Bisnis.com, JAKARTA — PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR) mempercepat transformasi bisnis ke sektor energi baru dan terbarukan (EBT) dengan menyiapkan sejumlah proyek pembangkit listrik dan pengembangan bisnis karbon.
Perseroan saat ini memiliki pipeline proyek EBT dengan kapasitas indikatif mencapai 350 megawatt (MW).
Direktur Utama FUTR Anggara Suryawan mengatakan perseroan telah bertransformasi dari perusahaan yang sebelumnya bergerak di sektor kreatif dan konsultasi menjadi perusahaan yang berfokus pada pengembangan energi hijau.
Menurutnya, pengembangan bisnis baru akan dijalankan melalui anak usaha yang mencakup pembangkit listrik panas bumi (geothermal), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga minihidro, perdagangan kredit karbon (carbon credit), hingga layanan efisiensi energi.
"Bisnis baru ini akan dilakukan melalui anak usaha, termasuk layanan efisiensi energi," ujar Anggara dalam Paparan Publik, Senin (29/6/2026).
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, FUTR juga memperkuat kemitraan dengan mitra lokal maupun internasional guna mempercepat transfer teknologi dan meningkatkan efisiensi proyek.
Baca Juga
- Ramai-ramai Garap EBT Panas Bumi dari DSSA, FUTR, hingga ARCI
- Adu Kinerja Harga Saham Emiten EBT Newbie, dari DSSA hingga FUTR Cs
- Vincent Ie Kok Hui Tambah Muatan di Saham Futura Energi (FUTR) 7,88 Juta Lembar
"Perseroan secara aktif membuka peluang kerja sama dengan mitra strategis untuk mempercepat terwujudnya rencana bisnis," katanya.
Menurut Anggara, langkah tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong transisi energi menuju target Net Zero Emissions (NZE) 2060.
Perseroan juga melihat peluang dari implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang memberikan ruang lebih besar bagi pengembangan pembangkit energi terbarukan.
Salah satu proyek yang tengah dikembangkan adalah pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 130 MW di Bali. Pengembangan proyek tersebut dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Zhejiang Energy PV-Tech Co., Ltd. dan PT Hypec International.
Selain itu, pemegang saham pengendali FUTR, PT Aurora Dhana Nusantara, telah memiliki aset pembangkit listrik panas bumi melalui anak usahanya, PT Sejahtera Alam Energy (SAE).
Anggara menjelaskan SAE telah mengantongi perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) dengan kapasitas 220 MW dan nilai investasi mencapai US$80 juta.
Di luar proyek yang telah berjalan, FUTR juga tengah mengikuti sejumlah proses tender dan penjajakan proyek energi baru terbarukan.
Untuk pembangkit panas bumi, perseroan membidik proyek dengan kapasitas sekitar 100 MW. Sementara itu, proyek PLTS yang tengah dijajaki memiliki kapasitas 100 MW dan proyek pembangkit listrik tenaga minihidro mencapai sekitar 150 MW.
Dengan pipeline tersebut, total kapasitas proyek yang sedang dijajaki mencapai sekitar 350 MW.
Manajemen menilai diversifikasi ke sektor energi hijau akan menjadi sumber pertumbuhan baru perseroan dalam jangka panjang, sekaligus memperkuat posisi FUTR di tengah meningkatnya kebutuhan investasi pada proyek-proyek energi bersih di Indonesia.

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6522980/original/001180400_1779380160-mariano_p.jpg)



