Pantau - Pelatih kepala MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Timo Scheunemann menyatakan pembinaan pesepak bola putri di Indonesia kini telah berjalan secara sistematis melalui program MLSC All-Stars dan Hydroplus Soccer League sebagai upaya menyiapkan talenta masa depan tim nasional putri Indonesia.
Program Berjenjang Siapkan Talenta Timnas PutriTimo mengatakan, "Sekarang (sistem pembinaan) kita sudah sistematis, saya jadi optimistis, ke depan kita punya banyak talenta yang menjadi masa depan tim nasional putri Indonesia."
Kedua program yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation tersebut menerapkan pembinaan secara berjenjang mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA).
MLSC All-Stars menjadi wadah pembinaan bagi kelompok usia U12 dan U14, sedangkan Hydroplus Soccer League diperuntukkan bagi kelompok usia U15 dan U18.
Menurut Timo, berbagai turnamen tersebut berfungsi sebagai talent pool untuk menyeleksi pemain secara bertahap hingga menghasilkan pesepak bola terbaik yang siap mengisi tim nasional putri Indonesia.
Ia mengatakan, "Jadi, talent pool itu pasti, tetapi saya lebih mementingkan itu sistemnya."
Sistem Pembinaan Dinilai Jadi Kunci PrestasiTimo yang juga menjabat sebagai pelatih kepala tim nasional putri U17 Indonesia menilai sistem pembinaan serupa telah diterapkan di berbagai negara yang sukses mengembangkan sepak bola putri.
Ia menegaskan jumlah penduduk bukan faktor utama dalam membangun prestasi karena yang dibutuhkan hanya sejumlah pemain terbaik dengan proses seleksi yang objektif dan berkelanjutan.
Timo mengatakan, "Yang menentukan itu sistematis pembinaannya. Pembinaan yang bagaimana, Pemilihan pemainnya gimana gimana, semuanya harus objektif dan mengutamakan keterampilan."
Menurut Timo, pembinaan pesepak bola putri di Indonesia tidak hanya dapat bergantung pada MLSC dan Hydroplus Soccer League, tetapi juga terbuka bagi program lain yang memiliki sistem serupa.
Ia mengungkapkan, “Program yang ada saat ini seperti jalan tol-nya sehingga ke depan jika ada program yang hadir di kota-kota lain tinggal disinkronisasikan.”




