tvOnenews.com - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja. Platform digital membuka ruang untuk belajar, berinteraksi, hingga menyalurkan kreativitas.
Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat ancaman yang kerap luput dari perhatian orang tua, yakni child grooming, sebuah bentuk kekerasan terhadap anak yang dilakukan secara halus, bertahap, dan sering kali tidak disadari hingga terlambat.
Berbeda dengan kekerasan seksual yang identik dengan tindakan fisik, child grooming diawali dengan manipulasi psikologis.
Pelaku biasanya membangun hubungan emosional dengan korban melalui perhatian berlebih, hadiah, pujian, hingga berpura-pura menjadi teman sebaya.
Ketika kepercayaan korban telah terbentuk, pelaku mulai mengisolasi anak dari keluarga, meminta korban menyimpan rahasia, hingga melakukan eksploitasi seksual secara langsung maupun melalui media digital.
Fenomena ini menjadi perhatian dunia. United Nations Children's Fund (UNICEF)** menyebut perkembangan teknologi digital membuat risiko eksploitasi seksual anak secara daring semakin meningkat.
Sementara WeProtect Global Alliance, organisasi internasional yang fokus pada perlindungan anak di internet, mencatat jutaan anak di seluruh dunia menghadapi risiko eksploitasi seksual online setiap tahun.
Di Indonesia sendiri, meningkatnya laporan kekerasan terhadap anak menunjukkan pentingnya literasi digital, pengawasan orang tua, serta keberanian masyarakat melaporkan dugaan child grooming sejak dini.
Apa Itu Child Grooming? Kenali Modus yang Dilakukan Bertahap
Child grooming adalah proses ketika seseorang membangun hubungan, kepercayaan, dan kedekatan emosional dengan anak dengan tujuan melakukan eksploitasi atau kekerasan seksual.
Berbeda dari tindak kekerasan yang berlangsung secara tiba-tiba, grooming dilakukan secara perlahan sehingga korban sering kali tidak menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Menurut National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC) di Inggris, grooming dapat berlangsung secara langsung maupun melalui internet.
Pelaku tidak selalu orang asing. Mereka bisa berasal dari lingkungan terdekat, seperti kerabat, tetangga, guru, pelatih olahraga, hingga seseorang yang baru dikenal melalui media sosial atau permainan daring.
Dikutip dari artikel National Geographic berjudul Child Grooming: Definisi, Ciri-ciri Korban dan Pelaku, serta Cara Mencegahnya, pelaku bukan hanya mendekati anak, tetapi juga berusaha mendapatkan kepercayaan keluarga maupun lingkungan sekitar.




