Bagi sebagian orang, memilih menjadi perantau artinya menerima kutukan selamanya atas hidup yang tak akan pernah berpijak. Ada perasaan mengambang, asing, dan liyan yang terus menghantui di setiap langkah.
Bagi seorang novelis, ini adalah kondisi yang kurang menguntungkan dan dapat menimbulkan kegelisahan. Sebab, pada banyak mahakarya sastra—sebut saja Ronggeng Dukuh Paruk atau Bumi Manusia—latar tempat justru punya peran besar dalam cerita. Tanpa perasaan terhubung pada tempat mana pun, bagaimana caranya menggubah karya dengan kekuatan serupa?
Sebagai perantau, Ruhaeni Intan memendam kegelisahan itu. Penulis-novelis kelahiran Pati, Jawa Tengah itu sudah merantau sejak usia 18 tahun saat melanjutkan kuliah ke Semarang. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke Jakarta untuk bekerja dan kini tengah melabuhkan sauhnya di Yogyakarta.
Perjalanan, diakuinya, memang melahirkan banyak ide dan perspektif untuk karya-karyanya. Demikian pula keputusan merantau ke Jogja yang mempertemukannya dengan ekosistem sesama penulis, pegiat sastra, hingga penerbit.
"Aku tuh pengen kerja sambil nulis. Pokoknya nulis, nulis, nulis. Aku belum tahu apakah akan menerbitkan buku atau gimana. Nah, aku memandang Jogja itu kota yang tepat karena informasi sepintas yang aku ketahui ya dia kota pelajar. Dari cerita teman-temanku, di sana juga banyak diskusi, banyak acara," kata Intan kepada Pandangan Jogja, Jumat (26/6).
Namun, di tengah ekosistem literasi itu, ia merasa mengambang. Tinggal di Jogja tak lantas membuat Intan merasa sah mentasbihkan diri sebagai orang Jogja. Di sisi lain, ia juga tak merasa punya akar yang kuat dengan daerah asalnya, Pati. Kombinasi itu rupanya berpengaruh terhadap caranya membangun semesta dalam karya-karyanya.
“Sebagai perantau tuh nggak benar-benar berpijak gitu loh. Kita juga jauh dari kampung halaman dan mungkin udah nggak terhubung lagi. Tapi di tempat yang baru ini kita juga masih dianggap atau merasa liyan. Maksudnya bukan bagian dari orang sana juga, orang-orang Jogja katakanlah. Jadi kayak mengawang-ngawang,” curhatnya.
“Struggle banget. Padahal banyak karya bagus misal Pram (Pramoedya Ananta Toer) atau Ahmad Tohari yang bagus banget menjelaskan tempat atau latar di novel mereka. Walaupun latar buatan dan nggak benar-benar ada namanya, tapi selalu bisa dicari. Makanya kadang itu juga jadi tantangan buatku, gimana ya biar bisa menuliskan suatu tempat yang memang obvious dan memang bagus,” lanjut Intan.
Saat menulis novela terbarunya, Seakan Bisa Dipisahkan, Intan menyiasati keterbatasan itu dengan menempatkan tokohnya pada ruang yang terbatas. Konflik dan dinamika antarkarakter dipusatkannya di dalam rumah sehingga ia tak perlu menyinggung lokasi geografis tertentu.
“Maka aku menyiasati itu. Misalnya di Seakan Bisa Dipisahkan, latarnya selalu dekat-dekat dari rumah. Maksudnya dari rumah berarti kepentingan-kepentingan tokoh untuk menjelaskan itu ya hanya sekitar rumah aja, soal rumah, soal tetangga, soal lingkungan di sekitarnya aja. Belum ada kepentingan untuk menjelaskan soal kota, tempat dia ada di situ," jelasnya.
Angkat Potret Keluarga Disfungsional di IndonesiaSeakan Bisa Dipisahkan bercerita tentang Sofia, seorang anak perempuan sulung yang memiliki hubungan rumit dengan ibunya. Ibu Sofia selalu mengalah atas sikap ayahnya yang perlahan merusak kenyamanan di rumah. Kebencian mulai tumbuh dalam dirinya, dan puncaknya, ia memilih meninggalkan rumah.
Potret semacam ini mungkin bukan hal pertama yang muncul saat kita mengetikkan kata kunci “keluarga” di kolom pencarian internet, atau ketika menonton tayangan di televisi. Secara default, kata “keluarga” biasanya disandingkan dengan “harmonis”. Namun, pada kenyataannya, kisah seperti keluarga Sofia bukannya sulit ditemukan.
Sebagai anak kelahiran 1990-an yang akrab dengan Abah, Emak, Euis, Ara dan Agil dalam sinetron Keluarga Cemara, Intan justru menduga keluarga di Indonesia justru lebih banyak yang tak rukun. Dugaan itu bermula dari kegemarannya menonton film-film Jepang.
“Saat menulis Seakan Bisa Dipisahkan tahun 2023, aku lagi sering-seringnya nonton film-film Jepang, terutama yang isinya dysfunctional family semua. Seperti film-filmnya Hirokazu Kore-eda. Dan itu membuatku sadar kalau misalkan sebenarnya di Indonesia juga sama aja nggak sih (banyak keluarga disfungsional)?”
Keyakinan itu semakin menguat saat Intan bekerja di sebuah media parenting di Jakarta. Di lingkungan kerja yang dekat dengan tema keluarga itu, ia mendapati dinamika keluarga yang sangat beragam.
“Waktu itu kerja di media parenting, di Asian Parent. Sering lah ya nulis-nulis, liputan tentang keluarga. Nah, terus percampuran di antara itu semua bikin aku menyadari bahwa sebenarnya kalau di Indonesia tuh kayaknya lebih banyak keluarga disfungsionalnya nggak sih daripada keluarga harmonis?” kata Intan.
Saat merefleksikan pengalamannya sendiri, Intan baru menyadari bahwa potret keluarga yang beragam sejatinya sudah jadi tontonan sehari-hari saat ia tumbuh besar di Pati. Dibesarkan oleh kakek dan nenek membuat Intan sering melihat dinamika hubungan sanak familinya. Apalagi, keluarga besar mereka tinggal di lokasi yang berdekatan.
“Kalau di desa, rumah kakek dan nenek itu kan pasti dekat sama rumah anak-anaknya yang lain. Ternyata sebenarnya dari kecil aku sudah biasa mendengar secara dekat dan melihat langsung gimana sebenarnya pola asuh keluarga, hubungan antara ibu dan anak, ayah dan anak, ayah dan ibu, suami dan istri, dari jarak yang sangat dekat,” tuturnya.
Pengalaman dan pengamatan itu menjadi stimulus untuk menulis Seakan Bisa Dipisahkan, yang diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada 2025.
Kusala Sastra Khatulistiwa yang Membuka JalanSebagaimana penulis yang masih merintis, Intan kerap mengirimkan karyanya ke media atau mendaftarkan naskahnya di sejumlah sayembara. Ada dua motivasi yang mendorongnya: pengakuan dan hadiah. Ia membutuhkan keduanya untuk bertahan hidup, apalagi dengan mimpinya saat ini untuk menjadikan penulis sebagai pekerjaan penuh waktu.
Agar mimpi itu bisa terwujud, pertama-tama, karya Intan harus mampu menembus seleksi dewan juri sayembara. Lewat Seakan Bisa Dipisahkan yang merupakan novela keduanya, target itu akhirnya bermuara.
“Aku memang menyikapi karier menulisku dengan lumayan praktikal. Strateginya, aku kayaknya setiap tahun harus menerbitkan buku supaya orang notice dengan kekaryaanku, dan orang bisa melihat perkembangan karyaku. Selain menerbitkan buku tiap tahun dan menulis sebagus mungkin, ada juga rencana untuk bisa dapat penghargaan,” tuturnya.
Pada 20 Juni 2026, Yayasan Richard Oh Kusala Indonesia (YRKI) mengumumkan 10 judul novel yang masuk daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2026. Siapa pun yang berkecimpung atau setidaknya punya ketertarikan di dunia sastra Indonesia tahu bahwa itu adalah salah satu penghargaan sastra paling bergengsi di negeri ini. Tahun ini, kursi kuratorial ditempati oleh Eka Kurniawan, Hasan Aspahani, dan Nezar Patria.
Dan novela Intan ada dalam daftar tersebut, berjajar dengan sejumlah penulis senior.
“Sama sekali nggak mengira, apalagi kan kalau kita lihat daftar longlist-nya namanya keren-keren. Ada beberapa nama senior kayak Nukila Amal, terus Ratih Kumala. Buset, novelku masuk nih?” ungkapnya tak percaya. Sejauh ini, Kusala-lah penghargaan nasional pertama yang pernah diterima Intan.
Saat ditanya soal keuntungan meraih penghargaan sastra terhadap karier seorang penulis seperti dirinya, Intan mengakui bahwa dampak yang diberikan bisa sangat besar.
“Di luar pro-kontranya, penghargaan itu semacam bentuk pengakuan. Pengakuan di sini maksudnya bukan untuk urusan narsistik, tapi untuk membuat orang yakin bahwa, ‘aku akan beli buku dia,’ gitu. Sebagai pembaca yang misalnya nggak tahu sama sekali nama Ruhaeni Intan ini siapa? Tapi begitu ada ada capnya di situ pernah menang sayembara, at least dia akan balik bukunya, baca blurb-nya, dan mungkin mau beli buku itu,” katanya.
Selain Kusala Sastra Khatulistiwa, pada bulan yang sama, Intan menerima kabar gembira lain: Seperti Bisa Dipisahkan meraih Juara 2 Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” #5.
“Aku kayak, buset, ini ada apa ya di bulan Juni ya?” gelaknya, masih sambil setengah tak percaya.
Kini, dari Jogja, Intan terus melanjutkan hidup dengan menulis karya-karya fiksi yang lahir dari pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari dan relasi antarmanusia, sambil ditemani kucing-kucingnya.
“Aku membayangkan karya-karyaku berikutnya itu, kayaknya tetap nggak akan bisa jauh-jauh dari dan tentang perempuan. Tapi aku lagi pengen mengeksplorasi hal lain supaya tetap bisa bikin diriku excited,” pungkasnya.





