TANGERANG, KOMPAS.com - Atrianil (63), yang telah mengabdi selama 40 tahun sebagai guru honorer, mengakhiri masa baktinya pada 23 Juni 2026 dari sebuah SMK swasta di kawasan Jakarta Barat.
Di sana, ia mengajar selama 31 tahun.
Sosoknya menghebohkan jagat media sosial karena video yang menampilkan Atri membuka amplop gaji terakhirnya.
Angka Rp 414.000 tertera sebagai upah akhir dari pengabdian selama 40 tahun.
Baca juga: Kisah Atrianil 40 Tahun Jadi Guru Honorer, Pensiun dengan Gaji Rp 414.000
Saksi kerasnya Jakarta
Pilihan Atri untuk bertahan selama 40 tahun sebagai honorer bukan didasari oleh ketidaktahuan akan pekerjaan lain, melainkan sebuah panggilan nurani.
Pola pikirnya terbentuk sejak pertama kali merantau dari Payakumbuh ke Jakarta pada 1994.
Tumbuh di keluarga petani yang harmonis, sederhana, tetapi berkecukupan di kampung halaman, ia mengaku terkejut melihat kerasnya realitas kemiskinan di ibu kota.
"Ibu kaget pas sampai Jakarta. Kok ada manusia yang tidur di jalanan, kok ada orang tidur di kolong jembatan? Padahal kita sama-sama manusia. Akhirnya seiring berjalannya waktu, ternyata murid Ibu sendiri ada yang tinggal di kolong jembatan," ujar Atri.
Bagi dia, ruang kelas bukan sekadar tempat mentransfer ilmu akuntansi, tetapi menjadi "tempat pulang" bagi para siswanya yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Ia beberapa kali melakukan kunjungan ke rumah siswa untuk memahami kehidupan mereka secara langsung.
"Ibu pernah tanya ke satu murid yang tinggal di kontrakan petak dengan tujuh anggota keluarga, gimana nih cara kalian tidur? Dia bilang, 'kami tidur gantian'. Ada lagi teman guru yang mengganjal perut lapar dengan memperbanyak minum teh manis. Ibu sampai membatin, 'Ya Allah ini guru Jakarta lho, bagaimana yang di pelosok?'," tutur dia.
Baca juga: Gaji Rp 414.000 Sudah Total, Termasuk Tunjangan Mengajar dan Uang Transpor
Bertahan demi integritas
Selama kariernya, Atri bukannya tidak memiliki kesempatan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Namun, ia memilih tetap menjadi honorer karena menolak berkompromi dengan praktik suap.
Pada awal tahun 2000-an, ia pernah ditawari posisi PNS dengan syarat membayar uang pelicin sebesar Rp 5 juta.
Meskipun keluarga besarnya memiliki kepedulian tinggi dan sanggup membantu membiayai bahkan jika tarifnya mencapai puluhan juta rupiah sekalipun, Atri memilih untuk menolak.