Banjir Gurun Taklamakan Membongkar Kebohongan “Gurun Berubah Menjadi Tanah Subur”

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Gurun Taklamakan di Xinjiang merupakan gurun terbesar dan paling kering di Tiongkok. Namun, pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) selama ini mendorong program pembukaan lahan pertanian di kawasan tersebut. Tak disangka, hujan lebat yang sangat jarang terjadi baru-baru ini memicu banjir besar yang menyebabkan rumah-rumah dan lahan pertanian di wilayah Hotan (Hetian) mengalami kerusakan parah. 

Bencana ini disebut-sebut membongkar klaim bahwa “gurun telah berubah menjadi lahan pertanian subur”, meskipun informasi mengenai kejadian tersebut dikabarkan dibatasi oleh pemerintah.

Di bagian selatan Xinjiang, Gurun Taklamakan memiliki curah hujan tahunan rata-rata hanya sekitar 50 milimeter. Namun, pada 20 Juni, wilayah Hotan di tepi gurun diguyur hujan deras. Dalam waktu tiga jam, jumlah curah hujan telah melampaui rata-rata curah hujan selama satu tahun penuh. 

Hujan tersebut memicu banjir bandang dan aliran lumpur, menggenangi banyak ruas jalan serta merusak tanaman pertanian. Pada sore 23 Juni, beberapa kecamatan di Kabupaten Hotan kembali dilanda hujan lebat yang menyebabkan banjir.

Kebun Kurma Terkubur Pasir

Kota Kunyu, yang terkenal sebagai penghasil kurma merah Hetian (Hetian Jujube) berkualitas tinggi, mengalami kerusakan besar setelah banjir. Sebagian besar kebun kurma tertimbun pasir dan lumpur.

Seorang petani yang terdampak mengungkapkan bahwa air menggenangi kebun selama dua hari sebelum akhirnya berhasil dipompa keluar. Pohon-pohon kurma yang telah ditanam lebih dari sepuluh tahun, dengan tinggi sekitar tiga meter dan sedang berbuah lebat, kini sekitar dua pertiga batangnya tertimbun pasir. Ia khawatir pohon-pohon tersebut tidak dapat diselamatkan, sementara upaya menggali kembali kebun memerlukan pekerjaan yang sangat berat.

“Baik rumah maupun tanaman pertanian mengalami kerugian yang cukup serius. Di Kunyu ada ribuan mu (hektare) ladang gandum. Baru separuh yang berhasil dipanen, lalu turun hujan lebat sehingga separuh sisanya terendam dan rusak. Kebun kurma kami tertutup endapan lumpur sedalam satu hingga dua meter. Rasanya benar-benar hampir putus asa,” ujar seorang petani Kunyu bermarga Hu. 

Banjir Bandang Akibat Mencairnya Gletser

Kunyu terletak di kaki Pegunungan Kunlun. Seorang petani lain mengungkapkan bahwa akibat perubahan iklim, mencairnya gletser serta banjir bandang dari pegunungan menyebabkan kebun-kebun kurma di kawasan pengembangan Kabupaten Moyu terendam air selama berhari-hari. Akibatnya, banyak pohon kurma mati.

Menurutnya, para petani tidak memperoleh bantuan, sementara biaya yang telah mereka keluarkan—seperti sewa lahan, listrik, air, pupuk, dan tenaga kerja—menjadi sia-sia.

“Di kota memang turun hujan deras, tetapi di tempat kami bukan sekadar hujan, melainkan banjir besar. Selama bulan Juni sudah dua kali terjadi banjir bandang. Semua pohon kurma di sini mati. Di lahan seluas sekitar 5.000 mu ini ada lebih dari 30 keluarga petani, sebagian besar berusia antara 50 hingga 70 tahun,” kata seorang petani bermarga Wu. 

 “Kami tidak punya alat berat seperti ekskavator dan tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Lumpur setebal tujuh sampai delapan meter hanya bisa kami gali dengan sekop. Tidak ada pihak yang datang membantu. Bahkan jalan raya dibersihkan sendiri oleh para petani,” tambahnya. 

Klaim “Gurun Menjadi Sawah” Dipertanyakan

Menurut keterangan para petani setempat, kawasan “Proyek Pengelolaan Gurun seluas 73.800 mu” di tepi selatan Gurun Taklamakan telah diratakan tahun lalu untuk dijadikan lahan pertanian.

Di kawasan tersebut ditanam ribuan mu tanaman alfalfa, gandum oat, serta sekitar 8.200 mu gandum musim dingin. Proyek itu dipromosikan sebagai keberhasilan mengubah “gurun menjadi lahan pertanian subur”, sekaligus menarik masyarakat untuk membuka lahan baru.

Saat ini gandum sebenarnya telah siap dipanen. Namun, karena hujan terus turun, panen tertunda sehingga menimbulkan perhatian publik. Menurut para petani, pemerintah membatasi penyebaran informasi karena khawatir narasi keberhasilan proyek tersebut dipertanyakan.

“Di gurun hujan turun selama sekitar sepuluh hari secara berselang-seling. Di antaranya ada tiga hingga empat kali hujan deras hingga sangat lebat. Bahkan gurun pun mengalami banjir,” kata seorang petani bermarga Zhao. 

“Kami dilarang menyiarkan kondisi ini secara langsung karena khawatir orang-orang akan berbicara apa adanya dan memperlihatkan situasi sebenarnya kepada publik melalui kamera. Kalau ada masalah, semua orang pasti akan mengetahuinya,” ujarnya. 

Laporan NTD Television oleh reporter Xiong Bin dan Chen Jianming


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Imigrasi Cabut Izin Tinggal Dua WNA Bermasalah di Bali, Diduga Ada Kaitannya dengan Kasus yang Menjerat Silmy Karim
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Said Didu Sorot Ritual Jokowi: Wuiihhh Kepala Banteng Diinjak
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Lewandowski Dikabarkan Gabung ke MLS Bersama Chicago Fire Musim Depan
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Pemkot Jakarta Utara Dukung Turnamen Tinju Penjaringan untuk Tekan Aksi Tawuran Remaja
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Prabowo Sebut Kemajuan Teknologi Bisa Berdampak Positif dan Negatif
• 23 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.