bergantung pada efektivitas intervensi pemerintah, baik melalui stimulus pasar maupun kebijakan yang mampu meningkatkan produktivitas usaha, ekspor, dan investasi.

Akibatnya, pelaku usaha cenderung bersikap defensif dengan memprioritaskan keberlangsungan usaha dibandingkan memperluas bisnis.

“Karena outlook tersebut, pelaku usaha cenderung defensif atau lebih memilih berfokus pada mempertahankan kinerja usaha yang ada saat ini, bukan pada ekspansi,” ujarnya.

Kondisi tersebut juga berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja karena perusahaan enggan mengambil risiko untuk menambah tenaga kerja. Dampaknya, pertumbuhan lapangan kerja diperkirakan stagnan bahkan cenderung menyusut sehingga pada akhirnya turut membebani kinerja pasar domestik dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Karena itu, Apindo meminta pemerintah memperkuat pengendalian risiko makroekonomi, terutama menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, sekaligus meningkatkan kepastian dan prediktabilitas kebijakan yang memengaruhi iklim usaha.

Selain itu, pemerintah juga didorong memprioritaskan kebijakan yang mampu meningkatkan produktivitas usaha, ekspor, dan investasi tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.

Kendati demikian, sambung dia, dunia usaha memahami tantangan ekonomi yang dihadapi pemerintah tidak mudah. Meski begitu, dia menilai pemerintah perlu tetap responsif, lincah, dan tepat waktu dalam merumuskan kebijakan untuk meredam tekanan eksternal sekaligus memulihkan kepercayaan pelaku usaha dan investor.

Shinta memperkirakan tekanan eksternal masih akan berlanjut dalam 2–3 bulan ke depan. Menurutnya, transparansi pemerintah, keterbukaan dialog dengan para pemangku kepentingan ekonomi, serta fleksibilitas dalam menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan peningkatan produktivitas dan penguatan pasar domestik menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi hingga akhir tahun.

“Transparansi, keterbukaan dialog, dan fleksibilitas ini akan jauh lebih berarti bagi pelaku usaha atau investor dalam menciptakan trust & confidence pelaku usaha untuk melakukan ekspansi usaha di Indonesia dlm jangka pendek-menengah meskipun tekanan-tekanan eksternal masih persisten,” tandasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Forum Taaruf Indonesia: 19 Ribu Pasangan Menikah Lewat Program Golek Garwo
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Singgung Kontroversi Penunjukan Hwang Myung-bo, Presiden Korea Selatan Angkat Suara Atas Kegagalan Son Heung-min Cs di Piala Dunia 2026
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Gratis! Ini Aneka Camilan dan Minuman Bisa Dicicipi di Jakarta Fair 2026
• 5 jam laludisway.id
thumb
Presiden Korea Selatan Kesal Timnasnya Gagal ke 32 Besar Piala Dunia 2026, Tak Ada Penyambutan
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Kolombia vs Portugal 0-0, Los Cafeteros Top 1 Grup K
• 15 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.