Pemerintah Israel mengakui bahwa rencana operasi militer besar-besaran terhadap Hizbullah di Lebanon akhirnya dibatasi akibat tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang saat itu memprioritaskan jalannya negosiasi dengan Iran.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan apabila bukan karena tekanan dari Washington, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebenarnya telah menyiapkan serangan udara berskala besar yang diyakini mampu melumpuhkan Hizbullah secara menyeluruh.
Baca Juga: Datang Tiba-tiba, Inilah Sosok Pihak Intervensi Sidang Praperadilan Roy Suryo di Kasus Ijazah Jokowi
Menurut Katz, militer Israel sebelumnya telah merancang kampanye udara masif terhadap berbagai target Hizbullah di Lebanon. Namun rencana itu tidak dapat dijalankan karena Amerika Serikat menghubungkan situasi di Lebanon dengan proses diplomasi yang sedang berlangsung bersama Iran.
"Seandainya tidak ada tekanan Amerika terhadap Israel, IDF akan menyebabkan keruntuhan Hizbullah di Lebanon," ujar Katz, dikutip Selasa (30/6).
Ia menjelaskan bahwa Donald Trump saat itu mengaitkan perkembangan di Lebanon dengan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Akibatnya, Israel harus membatasi operasi militernya di Beirut dan hanya diperbolehkan melakukan serangan yang bersifat lebih terbatas.
"Saya menyesal dengan keterkaitan itu, tetapi itu adalah kepentingan Amerika. Mereka sangat ingin memajukan kemungkinan negosiasi dengan Iran," kata Katz.
Menurutnya, ketika Israel memutuskan menjadi mitra strategis Amerika Serikat, terdapat keuntungan yang diperoleh tetapi di sisi lain juga muncul berbagai pembatasan terhadap kebijakan militer Israel.
Katz bahkan mengungkapkan bahwa Trump memberikan tekanan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melalui serangkaian komunikasi menjelang penandatanganan nota kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.
Akibat kondisi tersebut, Israel akhirnya mengubah strategi militernya atau beralih ke "Plan B". Strategi baru itu difokuskan pada operasi di wilayah utara Sungai Litani serta perluasan zona keamanan di Lebanon selatan dengan persetujuan Amerika Serikat.
Meski menahan operasi besar, Israel menegaskan tetap akan bertindak jika Iran ikut campur secara langsung. Katz mengatakan IDF telah menyiapkan berbagai target di Iran apabila Teheran menyerang Israel menggunakan rudal balistik sebagai respons atas operasi di Lebanon.
"Bahkan itu bisa terjadi dalam dua hari. Kami memiliki target untuk diserang di Iran dan IDF siap, tetapi kami tidak akan mengganggu arah kebijakan Presiden Amerika Serikat terhadap Iran," ujarnya.
Di saat yang sama, operasi militer Israel terhadap Hizbullah tetap berlangsung. Militer Israel menyatakan telah melancarkan serangan udara terhadap tiga pusat komando Hizbullah di Lebanon selatan sebagai respons atas serangan kelompok tersebut terhadap pasukan Israel.
Baca Juga: Iran Klaim Amerika Serikat Telah Rusak Piala Dunia 2026: Semua Ini Bencana
Pengakuan Katz memperlihatkan bahwa dinamika hubungan Israel dan Amerika Serikat tidak hanya dipengaruhi kepentingan keamanan di Lebanon, tetapi juga strategi diplomatik Washington dalam membuka ruang negosiasi dengan Iran. Dengan kata lain, ambisi militer Israel terhadap Hizbullah harus disesuaikan dengan prioritas geopolitik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.





