Ruang Publik di Pesisir Jakarta: Hidup Berkat Warga, Terbentur Keterbatasan Lahan

kompas.com
9 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di Jakarta, upaya menghadirkan ruang publik terus dilakukan melalui pembangunan taman, RPTRA, hingga fasilitas olahraga.

Di kawasan pesisir Jakarta, ruang publik hadir di tengah permukiman padat, kawasan industri, hingga lingkungan pesisir. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat berupaya memaksimalkan ruang yang ada.

Ada yang menghidupkan RPTRA dengan berbagai kegiatan, ada pula yang memanfaatkan lapangan sederhana di bawah kolong jalan layang sebagai ruang belajar. Di sisi lain, terdapat pula ruang publik yang akhirnya terbengkalai karena tak lagi dapat dimanfaatkan warga.

Masyarakat pesisir mencoba memaksimalkan ruang yang ada

Di bawah laju kendaraan Tol Pelabuhan, RPTRA Sungai Bambu menjadi salah satu ruang publik yang paling ramai di Jakarta Utara.

Baca juga: Murah, Sederhana, tapi Ampuh: Rahasia Iklan Sedot WC Bertahan di Ruang Publik

Pada Selasa (23/6/2026) sore, anak-anak bermain di lapangan futsal kecil di bagian belakang RPTRA. Di sisi lain, pelajar berseragam pramuka mengikuti kegiatan di teras. Area yang dipenuhi tanaman itu juga dihiasi payung-payung warna-warni hasil swadaya warga.

Sekretaris sekaligus pengelola RPTRA Sungai Bambu, Asmaida, mengatakan ruang publik tersebut memang dibangun untuk menjawab keterbatasan ruang di kawasan permukiman padat.

RPTRA yang berdiri di atas lahan seluas 3.838 meter persegi itu menjadi RPTRA pertama di Jakarta yang diresmikan pada 2015.

Awalnya, lokasi tersebut merupakan tempat pembuangan sampah. Kawasan itu kemudian diubah menjadi RPTRA yang melayani kegiatan anak, pemberdayaan masyarakat, hingga kebencanaan.

Baca juga: Dino, Teddy, dan Nutrisi bagi Ruang Publik

"RPTRA itu memang dibangun di permukiman padat dengan tujuan menjadi ruang ketiga bagi keluarga-keluarga yang tidak memiliki lokasi bermain di rumahnya," jelas dia kepada Kompas.com, Selasa.

Menurut Asmaida, RPTRA tersebut kini selalu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari pendampingan belajar gratis, latihan futsal, pencak silat, taekwondo, senam, pengajian, hingga pertemuan warga.

Selain kegiatan rutin, warga juga mengelola kebun sayur, hidroponik, bank sampah, hingga pengumpulan minyak jelantah. Hasil penjualannya kemudian digunakan kembali untuk membantu kebutuhan perawatan RPTRA.

Asmaida mengatakan, keberlangsungan RPTRA tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah, tetapi juga keterlibatan masyarakat.

Baca juga: Flyover Kalibata Jadi Arena Layang-layang, Tanda Minimnya Ruang Publik

"Jujur saja, tidak semua itu bisa di-cover oleh anggaran Pemprov. Nah, kami melibatkan peran serta masyarakat dan CSR. Tapi yang paling besar adalah masyarakat. Contohnya payung-payung hias ini, merupakan hasil swadaya ibu-ibu kader. Kemudian tanaman-tanaman juga didukung oleh kader. Jadi masyarakat dilibatkan supaya merasa memiliki tempat ini," tutur dia.

Ia mengakui kondisi fisik RPTRA Sungai Bambu masih jauh dari ideal. Lokasinya yang berada di bawah kolong tol membuat ruang publik itu harus menghadapi polusi kendaraan serta keterbatasan ruang.

Meski demikian, menurut dia, fungsi sosial RPTRA tetap berjalan karena terus dimanfaatkan warga.

"Kalau dibilang apakah ini sudah ideal, jujur jauh dari ideal. Tapi kembali lagi, dari sisi fungsi, kami meyakini bahwa tempat ini benar-benar berfungsi," ucap dia.

Baca juga: Belajar dari Milan, Pemprov DKI Diminta Perbanyak Ruang Publik dan Urban Farming

Cara serupa juga dilakukan di Lapangan Futsal Cakung Drain, Cilincing, yang berada di bawah kolong Jalan Raya Cilincing menuju Marunda.

Puluhan anak berkumpul di lapangan yang sebagian catnya telah terkelupas itu pada Sabtu (27/6/2026). Mereka duduk berderet rapi menghadap seorang pria yang berdiri di dekat gawang dan papan tulis.

Sejak Sabtu (16/5/2026), lapangan futsal itu setiap akhir pekan berubah menjadi ruang belajar bagi Komunitas Kelas Jurnalis Cilik.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Pendiri Kelas Jurnalis Cilik, Syamsudin Ilyas, mengatakan komunitasnya memang berpindah-pindah memanfaatkan ruang publik di kawasan pesisir Jakarta Utara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
INSA Menilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia Perkuat Tata Kelola SDA
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Hacker Rusia Diduga Dalang Serangan ke Jaguar Land Rover, Kerugian Capai Rp 44 T
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Kepercayaan Publik terhadap Polri Meningkat Jadi Modal Sosial yang Harus Diperkuat
• 16 jam lalurctiplus.com
thumb
Hasil Piala Dunia 2026: Kanada Melaju ke 16 Besar, Jesse Marsch Sebut Pemainnya Pahlawan
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
AS lakukan serangan lanjutan terhadap Iran
• 23 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.