RI Dihantui Kutukan Sumber Daya Alam, Ekonom Indef: Pembenahan Tata Kelola Harus jadi Prioritas

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia berisiko mengalami kutukan sumber daya alam apabila pembenahan tata kelola dan kelembagaan tidak menjadi prioritas. 

Ekonom senior The Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J. Rachbini menilai kualitas institusi menjadi faktor utama yang menentukan apakah kekayaan komoditas akan menghasilkan kesejahteraan atau justru memperburuk perekonomian.

Menurut Didik, sumber daya alam tidak secara inheren menjadi berkah maupun kutukan. Dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi bergantung pada kualitas institusi, sistem politik, serta efektivitas tata kelola yang mengelola kekayaan alam tersebut.

"Masalah yang harus dibenahi bukan sumber daya alamnya, yaitu kebijakannya dan sistem ekonomi politiknya," kata Didik dalam diskusi publik bertajuk Sumber Daya Alam: Berkah atau Kutukan? pada Senin (29/6/2026).

Dia mengatakan Indonesia perlu belajar dari pengalaman sejumlah negara. Norwegia, Australia dan Kanada berhasil mengubah kekayaan sumber daya alam menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi melalui institusi yang kuat dan kebijakan yang konsisten. 

Sebaliknya, Venezuela dan Nigeria menjadi contoh kegagalan pengelolaan sumber daya alam akibat lemahnya tata kelola, tingginya korupsi, dan minimnya diversifikasi ekonomi.

Baca Juga

  • Mensesneg: Perlu Koordinasi Antar K/L Jaga Kinerja Ekonomi di Tengah Dinamika Geopolitik
  • Anak Buah Luhut di DEN Hingga Bos BI Lapor ke Waka DPR Soal Permasalahan Ekonomi
  • BPS Sebut Data UMKM hingga Ekonomi Rumah Tangga Jadi Fokus Sensus 2026

Didik menilai Indonesia masih berada di persimpangan. Sebagai negara dengan cadangan nikel terbesar di dunia serta produsen utama minyak sawit dan berbagai komoditas mineral, Indonesia memiliki peluang besar memperoleh manfaat ekonomi. Namun, peluang tersebut dapat berubah menjadi beban apabila tata kelola tidak diperbaiki.

Dia mengutip hasil riset ekonom Indef, Nailul Farih, yang menunjukkan hubungan antara sumber daya alam dan pertumbuhan ekonomi bersifat kondisional. Dalam riset tersebut, sumber daya alam memberikan dampak positif di negara-negara berpendapatan tinggi dan menengah yang memiliki institusi relatif kuat. 

Sebaliknya, negara berpendapatan rendah justru lebih rentan mengalami fenomena resource curse atau kutukan sumber daya.

Menurut Didik, teori New Institutional Economics menjelaskan bahwa kualitas institusi merupakan faktor yang menentukan keberhasilan pengelolaan sumber daya alam. Perlindungan hak kepemilikan, institusi politik yang mendukung dunia usaha, tata kelola yang efektif, serta birokrasi yang akuntabel menjadi fondasi agar kekayaan alam dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dia mengingatkan pendapatan besar dari sektor sumber daya alam justru dapat memicu praktik perburuan rente, korupsi, hingga konflik politik apabila pengelolaannya tidak transparan. Dalam kondisi tersebut, kekayaan alam tidak lagi menjadi modal pembangunan, melainkan memperkuat kepentingan elite dan melemahkan produktivitas ekonomi.

"Indonesia ini ada di simpang jalan antara berkah dan kutukan. Sekarang saya kira Indonesia memerlukan kualitas politik yang baik, ada check and balance, penggunaan anggaran yang transparan," ujarnya.

Didik menegaskan sumber daya alam bukan takdir yang otomatis membawa kemakmuran. Menurutnya, keberhasilan suatu negara lebih ditentukan oleh kemampuannya membangun institusi yang berkualitas daripada besarnya cadangan sumber daya alam yang dimiliki.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kecelakaan Maut di Jalan Cut Mutia Bekasi, Truk Diduga Rem Blong
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
Sinergi Tiga Lembaga, Satu Misi: Bank Indonesia, Pemprov Jatim, dan OJK Bersatu Dorong Investasi Berkelanjutan
• 11 jam laluerabaru.net
thumb
Sakit Hati jadi Motif Pelempar Bom Molotov di Koja
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Amankan Sopir Truk Penyebab Kecelakaan Maut di Bekasi
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Gol Injury Time Eustáquio Antar Kanada ke 16 Besar Piala Dunia 2026
• 20 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.