Gelombang panas juga dirasakan warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Jerman. Suhu di sejumlah kota menyentuh hingga 40 derajat Celcius dan mendorong warga berbondong-bondong mencari pendingin ruangan.
Nicholas Brandon (23), WNI yang sedang mengikuti program Ausbildung di Stuttgart, mengatakan aktivitas sehari-hari tetap berjalan normal meski cuaca sangat menyengat.
"Kerja seperti biasa, olahraga juga tetap. Panas banget, tapi ya sudah disyukuri aja," kata Brandon kepada kumparan, Senin (29/6).
Ia mengatakan suhu tertinggi di Stuttgart mencapai sekitar 40 derajat Celsius.
Brandon mengaku lebih mudah mengalami dehidrasi dibanding biasanya. Meski cuaca ekstrem, ia mengungkap tidak ada kebijakan khusus dari pemerintah.
"Teman-teman di sekolah sempat minta diliburkan, tapi tetap masuk seperti biasa," katanya.
Ia juga mengatakan kamar tempat tinggalnya tidak memiliki pendingin ruangan.
"Rumah sewa kalau mau pasang AC izinnya ribet," ujarnya.
Cerita serupa disampaikan Arif Taufiqudin (30), WNI yang telah menetap di München selama sekitar 12 tahun.
Menurut Arif, panas di Jerman terasa berbeda dengan Indonesia karena udaranya jauh lebih kering.
"Kalau di Indonesia panasnya lembap dan masih banyak angin. Di sini benar-benar kering, mataharinya jauh lebih nusuk," ujarnya.
AC Langka, Kipas Angin Ikut LudesArif mengatakan mayoritas rumah di Jerman memang tidak dilengkapi AC karena dibangun untuk menghadapi musim dingin.
"Rumah di sini hampir 90 persen enggak ada AC. Memang didesain buat menjaga hangat saat musim dingin, bukan menghadapi panas seperti sekarang," ujarnya.
Akibat gelombang panas, permintaan pendingin ruangan melonjak tajam.
"Pas heatwave kemarin, AC sama kipas angin, baik yang portable maupun yang dipasang permanen, habis di hampir semua toko dan website. Bahkan di second market dijual sampai dua kali lipat harganya," kata Arif.
Senada dengan Arif, Akbar Khadafi (29) juga menyebut tetangganya di Munich juga memborong AC.
"Pada panic buying. Beli AC semua orang-orang sini," ucapnya kepada kumparan, Minggu (28/6).
Menurut Dafi, panas yang dirasakan sudah berjalan sekitar satu pekan terakhir.
"Daerahku sampai 38 derajat Celcius minggu kemarin ini. Suhu 30 (derajat) sampai jam 9 malam. Masih terik tuh," jelasnya.
Sementara Brandon mengaku membeli kipas angin agar lebih nyaman dengan pasangannya.
"Kalau sama pasangan sampai beli kipas angin, biar enggak terlalu panas," katanya.
Siapkan Berbagai Cara Hadapi PanasBrandon bercerita tetap minum air putih dalam jumlah banyak untuk menghindari dehidrasi.
"Minum sih tetap seperti biasa, banyak air putih, tapi badan jadi lebih cepat kehilangan cairan karena terus berkeringat," ujarnya.
Di sisi lain, Arif mengatakan warga setempat memiliki berbagai cara untuk mengurangi panas.
"Siang hari semua jendela dan gorden ditutup supaya panas dari luar tidak masuk. Orang-orang pakai kipas atau AC portable, mandi air dingin, berenang di sungai atau danau, menghindari masak terlalu lama, lebih sering makan salad atau makanan dingin, minum yang cukup, dan pakai sunscreen kalau keluar rumah," ujarnya.
Menurut Arif, menjaga tubuh tetap terhidrasi menjadi hal paling penting selama gelombang panas berlangsung.





