Di saat banyak anak muda memilih bekerja di kota, Mila Arlinda (28) justru kembali ke kampung halamannya di Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, untuk membangun usaha peternakan kambing dan domba.
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2020 itu kini sukses mengembangkan usaha peternakan modern bersama suaminya. Dari bisnis tersebut, omzet yang diraih mencapai ratusan juta rupiah.
"Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan," kata Mila dalam keterangan tertulis Fapet UGM yang diterima kumparan, Senin (29/6).
Berawal dari Lima Ekor DombaKetertarikan Mila pada dunia peternakan sebenarnya sudah muncul sejak masih duduk di bangku SMA.
Pada 2014, saat masih kelas XI SMA, ia mulai memelihara lima ekor domba di kandang sederhana. Pengalaman itulah yang kemudian mengantarkannya memilih kuliah di Fakultas Peternakan UGM.
Setelah lulus pada 2020, Mila memutuskan fokus mengembangkan usaha ternaknya.
Ilmu yang diperoleh selama kuliah langsung diterapkan dalam mengelola peternakan.
"Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha," katanya.
Selama kuliah, Mila juga aktif belajar dari dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah.
"Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan," ujarnya.
Belajar dari KegagalanPerjalanan membangun usaha tidak selalu mulus. Mila mengaku sempat kehilangan sejumlah ternak akibat penyakit.
Namun pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga untuk memperbaiki manajemen kesehatan ternaknya.
Ia kini lebih memahami berbagai penyakit yang kerap menyerang kambing dan domba, seperti pneumonia akibat perubahan suhu maupun infeksi lainnya.
Selain menjaga kesehatan ternak, Mila juga serius mengelola pakan. Ia memiliki lahan hijauan seluas sekitar 1,5 hektare dan memanfaatkan pakan tambahan seperti ampas tahu serta kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.
Berbeda dengan sebagian peternak yang mengejar jumlah populasi, Mila lebih memilih fokus pada peningkatan kualitas dan genetika ternak.
Kembangkan Berbagai Lini UsahaBersama sang suami, Sahroni, Mila mengembangkan usaha peternakan bernama Kerabat Ternak 1-3.
Usahanya tidak hanya bergerak di bidang penggemukan kambing dan domba, tetapi juga pembibitan, peternakan perah, hingga penjualan sarana produksi peternakan (sapronak).
Strategi tersebut membuat usahanya terus berkembang.
Kambing unggulan hasil ternaknya dijual dengan harga Rp 16 juta hingga Rp 23 juta per ekor. Sementara kambing lokal dipasarkan dengan harga sekitar Rp 3 juta sampai Rp 5 juta.
Saat musim Idul Adha menjadi puncak penjualan. Pada 2024, omzet usaha ternaknya mencapai Rp 500 juta hingga Rp 700 juta.
Di luar musim kurban, usaha akikah, penjualan bibit, susu, serta sapronak tetap menghasilkan omzet sekitar Rp 50 juta per bulan. Sementara bisnis penjualan sarana produksi peternakan menyumbang omzet sekitar Rp 75 juta.
Aktif Berbagi IlmuSejak 2023, Mila juga aktif membagikan edukasi seputar peternakan melalui media sosial, terutama TikTok.
Lewat konten-kontennya, ia ingin menunjukkan bahwa peternakan modern membutuhkan ilmu pengetahuan sekaligus pengalaman lapangan.
Usaha yang dibangunnya juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar. Selain mempekerjakan dua orang karyawan, Mila membina kelompok peternak di wilayahnya.
"Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak," kata Erma, salah satu anggota kelompok ternak binaan Mila.
Manfaat serupa dirasakan Agung Setiawan, siswa PKL dari SMK Negeri 4 Bojonegoro.
"Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini," ujar Agung.





