Ekonomi Sirkular dari Secangkir Kopi

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

Gelas plastik sebagai kemasan terasa biasa saat belanja kopi susu gula aren atau minuman dingin lain. Namun, sampah gelas plastik ini akan menambah tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir bila tak dikelola.

Nako Daur Baur Micro Factory memilih mengolah dan memberi kehidupan baru untuk gelas plastik bekas pakai dari outlet-outlet Kopi Nako. Bentuknya beragam mulai daun meja dan kursi, atap, sampai aksesoris seperti manik-manik dan gantungan kunci.

Kendati baru dimulai pertengahan 2024, gerakan daur ulang gelas plastik mulai ditularkan seiring penguatan di Nako Daur Baur Microfactory di Kota Bogor, Jawa Barat. Kolaborasi dengan para pengusaha kopi dilakukan, Nako Daur Baur membuka pintu untuk bekerja sama mengolah gelas plastik kafe atau toko kopi lain. Gerakan ini disebut Circular Coffee Collective yang diluncurkan di Jakarta Coffee Week 2025, awal November 2025.

"Kami baru rilis bareng Toko Kopi Tuku, Anomali Coffee, Brookland, dan Suasanakopi untuk mengajak teman-teman lain dan menceritakan kita bisa buat movement apa saja," tutur Chief Creative and Marketing Officer Kanma Group dan CEO Daur Baur Nako Microfactory Robert Basuki Wanasida kepada wartawan yang hadir dalam program Sustainable Journalists Fellowship 2026 yang diselenggarakan Institut Ilmu Jurnalistik bersama CIMB Niaga, Sabtu (27/6/2026).

Kerja sama serupa untuk membantu mendaur ulang gelas plastik juga terbuka untuk toko kopi lain. Namun, Robert mengakui, kemampuan Nako Daur Baur masih terbatas karena hanya mengolah gelas plastik PP (Polypropilene).


Daur ulang gelas plastik PP dipilih karena bisa dilakukan dengan energi lebih rendah. Sebab, plastik PP sudah meleleh di suhu sekitar 180 derajat Celcius. Sementara, plastik PET (Polyethylene Terephtalate) memerlukan suhu di atas 300 derajat Celcius. Ini membuat Kopi Nako rela mengganti semua gelas plastiknya menjadi berbahan PP, kendati harga gelas berbahan PP lebih mahal.

Daur ulang gelas plastik mulai dipikirkan ketika Nako memiliki sekitar sepuluh toko. Semakin banyak toko, semakin banyak pula sampahnya. Apalagi, bisnis kopi yang ekspansif membuat Kopi Nako yang baru berusia delapan tahun ini, sampai Juni 2026, sudah memiliki 76 cabang.

Pabrik kecil untuk mengolah gelas plastik bekas didirikan Juli 2024. Fokusnya, membuat daun meja dan kursi serta meja pembuat kopi untuk outlet baru berikut.

Di Nako Daur Baur Microfactory, gelas plastik bekas dicacah dan kemudian dipanaskan sampai menjadi lempengan dengan tebal 5 mm, 1 cm, dan 1,8-2 cm.

Lempengan plastik yang sudah dingin kemudian dipotong dengan bentuk yang diinginkan. Setelah finishing, ujung-ujung dihaluskan, barulah daun meja dan kursi dikirim ke outlet-outlet yang akan buka serta kemudian diskrupkan pada rangka besi.


Setiap outlet, menurut Chief Operating Officer Nako Daur Baur Microfactory Rony Rahardian, menggunakan jumlah bahan plastik yang bervariasi. Outlet di Yogyakarta, misalnya, menggunakan enam ton gelas plastik bekas yang disulap menjadi meja, kursi, meja untuk penyiapan minuman, sampai atap toko. Adapun outlet di Surabaya menghabiskan bahan gelas plastik bekas tiga ton.

Namun, sebelum memproses gelas plastik bekas pakai, diperlukan upaya untuk mengumpulkan, memisahkan dari sampah jenis lain, sampai membersihkannya. Kini, proses ini mulai melibatkan konsumen.
Edukasi dilakukan supaya konsumen mau ikut membawa gelas plastik bekas minumannya ke mesin yang disebut "7 second action machine".

Praktiknya, sisa minuman dibuang lalu gelas plastik dicuci dengan air bertekanan tinggi di mesin tersebut. Selanjutnya, gelas maupun tutup gelas yang sudah bersih tinggal dimasukkan dalam keranjang besi yang disiapkan di samping mesin pencuci tadi.


Mesin yang dibuat khusus untuk mengurangi masalah paling dasar dalam daur ulang sampah anorganik itu, menurut Rony, sangat berguna. Sebab, pabrik akan mendapatkan bahan baku yang sudah 80 persen bersih.

Sisa gula dan susu yang tak dibersihkan jelas akan membuat sampah menimbulkan kuman dan masalah bau. "Satu station pencucian (gelas bekas) bisa dihilangkan dengan mesin ini," kata Rony.

Setiap outlet, terutama outlet-outlet baru, sudah memiliki mesin ini. Di outlet lama, Rony melanjutkan, juga sedang dipasangkan alat serupa.
Mesin ini juga mempercepat proses pembersihan gelas plastik bekas.

Apalagi, dalam satu bulan, bisa 3,4 ton gelas plastik yang diproses di Daur Baur. Bila satu kilogram plastik cacah diperoleh dari 118 gelas plastik, berarti yang diproses dalam sebulan setidaknya berkisar 401.200 gelas plastik bekas.


Setelah pemilahan dan pembersihan, gelas plastik bekas dicacah menjadi serpih. Serpih plastik ini kemudian ditata dalam lempeng besi dan dipanaskan. Pewarna juga ditambahkan sesuai pesanan.

Panas dan tekanan memberi bentuk baru pada sisa gelas plastik untuk mencapai ketebalan tertentu. Dari lempengan yang sudah jadi dan sudah dingin, proses berikutnya adalah pemotongan dan penyelesaian (finishing).

Dari proses itu, umumnya ada kelebihan yang tak terpakai menjadi produk. Sisa ini dicacah dan bisa diolah kembali. Namun, karena memerlukan mesin cacah yang lebih kuat, proses ini diserahkan kepada rekanan lain.

"Kami coba seoptimal mungkin meskipun mungkin masih ada cacahan yang terpental (dan menjadi residu), tapi semua terus dibenahi," tambah Rony.

Ke depan, Kopi Nako menyiapkan mekanisme pengembalian gelas plastik dari produk yang dibawa pulang (take away) oleh konsumennya.


Sepanjang Juli sampai akhir 2024, sudah diproses 15 ton gelas plastik. Pada 2025, menurut Ronny, bisa dipastikan jumlah itu bertambah sebab mesin daur ulang yang digunakan sudah menjadi dua.

Namun, belum ada penghitungan total atas produksi pabrik kecil yang ada di Jalan Binamarga II, Bogor sepanjang 2025. Hasil produksinya belum dijual secara komersial. Umumnya, produk digunakan untuk kebutuhan internal. Proses sirkuler pun terjadi.

Narasi daur ulang dan pengolahan sampah yang lebih bertanggung jawab pun diceritakan pada konsumen selain menciptakan produk merchandise berbahan daur ulang seperti tumbler dan jam tangan sampai manik-manik dan gantungan kunci. "Harapannya, melihat bentuk lucu, anak-anak muda terpapar edukasi kami. Termasuk kolaborasi dengan musisi Hindia," tambah Robert.

Baca JugaKopi Nako Yogyakarta, Ruang Baur Gaya Hidup dan Literasi


Rony mengakui, daur ulang gelas plastik dan memproduksi sebagian kebutuhan outlet tidak membuat biaya pendirian outlet lebih rendah. Sebab, proses daur ulang panjang. "Tapi impact-nya lebih besar," tuturnya.

Secara umum, Robert menambahkan, recycle masih seperti barang mewah di Indonesia. Kesadaran untuk ini belum tinggi, tetapi biayanya cukup tinggi.

Kendati mengurangi keuntungan bisnis, ini tetap dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan pada lingkungan sekitar. Karenanya, untuk beberapa jenis sampah yang dihasilkan di Kopi Nako, pemilahan tetap dibiasakan. Selain itu, dijalin pula kerja sama dengan waste management lain sesuai bidang sampah yang digeluti.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Tetapkan 10 Orang Tersangka Demo Ricuh di Surabaya, 6 Positif Narkoba
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Ciputra (CTRA) Tebar Dividen Tunai Rp 667,28 Miliar, Catat Tanggalnya
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
MilkLife Soccer Challenge All Stars 2026 Rampung, 34 Pemain Terpilih Berlaga di Singa Cup
• 23 jam lalubola.com
thumb
Update Ibu di Koja Dilempar Molotov, 2 Pelaku Ditangkap
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Peluang Usaha, Omset Bengkel Motor Bisa Sampai Miliaran
• 6 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.