Gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi panggung unjuk gigi bagi para pesepakbola terbaik dari seluruh penjuru dunia. Turnamen sepak bola paling bergengsi antarnegara ini menjadi kesempatan emas bagi tim nasional Maroko untuk kembali mengulang kesuksesan sejarah mereka di level internasional.
Setelah mengejutkan dunia pada edisi sebelumnya, tim berjuluk Singa Atlas tersebut hadir kembali dengan komposisi skuad yang memadukan para pemain senior berpengalaman dan talenta muda berbakat yang siap mengguncang panggung dunia.
Di tengah ketatnya persaingan fase grup, Maroko membutuhkan sosok dinamis di lini tengah yang memiliki kreativitas tinggi serta ketahanan fisik prima untuk memutus aliran bola lawan sekaligus mengawali serangan balik cepat.
Kebutuhan akan gelandang modern yang adaptif dan visioner ini berhasil dipenuhi secara mengejutkan oleh kehadiran seorang pemain remaja yang kini tengah menjadi buah bibir di kalangan pengamat olahraga dunia, yakni Ayyoub Bouaddi.
Perjalanan Ayyoub Bouaddi di Piala Dunia 2026Pada kompetisi akbar tahun ini, sorotan publik tertuju pasca laga sengit antara Maroko melawan Brasil di Grup C Piala Dunia 2026 yang berlangsung pada Minggu, 14 Juni 2026 pagi waktu setempat. Meskipun bintang Brasil, Vinicius Jr, keluar sebagai Man of The Match pada pertandingan tersebut, atensi penonton justru terhipnotis oleh ketenangan luar biasa yang ditunjukkan oleh sang pemain muda yang baru saja menjalani debutnya.
Langkah berani tim kepelatihan Maroko untuk langsung menurunkannya sebagai starter terbukti membuahkan hasil yang sangat positif karena ia mampu mengimbangi dominasi permainan pemain veteran kelas dunia sekelas Casemiro, Raphinha, dan Bruno Guimaraes. Panggung utama sang gelandang belia ini terjadi di MetLife Stadium atau New Jersey Stadium pada laga pembuka Grup C, membuktikan bahwa usia hanyalah sebuah angka berkat ketenangan bermain layaknya pemain veteran di lini tengah The Atlas Lions.
Sebagian sebagian besar skema serangan Maroko dibangun dari kakinya melalui operan pendek maupun panjang yang presisi serta ketenangan tinggi dalam melepaskan diri dari tekanan. Kemampuan intersep yang bersih untuk memotong alur bola musuh secara cerdas dikombinasikan dengan tingkat kepatuhan taktis yang tinggi dalam menjalankan instruksi strategi pelatih membuat sektor tengah Singa Atlas tampil begitu dominan.
Lahir pada 2 Oktober 2007, pemain bertinggi badan 1,85 meter ini memiliki latar belakang yang sangat menarik dalam hal kewarganegaraan sepak bolanya. Pada awal kariernya, ia tercatat pernah memperkuat tim nasional Prancis dari level usia muda U-16 hingga bahkan dipercaya menjabat sebagai kapten tim U-21 pada awal tahun 2026.
Namun, panggilan darah Maroko dari kedua orang tuanya membuat ia mengambil keputusan besar untuk berpindah federasi. Tepat pada 15 Mei 2026, hanya beberapa minggu sebelum sepak mula Piala Dunia 2026 dimulai, federasi sepak bola Maroko mengonfirmasi bahwa FIFA telah menyetujui perpindahan kewarganegaraan sepak bolanya, sebuah keputusan yang sempat mengejutkan publik Prancis karena kehilangan salah satu talenta muda paling berbakat mereka.
Ayyoub melakukan penandatanganan kontrak profesional pertama pada 21 Agustus 2023. Tak lama kemudian, sejarah besar tercipta pada 5 Oktober 2023 ketika ia menjalani debut Eropa dalam laga Liga Konferensi Eropa UEFA melawan KI, menjadikannya sebagai pemain termuda yang pernah bermain di kompetisi klub Eropa pada usia 16 tahun 3 hari.
Gelandang muda ini memecahkan rekor Joël Henry yang telah bertahan sejak 1978 sebagai pemain termuda yang pernah tampil dalam pertandingan resmi untuk Lille. Dominasinya semakin terlihat jelas di kompetisi Ligue 1 ketika ia juga dinobatkan sebagai pemain termuda di liga tersebut sejak 1981, membuktikan secara mutlak bahwa ia telah siap secara fisik dan mental untuk bersaing di level tertinggi sepak bola Prancis bersama para pemain senior lainnya.




