Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuka pameran The Hungarian-Indonesian Exhibition “Threads of Wax: A Cultural Confluence of Indonesian and Hungarian Heritage” di Museum Seni Rupa dan Keramik, Kota Tua, Jakarta, Senin (29/6).
Pameran tersebut menjadi bagian dari perayaan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta sekaligus memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Hungaria.
Dalam sambutannya, Pramono mengatakan pameran tersebut mencerminkan eratnya hubungan persahabatan kedua negara yang telah terjalin selama puluhan tahun.
“Lebih dari itu, pameran ini mencerminkan semangat persahabatan, kreativitas, dan kolaborasi yang menghubungkan kedua bangsa kita,” kata Pramono dalam sambutannya.
Pram menuturkan, hubungan Jakarta dan Budapest selama ini tidak hanya terjalin melalui diplomasi antarpemerintah, tetapi juga melalui kerja sama sister city yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Menurutnya, berbagai program pertukaran budaya dan kepemudaan telah memperkuat hubungan kedua kota tersebut. Karena itu, Pramono berharap kerja sama dapat diperluas ke sektor lain.
“Saya berharap pameran ini akan semakin memperkuat kemitraan antara Jakarta dan Budapest, serta antara Indonesia dan Hungaria, tidak hanya dalam bidang seni dan budaya, tetapi juga dalam pendidikan, ekonomi kreatif, inovasi perkotaan, dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Usai membuka pameran, Pramono mengapresiasi kolaborasi Kedutaan Besar Hungaria di Indonesia dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadirkan karya batik yang memadukan motif khas Indonesia dan Hungaria.
Pram mengaku terkesan dengan hasil karya tersebut yang memadukan motif batik dari Lasem, Yogyakarta, Solo, hingga Pekalongan dengan desain sulaman khas Hungaria.
“Tadi saya melihat sendiri hasilnya yang di luar dugaan. Mungkin baru pertama kali saya melihat secara langsung batik yang dibuat oleh desainer dari Hungaria dengan warna yang begitu colorful, kuat, menampilkan khas batik Indonesia, terutama Lasem dan Jogja, tetapi dipadukan dengan bunga-bunga khas Hungaria,” katanya.
Pramono juga menyampaikan apresiasi kepada Duta Besar Hungaria untuk Indonesia Lilla Karsay yang akan mengakhiri masa tugasnya setelah hampir 10 tahun bertugas di Indonesia.
“Hari ini sebenarnya hari terakhir buat Ibu Dubes karena sebentar lagi beliau akan kembali ke Budapest. Saya yakin beliau akan kehilangan suasana Jakarta. Kalau berkunjung ke Indonesia, jangan lupa ke Jakarta,” ucapnya.
Sementara itu, Duta Besar Hungaria untuk Indonesia Lilla Karsay mengatakan pameran “Threads of Wax” berawal dari gagasan sederhana untuk menggabungkan motif sulaman rakyat Hungaria dengan seni batik Indonesia.
Menurut Lilla, proyek tersebut menjadi penutup masa tugasnya sebagai Duta Besar Hungaria di Indonesia sekaligus menjadi simbol persahabatan kedua negara.
“Dengan menyatukan dua tradisi tekstil yang diakui UNESCO, yaitu batik Indonesia dan sulaman cerita rakyat Hungaria, kita menunjukkan bahwa tradisi bukanlah peninggalan masa lalu yang statis, melainkan ekspresi hidup yang terus berkembang melalui dialog dan saling pengertian,” kata Lilla.
Senada, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Denis Chaibi menilai kerja sama budaya merupakan salah satu cara paling efektif untuk mempererat hubungan antarmasyarakat.
Menurut Denis, batik merupakan representasi identitas Indonesia yang mampu menjadi jembatan kolaborasi budaya dengan negara-negara Eropa.
“Batik adalah jiwa Indonesia yang dijalin ke dalam kain. Yang kami inginkan adalah memadukan kain ini dengan kain Eropa untuk membuat sebuah rajutan global yang lebih kuat, lebih penuh warna, dan mendunia,” kata Denis.
Pram Buka Peluang LPDP DKI ke Budapest
Dalam kesempatan yang sama, Pramono mengatakan hubungan Jakarta dan Budapest yang selama ini terjalin baik membuka peluang bagi pengembangan program LPDP DKI bagi mahasiswa Jakarta untuk menempuh pendidikan di Hungaria.
Menurutnya, selain kerja sama di bidang seni, budaya, dan pertukaran pemuda, Budapest juga menjadi salah satu tujuan studi yang potensial karena telah banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di sana.
“Hungaria atau Budapest dan Jakarta ini selama ini hubungannya cukup baik, termasuk di bidang kesenian, kultur, budaya, pertukaran pemuda,” ujar Pram.
“Kalau kemudian ada pendidikan yang ingin sekolah di Hungaria tentunya salah satu tempat yang saya yakin akan baik, karena memang mahasiswa kita di Hungaria, di Budapest, juga cukup besar,” lanjutnya.





