Apkesmi sebut lingkungan berperan sebabkan anak terkena anemia

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Tangerang (ANTARA) - Akselerasi Puskesmas Indonesia (Apkesmi) menyebut lingkungan yang tidak mendukung tumbuh kembang dapat meningkatkan risiko anak terkena anemia.

“Permasalahan anemia dan stunting itu kompleks, tidak hanya permasalahan gizi saja, ada permasalahan kesehatan lingkungan, mungkin ada penyakit kronis, ada pola asuh yang salah. Oleh karena itu coba kita melalui edukasi ini kita berikan pemahaman kepada orang tua bagaimana merawat anak-anak supaya kita terbebas dari stunting,” kata Ketua Umum DPP Apkesmi Kusnadi SKM., M.Kes dalam konferensi pers di Tangerang, Senin.

Kusnadi menyoroti minimnya edukasi mengenai asupan makanan bergizi masih menjadi salah satu tantangan dalam mengentaskan masalah anemia dan stunting di Indonesia.

Baca juga: Apkesmi perkuat penanganan anemia lewat Puskesmas Siap SEDIA

Dia mencontohkan Indonesia sebagai negara bahari yang besar diberkati dengan aneka macam produk laut yang mengandung protein hewani seperti ikan. Namun di daerah pesisir, ikan-ikan tersebut justru dijual kembali untuk membeli mi instan yang diberikan pada anak-anak.

Di sisi lain kurangnya perhatian terhadap dampak serius dari penyakit kronis atau masalah penyerapan zat besi yang diderita oleh anak-anak menjadi momok masalah berikutnya. Maka dari itu, dia menilai keluarga di Indonesia masih membutuhkan pendampingan dan edukasi yang masif mengenai bahaya anemia pada anak.

Menindaklanjuti situasi itu, Apkesmi bekerja sama dengan Danone Indonesia menghadirkan Program Puskesmas Siap SEDIA (Skrining, Edukasi, Intervensi, cegah Anemia dan Stunting) sebagai upaya memperkuat peran puskesmas dalam upaya promotif dan preventif, khususnya pencegahan anemia dan stunting pada ibu dan anak.

Baca juga: Putri Titian ajak orang tua perhatikan gizi anak agar tumbuh optimal

Program ini mengedepankan pendekatan terintegrasi melalui skrining, edukasi, dan intervensi untuk mendukung deteksi dini serta penanganan yang lebih berkelanjutan di tingkat komunitas.

Dia mengatakan program itu berbeda dengan tata laksana melacak anemia lewat pemeriksaan hemoglobin. Melainkan mengukur faktor risiko sebelum anak jatuh pada kondisi anemia.

Setelah faktor risiko ditentukan, petugas puskesmas akan melakukan pemeriksaan dengan lebih mendetail. Anak-anak yang diketahui memiliki faktor risiko berupa penyakit kronis nantinya akan dirujuk kepada dokter spesialis yang sesuai.

“Jadi untuk anak-anak yang mengalami faktor risiko, kita akan menuju ke dokter. Kalau dokter ternyata mendapati ada beberapa masalah, misalnya saja ternyata anak ini mendadak penyakit kronis yang berdampak kepada penyerapan zat besi tadi, maka akan dirujuk kembali ke dokter spesialis,” katanya.

Baca juga: Asupan gizi dan anemia berkaitan dengan kemampuan kognitif anak

Baca juga: Kenali gejala anemia yang pengaruhi perkembangan saraf dan otak anak


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Terungkapnya Tiga Kasus Penyekapan di Bandung-Jakarta Dalam Sepekan Terakhir
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
7 Pejabat Fungsional Mahkamah Agung Dilantik | MA NEWS
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Potret Pesawat Jatuh Vertikal ke Daerah Padat Penduduk, Ada Yang Tewas
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hasil Pertandingan Piala Dunia: Kanada Melangkah ke 16 Besar
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
5 Calon Manajer Kopdes Meninggal, Anggota DPR: Evaluasi Seluruh Rangkaian Pelatihan
• 22 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.