Los Angeles (ANTARA) - Pelatih tim nasional Afrika Selatan (Afsel) Hugo Broos pada Minggu (28/6) mengaku kecewa setelah tim asuhannya tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia, tetapi tetap bangga pada mereka setelah berhasil lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya.
Perjalanan bersejarah Afsel berakhir dengan kekalahan 0-1 dari Kanada di Los Angeles Stadium setelah gelandang Stephen Eustaquio mencetak gol penentu kemenangan pada periode tambahan waktu.
"Ini pertandingan yang sulit, tetapi saya sudah tahu karena saya telah menganalisis lawan. Mereka memiliki kekuatan dan kecepatan. Kami berharap menemukan cara untuk menghadapinya, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian," ungkap Broos dalam konferensi pers pascapertandingan. "
Broos, yang berusia 74 tahun 79 hari, menjadi pelatih tertua yang memimpin sebuah tim dalam pertandingan fase gugur Piala Dunia FIFA.
"Anda bisa melihat beberapa situasi dalam pertandingan di mana kami tidak mampu mengimbangi, dan dalam duel satu lawan satu, kami terkadang kalah, atau hampir selalu kalah. Kami harus meningkatkan kekuatan dan kecepatan di Afsel," katanya.
"Saya tidak memiliki keluhan apa pun mengenai mentalitas, tetapi saya rasa kami bisa mengenang turnamen ini dengan kebahagiaan karena kami berhasil mencapai babak 32 besar. Saya rasa tidak ada yang berekspektasi begitu sebelum turnamen dimulai."
Afsel bangkit dari kekalahan 0-2 pada laga pembuka melawan tuan rumah, Meksiko, kemudian bermain imbang 1-1 dengan Ceko sebelum mengalahkan Korea Selatan dengan skor 1-0, finis sebagai runner-up Grup A dan lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
"Saat ini rasanya menyakitkan karena kami ingin menang hari ini. Kekalahan ini mengecewakan, dan suasana di ruang ganti sekarang sangat sunyi," ujar Broos.
"Namun, di sisi lain, kami harus jujur. Kami tampil sangat baik di Piala Dunia pertama kami dalam 16 tahun. Kami berhasil lolos ke babak 32 besar."
Perjalanan bersejarah Afsel berakhir dengan kekalahan 0-1 dari Kanada di Los Angeles Stadium setelah gelandang Stephen Eustaquio mencetak gol penentu kemenangan pada periode tambahan waktu.
"Ini pertandingan yang sulit, tetapi saya sudah tahu karena saya telah menganalisis lawan. Mereka memiliki kekuatan dan kecepatan. Kami berharap menemukan cara untuk menghadapinya, tetapi kenyataannya tidak selalu demikian," ungkap Broos dalam konferensi pers pascapertandingan. "
Broos, yang berusia 74 tahun 79 hari, menjadi pelatih tertua yang memimpin sebuah tim dalam pertandingan fase gugur Piala Dunia FIFA.
"Anda bisa melihat beberapa situasi dalam pertandingan di mana kami tidak mampu mengimbangi, dan dalam duel satu lawan satu, kami terkadang kalah, atau hampir selalu kalah. Kami harus meningkatkan kekuatan dan kecepatan di Afsel," katanya.
"Saya tidak memiliki keluhan apa pun mengenai mentalitas, tetapi saya rasa kami bisa mengenang turnamen ini dengan kebahagiaan karena kami berhasil mencapai babak 32 besar. Saya rasa tidak ada yang berekspektasi begitu sebelum turnamen dimulai."
Afsel bangkit dari kekalahan 0-2 pada laga pembuka melawan tuan rumah, Meksiko, kemudian bermain imbang 1-1 dengan Ceko sebelum mengalahkan Korea Selatan dengan skor 1-0, finis sebagai runner-up Grup A dan lolos ke fase gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
"Saat ini rasanya menyakitkan karena kami ingin menang hari ini. Kekalahan ini mengecewakan, dan suasana di ruang ganti sekarang sangat sunyi," ujar Broos.
"Namun, di sisi lain, kami harus jujur. Kami tampil sangat baik di Piala Dunia pertama kami dalam 16 tahun. Kami berhasil lolos ke babak 32 besar."





