AAUI Beberkan Penyebab Premi Asuransi Kecelakaan Diri Turun 31,3%

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat premi asuransi kecelakaan diri atau personal accident turun 31,3% (year on year/YoY) menjadi Rp787 miliar pada kuartal I/2026. Menurut AAUI, penurunan itu bukan semata-mata disebabkan oleh pelemahan kebutuhan masyarakat terhadap proteksi.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan penurunan premi itu perlu dilihat sebagai dinamika portofolio dan kanal distribusi. Pasalnya, produk personal accident di industri asuransi umum banyak berasal dari segmen kumpulan atau kerja sama korporasi, seperti karyawan, lembaga pendidikan, komunitas, peserta kegiatan, pembiayaan, perjalanan, maupun program bundling dengan kanal distribusi tertentu.

“Karena itu, pergerakan premi sangat dipengaruhi oleh waktu perpanjangan polis, program tahunan korporasi, realisasi kegiatan tertentu, penyesuaian kerja sama dengan mitra affinity, serta efisiensi biaya perlindungan di sejumlah perusahaan,” katanya kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (28/6/2026).

Oleh karena itu, lanjutnya, meskipun mobilitas masyarakat tetap tinggi, pencatatan premi dapat tetap menurun apabila terdapat pergeseran waktu pembaruan (renewal), perubahan struktur kerja sama, atau penyesuaian pada kanal distribusi.

Tidak hanya premi yang mengalami kontraksi, AAJI turut menyampaikan bahwa klaim asuransi kecelakaan diri mengalami penurunan sebesar 53,9% YoY menjadi Rp110 miliar pada Maret 2026.

Menurut Budi, penurunan klaim yang lebih dalam ini terjadi karena karakter personal accident yang sangat dipengaruhi oleh jumlah peserta aktif, periode perlindungan, frekuensi kegiatan, dan realisasi klaim dari portofolio tertentu. 

Baca Juga

  • OJK Cermati Dampak Pembentukan PT DSI terhadap Bisnis Asuransi
  • Kans Asuransi Umum Gaet Peluang Baru dari Maraknya Event Olahraga Hingga Konser
  • OJK Ungkap Tantangan Penerapan Skema Pembagian Risiko pada Asuransi Kredit

“Dengan premi Rp787 miliar dan klaim Rp110 miliar pada kuartal I/2026, rasio klaim lini ini masih relatif terkendali, sekitar 14%. Artinya, secara teknis lini ini tetap memiliki ruang untuk dikembangkan, sepanjang perluasan bisnis dilakukan dengan underwriting yang sehat,” sebutnya.

Untuk mendorong pertumbuhan premi lini usaha ini, AAUI mendorong perusahaan asuransi untuk memperluas kerja sama dengan komunitas, sekolah, kampus, perusahaan, platform digital, pembiayaan, perjalanan, olahraga, event, dan ticketing. Produk ini juga cocok dikembangkan dalam bentuk mikro, embedded insurance, atau bundling karena manfaatnya sederhana, mudah dipahami, dan preminya relatif terjangkau.

“Biasanya produk personal accident diminati pada situasi yang berkaitan dengan mobilitas dan aktivitas tertentu, seperti perjalanan, kegiatan olahraga, konser atau event besar, kegiatan sekolah dan kampus, aktivitas komunitas, pekerjaan lapangan, hingga perlindungan karyawan atau peserta program tertentu,” ungkap Budi.

Lebih jauh, pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Asuransi Candi Utama ini tidak menampik masih ada tantangan yang dirasakan industri dalam menjual produk asuransi kecelakaan diri. 

Tantangan ini mencakup rendahnya kesadaran masyarakat terhadap risiko kecelakaan, persepsi bahwa produk ini kurang mendesak, nilai premi yang relatif kecil sehingga membutuhkan skala distribusi besar, serta kebutuhan edukasi agar manfaat dan pengecualian polis dipahami dengan baik. Selain itu, perusahaan asuransi juga harus menjaga agar produk tetap sederhana namun tetap dikelola dengan prinsip underwriting yang prudent.

Kendati demikian, Budi mengatakan AAUI tetap melihat lini personal accident memiliki prospek yang positif hingga akhir 2026, meskipun pada kuartal I/2026 terjadi penurunan.

“Karena kebutuhan proteksi kecelakaan diri tetap relevan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, aktivitas event, sport tourism, perjalanan, dan pola distribusi digital. Pertumbuhan kemungkinan akan lebih banyak ditopang oleh kanal kerja sama, bundling, affinity, dan embedded insurance, bukan hanya dari penjualan ritel konvensional,” pungkas Budi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo: Lebih dari 200 BUMN Ditutup dari 1.077, Akan Sisakan 250 Perusahaan
• 13 jam laludisway.id
thumb
Soroti Kemajuan Digital, Prabowo Sebut Mesin Kini Kalahkan Juara Catur
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Prabowo pangkas 1.000 BUMN jadi 250, ingin efisien dan transparan
• 12 jam laluantaranews.com
thumb
Korban Penyekapan di Percetakan Senen Ditampar-Dipukul Besi, Alami Pendarahan
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Sabtu Malam, 4 Mobil Parkir Liar di Senopati Jaksel Ditindak Dishub
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.