Mereka Menyelamatkan Nyawa, Siapa Melindungi Mereka?

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Seorang remaja korban gigitan ular baru saja tiba di instalasi gawat darurat salah satu rumah sakit di Kabupaten Timor Tengah Utara, Sabtu (13/6/2026) sore. Sebagai dokter jaga, dr Eliza Princila Utami Pakaenoni (28) atau dipanggil Icha, harus mengambil keputusan dalam hitungan menit. Dalam dunia kedokteran, setiap detik bisa menentukan hidup dan mati seseorang.

Namun, malam itu, bukan hanya racun ular yang harus ia hadapi. Saat sedang menangani pasien, Icha diduga menerima tekanan dan intimidasi verbal dari keluarga dan sejawat pasien. ”Tekanan bersama (oleh) tiga orang sekaligus dengan dengungkan jabatan mereka sebagai anggota DPRD,” kata Viktor Manbait, keluarga Icha, pekan lalu (Kompas.id, 27/6/2026).

Baca JugaDokter Bunuh Diri Terintimidasi Anggota DPRD Timor Tengah Utara, Ketua Dewan Minta Maaf
Baca JugaDokter di NTT Bunuh Diri, Diduga Depresi akibat Intimidasi 3 Anggota DPRD

Menurut Viktor, beberapa orang yang menjenguk pasien di rumah sakit memaksa sang dokter memberikan obat antibisa kepada pasien. Icha berkukuh bahwa sesuai prosedur medis, tidak perlu antibisa karena gigitan ular masih dalam fase lokal.

Saat itu, Icha juga telah berkonsultasi kepada dokter Tri Maharani, dokter spesialis gawat darurat yang juga ahli gigitan ular dari Kementerian Kesehatan. "Dokter Icha konsul soal kondisi pasien ke saya pada tanggal 13 Juni. Dari data-data yang disampaikan, saya juga merekomendasikan pasien menjalani observasi dan terapi suportif tanpa pemberian antibisa ular. Jadi, tindakan dokter Icha sudah benar," kata Tri, di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Namun demikian, beberapa orang yang menjenguk pasien memaksa sang dokter memberikan obat antibisa kepada pasien. Dokter Icha berkukuh bahwa sesuai prosedur medis, tidak perlu antibisa. Karena tidak terima atas penjelasan sang dokter, ketiga anggota dewan yang turut dalam rombongan keluarga tersebut marah-marah. Mereka pun mengancamnya.

Dokter Icha diduga mengalami depresi berat setelah intimidasi oleh anggota dewan itu. Dia kemudian dipulangkan ke orang tuanya di Kupang, dengan kondisi masih depresi dan ditemukan meninggal dunia pada Jumat lalu.

Kepolisian menyatakan penyebab kematiannya adalah bunuh diri. Keluarga mengatakan, hal itu karena depresi berat setelah peristiwa intimidasi itu. Mereka juga mengungkapkan bahwa dr Icha telah beberapa kali mengeluhkan tekanan yang dialaminya kepada orang-orang terdekat.

Dokter Icha diduga mengalami depresi berat setelah intimidasi oleh anggota dewan itu.

Baca JugaKasus Dokter Bunuh Diri, Polisi Segera Panggil 3 Anggota DPRD Timor Tengah Utara
Baca JugaRiset Menunjukkan, Dokter Perempuan Lebih Rentan Bunuh Diri

Kementerian Kesehatan kini bersama aparat penegak hukum masih mengusut dugaan intimidasi yang melatarbelakangi tragedi itu. Seperti diberitakan Kompas.com, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan Direktorat Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan dan Inspektorat Jenderal Kemenkes saat ini sedang dalam proses menangani kasus ini.

Aji mengatakan, pihaknya akan melakukan investigasi menyeluruh terkait dugaan intimidasi yang dialami almarhumah oleh individu tertentu. “Setiap tenaga kesehatan berhak mendapatkan perlindungan, rasa aman, dan penghormatan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Tidak boleh ada intimidasi, tekanan ataupun tindakan yang merendahkan martabat tenaga kesehatan,” kata Aji, Minggu (28/6/2026).

Apa pun kesimpulan investigasi nantinya, satu hal sudah tidak dapat disangkal, dokter juga bisa patah.

Tragedi ini terjadi hanya sebulan setelah Indonesia kehilangan empat dokter muda program internship yang meninggal ketika sedang menjalankan pengabdian di berbagai daerah. Rentetan kabar duka itu memperlihatkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kehilangan tenaga medis. Ia memperlihatkan betapa rapuhnya perlindungan terhadap orang-orang yang setiap hari mempertaruhkan hidupnya demi menyelamatkan nyawa orang lain.

Baca JugaEmpat Dokter Internship Meninggal dalam Tiga Bulan, PDUI: Ini Alarm Serius
Baca JugaDokter Spesialis di Indonesia Belum Merata, Kemenkes Buka Beasiswa
Dokter juga manusia

Ada satu kesalahan yang selama ini sering dilakukan masyarakat. Kita menganggap dokter sebagai manusia yang selalu kuat.

Mereka dianggap mampu bekerja tanpa lelah, sanggup menerima kemarahan keluarga pasien, tahan terhadap tekanan, dan selalu tenang menghadapi kematian. Seolah-olah ketika mengenakan jas putih, mereka kehilangan hak untuk merasa takut, sedih, cemas, atau terluka.

Padahal tidak. Dokter tetap manusia. Mereka dapat mengalami kelelahan, depresi, kecemasan, trauma, gangguan tidur, hingga kehilangan harapan. Mereka juga dapat menangis setelah gagal menyelamatkan pasien. Mereka bisa membawa pulang beban emosional yang tidak pernah terlihat oleh orang lain.

Selama pandemi Covid-19 misalnya, dunia menyebut tenaga kesehatan sebagai pahlawan. Namun setelah pandemi berlalu, perhatian terhadap kesehatan mental mereka perlahan menghilang, sementara tekanannya tetap ada.

Padahal, beban psikologis profesi dokter termasuk yang paling berat di dunia. Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa dokter memiliki risiko depresi, burnout, dan bunuh diri yang lebih tinggi dibanding populasi umum.

Meta-analisis yang dipimpin Dante Duarte dari Harvard Medical School dan dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry pada 2020 menunjukkan bahwa dokter merupakan kelompok profesi dengan risiko bunuh diri lebih tinggi dibanding populasi umum. Studi tersebut juga menemukan sekitar 17 persen dokter pernah mengalami pikiran bunuh diri selama karier mereka. Temuan itu memperlihatkan bahwa ancaman terbesar terhadap dokter tidak selalu datang dari penyakit yang mereka tangani, tetapi juga dari beban psikologis profesinya sendiri.

Studi ini menyebut penyebabnya hampir serupa di banyak negara, yaitu jam kerja panjang, tekanan emosional, budaya perfeksionisme, rasa takut dianggap lemah jika mencari bantuan psikologis. Selain itu, yang juga sangat penting adalah kekerasan verbal maupun intimidasi dari pasien atau keluarganya.

Ironisnya, profesi yang paling memahami kesehatan mental justru sering kali menjadi profesi yang paling sulit meminta pertolongan. Banyak dokter khawatir dicap tidak kompeten jika mengakui mengalami depresi atau gangguan psikologis. Mereka memilih diam. Dan terkadang, diam itu berakhir tragis.

Ironisnya, profesi yang paling memahami kesehatan mental justru sering kali menjadi profesi yang paling sulit meminta pertolongan.

Baca JugaPerlindungan terhadap Tenaga Kesehatan Perlu Payung Hukum
Baca JugaPerlindungan Tenaga Kesehatan: Wacana atau Komitmen?
Tekanan yang tak terlihat

Kasus dr Icha memperlihatkan bahwa perlindungan terhadap dokter tidak cukup dimaknai sebagai perlindungan fisik. Selama ini kita lebih banyak berbicara tentang alat pelindung diri, keamanan rumah sakit, atau risiko penyakit menular.

Padahal ancaman terbesar kadang datang dalam bentuk yang tidak meninggalkan luka di tubuh. Bentakan, intimidasi, perundungan, terutama oleh orang berkuasa bisa berakibat fatal pada mental seseorang, termasuk juga bagi dokter.

Luka-luka seperti itu mungkin tidak terlihat dalam hasil pemeriksaan laboratorium. Namun dampaknya dapat menghancurkan kesehatan mental seseorang.

Dalam kasus dr Icha, keluarga menyebut tekanan itu begitu berat hingga mengubah kondisi psikologisnya. Sebelum meninggal, ia telah menceritakan tekanan tersebut kepada orang-orang terdekatnya. Fakta ini menunjukkan pentingnya sistem yang mampu mendeteksi dan merespons ketika seorang tenaga kesehatan mulai mengalami tekanan psikologis akibat pekerjaannya.

Sayangnya, sistem semacam itu masih sangat minim di Indonesia. "Mei 2026 bulan yang lalu media massa banyak membahas tentang meninggalnya empat orang dokter internship di berbagai daerah di Tanah Air kira. Sedihnya, belum hilang duka cita kita maka hari-hari ini berbagai media massa kembali menuliskan tentang meninggalnya seorang dokter, dr Icha yang diberitakan diduga mengalami intimidasi saat menangani pasien anak korban gigitan ular di RS di NTT," kata dokter dan Guru Kedokteran Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama.

Baca JugaRisiko Pekerjaan Dokter
Baca JugaKematian Dokter, Risiko Tugas atau Korban Strategi?

Ia mengingatkan bahwa dokter di puskesmas maupun rumah sakit pada hakikatnya bekerja untuk menolong pasien. Setiap dokter telah mengucapkan Sumpah Hipokrates untuk mengutamakan keselamatan pasien.

Namun masyarakat juga perlu memahami bahwa pengobatan adalah sebuah proses ilmiah. Tidak semua pasien dapat disembuhkan. Tidak semua penyakit memiliki terapi instan.

Tidak semua rumah sakit memiliki fasilitas lengkap. "Jadi, dokter akan menjalankan profesinya secara sepenuhnya sesuai kaidah ilmu yang ada serta prosedur yang tepat," kata Tjandra.

Dalam kondisi gawat darurat, dokter harus mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan terbaik yang tersedia, kondisi pasien, serta keterbatasan fasilitas yang ada.

Karena itu, ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan, menyalahkan dokter yang sedang berjuang justru memperburuk keadaan.

Dokter di daerah harus memperoleh kepastian hukum, perlindungan keamanan, jenjang karier yang jelas, serta dukungan terhadap keluarganya.

Negara harus hadir

Menurut Tjandra, kasus dr Icha juga menjadi ujian bagi negara. "Pemerintah kita perlu hadir untuk melindungi dokter dalam menjalankan profesi mulianya," kata Tjandra.

Kementerian Kesehatan telah menegaskan bahwa setiap tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan saat menjalankan tugas profesinya. Namun perlindungan itu tidak boleh berhenti sebagai pernyataan. Rumah sakit harus memiliki mekanisme yang jelas ketika tenaga kesehatan mengalami intimidasi.

Harus tersedia layanan konseling psikologis bagi dokter yang mengalami peristiwa traumatis. Setiap laporan intimidasi harus segera ditindaklanjuti. Dokter di daerah harus memperoleh kepastian hukum, perlindungan keamanan, jenjang karier yang jelas, serta dukungan terhadap keluarganya.

Jika Indonesia ingin memperkuat layanan kesehatan primer, maka yang harus diperkuat bukan hanya gedung puskesmas atau distribusi dokter. Namun, yang juga harus diperkuat adalah rasa aman mereka.

Apa pun hasil penyelidikan nantinya, kasus dr. Icha telah mengajarkan satu hal yang sangat penting. Dokter bukanlah mesin penyelamat nyawa. Mereka bukan manusia super.

Mereka bisa kelelahan. Mereka bisa depresi. Mereka bisa terluka oleh kata-kata. Dan mereka juga membutuhkan pertolongan.

Kita tentu berharap tidak ada lagi dokter yang kehilangan nyawanya setelah lebih dahulu kehilangan rasa aman. Sebab ketika seorang dokter tidak lagi merasa aman menjalankan profesinya, sesungguhnya yang sedang kita pertaruhkan bukan hanya keselamatan tenaga kesehatan. Yang sedang dipertaruhkan adalah masa depan pelayanan kesehatan Indonesia.

Karena pada akhirnya, setiap kita akan datang ke ruang gawat darurat dengan harapan yang sama, masih ada seorang dokter yang bersedia berdiri di sana, menolong tanpa rasa takut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menbud Sebut Ruang Kreatif Berperan Strategis Menjaga Kelestarian Budaya
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Meski Dibuka Menguat, Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 18.000 Hari Ini
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Minyakita Diduga Berbau Solar, Bulog Tarik Seluruh Produk PT KMR
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Ombudsman Minta Pelatihan Militer Manajer Kopdes Dihentikan Sementara
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Krisis Penerus Perajin di Jawa Barat Jadi Perhatian Dedi Mulyadi, Maestro Tradisional Siap Digaji untuk Mengajar
• 2 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.