Jakarta (ANTARA) - Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin ini, akan melemah seiring antisipasi rilis data ekonomi AS.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran yang sempit di Rp17.900 - Rp17.950 dipengaruhi oleh faktor global antisipasi rilis data ekonomi AS, terutama data NFP (Non-Farm Payroll),” kata dia kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Data NFP diprediksi berkisar 114 ribu, menurun dari 172 ribu dibandingkan bulan sebelumnya.
Sentimen lain berasal dari arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia. Dalam forum European Central Bank Forum (ECB), diperkirakan suku bunga bank-bank sentral dunia akan tinggi dalam waktu lama.
Melihat sentimen dari dalam negeri, pelaku pasar disebut masih menunggu data neraca perdagangan dan data inflasi yang akan dirilis pada Rabu (1/8).
“NFP data AS diperkirakan 114 ribu menurun dari 172 ribu, neraca perdagangan Indonesia masih surplus dengan pencapaian diperkirakan 1,18 miliar dolar AS,” ungkap Rully.
Sementara itu, pada pembukaan perdagangan pagi hari ini, kurs rupiah bergerak menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp17.859 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.922 per dolar AS.
Baca juga: BI perkuat kedaulatan rupiah di perbatasan Entikong
Baca juga: Sentimen terhadap rupiah dipicu harga minyak mentah Brent yang turun
Baca juga: Rupiah pada Senin pagi menguat jadi Rp17.859 per dolar AS
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran yang sempit di Rp17.900 - Rp17.950 dipengaruhi oleh faktor global antisipasi rilis data ekonomi AS, terutama data NFP (Non-Farm Payroll),” kata dia kepada ANTARA di Jakarta, Senin.
Data NFP diprediksi berkisar 114 ribu, menurun dari 172 ribu dibandingkan bulan sebelumnya.
Sentimen lain berasal dari arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia. Dalam forum European Central Bank Forum (ECB), diperkirakan suku bunga bank-bank sentral dunia akan tinggi dalam waktu lama.
Melihat sentimen dari dalam negeri, pelaku pasar disebut masih menunggu data neraca perdagangan dan data inflasi yang akan dirilis pada Rabu (1/8).
“NFP data AS diperkirakan 114 ribu menurun dari 172 ribu, neraca perdagangan Indonesia masih surplus dengan pencapaian diperkirakan 1,18 miliar dolar AS,” ungkap Rully.
Sementara itu, pada pembukaan perdagangan pagi hari ini, kurs rupiah bergerak menguat 63 poin atau 0,35 persen menjadi Rp17.859 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.922 per dolar AS.
Baca juga: BI perkuat kedaulatan rupiah di perbatasan Entikong
Baca juga: Sentimen terhadap rupiah dipicu harga minyak mentah Brent yang turun
Baca juga: Rupiah pada Senin pagi menguat jadi Rp17.859 per dolar AS





