Liputan6.com, Yogyakarta - Ada sebentuk riak yang berbeda ketika kita melangkahi batas gerbang Makam Karangkajen. Bukan rasa ngeri yang datang, melainkan getaran heroisme masa lalu dan sebuah pesan bisu tentang bagaimana jubah perbedaan ormas bisa luruh di hadapan sepetak tanah kuburan.
Langkah kaki di Pemakaman Islam Karangkajen, Yogyakarta, kerap terhenti pada pemandangan unik di antara jajaran nisan para ulama. Di beberapa sudut makam yang padat, berdiri ornamen berbentuk bambu runcing dengan ikatan bendera Merah Putih berukuran kecil di atasnya.
Advertisement
Di sana, 'tertidur' para pahlawan muda dan veteran perang kemerdekaan 1945 yang bertaruh nyawa demi kedaulatan Indonesia, termasuk salah satunya Aris Munandar, sang Pahlawan Muda Ampera.
Sisi menyentuh dari klaster makam pejuang ini adalah tiadanya papan nama di atas pusara mereka. Kepada Liputan6.com, Juru Kunci Kompleks Pemakaman Karangkajen, Nur Samhudi (63), mengungkapkan bahwa ketiadaan nama tersebut merupakan keputusan sadar dari pihak keluarga demi menjaga kemurnian niat dan tauhid.
"Di sini banyak juga yang tidak pakai nama. Ada yang dari keluarganya supaya ahli warisnya itu tidak mau dipuja-puja atau bagaimana katanya. Artinya itu kan veteran gitu. Kan di sini ada yang pakai bendera-bendera di makamnya, itu penandanya," tutur Nur sambil membelai salah satu ornamen bambu runcing penanda makam pejuang.
Dukungan warga Karangkajen terhadap perjuangan bangsa memang telah mengakar kuat sejak masa KH Ahmad Dahlan mengawali dakwah memurnikan Islam di Indonesia. Wilayah ini dihuni oleh orang-orang militan, khususnya dari kalangan saudagar batik yang menyokong penuh pendanaan dan pergerakan dakwah Muhammadiyah.
Ikatan emosional yang erat antara sang Kiai dan para saudagar batik inilah yang mendasari alasan mengapa KH Ahmad Dahlan secara khusus meminta agar dirinya dimakamkan di pemakaman Islam Karangkajen ini.
"Semangat juang dan pengorbanan para pendahulu kampung inilah yang terus diwarisi oleh generasi-generasi pejuang berikutnya di masa kemerdekaan," kata Nur.




